Mengapa Fungsi Baitul Maal di Setiap BMT Tidak Harus Sama?

Beberapa waktu terakhir, saya sering mendengar perbandingan seperti ini.

“Baitul Maal di BMT A bisa menghimpun miliaran rupiah.”

“Baitul Maal di BMT B sudah mandiri.”

“Baitul Maal di sana punya banyak program.”

Lalu muncul harapan.

“Baitul Maal kita juga harus seperti itu.”

Sekilas, harapan tersebut terdengar baik.

Namun, apakah membandingkan semua Baitul Maal dengan ukuran yang sama merupakan cara yang tepat?

Menurut saya, belum tentu.


Apakah Semua BMT Sama?

Mari kita lihat kondisi setiap BMT.

Ada BMT yang baru berkembang.

Asetnya masih belasan miliar rupiah.

Cabangnya sedikit.

SDM terbatas.

Anggaran terbatas.

Ada pula BMT yang telah mengelola aset ratusan miliar rupiah.

Memiliki banyak cabang.

SDM lengkap.

Teknologi lebih baik.

Jaringan lebih luas.

Kalau kondisi BMT saja berbeda…

Mengapa kita berharap fungsi Baitul Maalnya harus sama?


Sebelum Membahas Target, Jawab Dulu Pertanyaan Ini

Menurut saya, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada membahas target penghimpunan.

Mengapa BMT membentuk Baitul Maal?

Pertanyaan ini terdengar sederhana.

Namun justru sering tidak pernah benar-benar dibahas.

Kalau sepuluh orang pengurus diminta menjawab, bisa jadi muncul sepuluh jawaban yang berbeda.

Ada yang menjawab:

Untuk menghimpun zakat.

Ada yang menjawab:

Untuk membantu masyarakat miskin.

Ada yang menjawab:

Untuk dakwah.

Ada yang menjawab:

Untuk mencari donatur.

Ada yang menjawab:

Untuk meningkatkan citra BMT.

Ada pula yang menjawab:

Agar BMT memiliki fungsi sosial.

Kalau fungsi dasarnya saja belum disepakati…

Bagaimana mungkin targetnya bisa disepakati?


Divisi atau Organisasi?

Di sinilah letak persoalan yang menurut saya sering terlewat.

Apakah Baitul Maal diposisikan sebagai organisasi yang berdiri sendiri, atau sebagai divisi di dalam BMT?

Kalau diposisikan sebagai organisasi yang berdiri sendiri, maka wajar jika target utamanya adalah membangun lembaga yang mandiri secara finansial.

Tetapi jika diposisikan sebagai salah satu divisi dalam BMT, maka cara menilainya tentu berbeda.

Sama seperti kita tidak meminta HRD membiayai gajinya sendiri.

Baca Juga  Bolehkah Zakat untuk Anak Yatim?

Kita juga tidak meminta bagian operasional menghasilkan laba untuk membayar seluruh biaya operasionalnya.

Karena sejak awal fungsi mereka memang bukan itu.

Mereka dibentuk untuk memperkuat organisasi secara keseluruhan.


Fungsi Baitul Maal Bisa Berbeda

Menurut saya, justru tidak semua Baitul Maal harus memiliki fungsi yang sama.

Semuanya bergantung pada tahap perkembangan BMT.

Misalnya.

Tahap Awal

Baitul Maal berfungsi sebagai unit layanan zakat.

Fokusnya:

  • menerima zakat, infak, dan sedekah,
  • menyalurkan kepada penerima manfaat,
  • memastikan administrasi dan pelaporan berjalan baik.

Pada tahap ini, penghimpunan mungkin belum menjadi fokus utama.


Tahap Berkembang

Baitul Maal mulai membangun kegiatan fundraising.

Menjalin kemitraan.

Mengembangkan program.

Mencari donatur.

Membangun kepercayaan masyarakat.

Di tahap ini, target penghimpunan mulai meningkat.


Tahap Mapan

Baitul Maal bukan lagi sekadar menghimpun dan menyalurkan dana.

Ia menjadi bagian dari strategi BMT.

