Tetap Murni di Tengah Dunia yang Tidak Ideal

Kita hidup di zaman yang tidak ideal.

Kalimat ini bukan ungkapan pesimisme. Ia adalah pengakuan terhadap kenyataan.

Ekonomi tidak selalu berpihak kepada rakyat. Dunia kerja semakin kompetitif. Teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk beradaptasi. Media sosial lebih sering menghadiahi sensasi daripada substansi. Integritas tidak selalu dihargai, sementara manipulasi kerap dianggap kecerdikan.

Namun sesungguhnya, persoalan terbesar bukanlah bahwa dunia ini tidak ideal.

Persoalan terbesar adalah ketika manusia mulai menganggap ketidakidealan itu sebagai sesuatu yang wajar.


Bahaya Terbesar Bukan Kesalahan, Tetapi Normalisasi Kesalahan

Tidak ada masyarakat yang langsung runtuh karena satu kesalahan besar.

Peradaban runtuh ketika kesalahan berhenti dianggap sebagai kesalahan.

Ketika kebohongan mulai disebut strategi.

Ketika ketidakadilan disebut kebijakan.

Ketika penyalahgunaan wewenang dianggap bagian dari jabatan.

Ketika orang jujur justru dianggap tidak realistis.

Semakin lama manusia hidup di tengah penyimpangan, semakin besar kemungkinan nuraninya kehilangan sensitivitas.

Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?”

Ia hanya bertanya, “Bukankah semua orang juga melakukannya?”

Padahal sesuatu tidak pernah menjadi benar hanya karena dilakukan oleh banyak orang.


Bertahan Hidup Tidak Berarti