Program-program sosialnya mampu:

  • memperkuat citra BMT,
  • membangun kepercayaan masyarakat,
  • memperluas jaringan,
  • meningkatkan loyalitas anggota,
  • membuka peluang kerja sama,
  • melahirkan calon anggota baru,
  • bahkan menjadi pintu masuk bagi berbagai program pemberdayaan.

Pada tahap ini, nilai yang dihasilkan jauh lebih besar daripada sekadar angka penghimpunan.


Jangan Meniru Hasil, Tetapi Pahami Prosesnya

Kesalahan yang sering terjadi adalah melihat hasil organisasi lain, tanpa melihat bagaimana mereka mencapainya.

Kita melihat penghimpunannya.

Tetapi tidak melihat jumlah SDM-nya.

Kita melihat banyaknya program.

Tetapi tidak melihat anggarannya.

Kita melihat besarnya dampak.

Tetapi tidak melihat sistem yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

Akhirnya yang ditiru hanyalah hasil akhirnya.

Padahal yang membuat hasil itu tercapai adalah proses dan kapasitas organisasinya.


Fungsi Menentukan Target

Dalam manajemen, urutannya seharusnya sederhana.

Pertama, tentukan dulu fungsi divisinya.

Kedua, tentukan kontribusi yang diharapkan terhadap organisasi.

Ketiga, tentukan indikator keberhasilannya.

Keempat, siapkan SDM, anggaran, dan sistem pendukungnya.

Barulah kemudian menetapkan target.

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya.

Target ditentukan terlebih dahulu.

Baru kemudian semua orang diminta menyesuaikan diri.

Baca Juga  Tips Memilih Layanan Sedekah Supaya Tidak Tertipu

Tidak Ada Rumus yang Berlaku untuk Semua

BMT yang baru berkembang tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan BMT yang sudah besar.

Baitul Maal yang dikelola satu orang tentu tidak dapat diperlakukan sama dengan Baitul Maal yang memiliki direktur, fundraiser, tim program, keuangan, media, dan relawan.

Karena itu, menyamakan fungsi, target, dan ukuran keberhasilan di semua BMT justru berpotensi melahirkan penilaian yang tidak adil.


Yang Terpenting Bukan Sama, Tetapi Tepat

Tujuan akhirnya bukan agar semua Baitul Maal menjadi sama.

Melainkan agar setiap Baitul Maal menjalankan fungsi yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan BMT tempat ia berada.

BMT yang masih kecil mungkin membutuhkan Baitul Maal yang fokus membangun kepercayaan masyarakat.

BMT yang sedang berkembang mungkin membutuhkan Baitul Maal yang mulai memperkuat fundraising.

Sedangkan BMT yang sudah besar mungkin membutuhkan Baitul Maal yang menjadi penggerak strategi sosial, pemberdayaan, dan pengembangan ekosistem.

Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk.

Yang ada hanyalah fungsi yang sesuai atau tidak sesuai dengan kondisi organisasinya.


Ketika membahas Baitul Maal, sering kali perhatian kita langsung tertuju pada angka penghimpunan.

Padahal sebelum membicarakan angka, ada satu hal yang harus disepakati terlebih dahulu.

Apa sebenarnya fungsi Baitul Maal di dalam BMT?

Kalau pertanyaan itu belum dijawab dengan jelas, maka pembahasan tentang target, SDM, anggaran, bahkan apakah Baitul Maal dianggap “disubsidi” atau “mandiri”, akan terus menjadi perdebatan yang tidak pernah selesai.

Karena pada akhirnya, fungsi menentukan peran.

Peran menentukan kontribusi.

Kontribusi menentukan ukuran keberhasilan.

Dan dari situlah target yang realistis seharusnya disusun.

Bukan semua Baitul Maal harus menjadi seperti Baitul Maal yang besar. Yang jauh lebih penting adalah setiap BMT mampu merancang fungsi Baitul Maalnya sesuai dengan tahap perkembangan organisasinya, lalu menyelaraskan target, SDM, anggaran, dan ukuran keberhasilannya dengan fungsi tersebut.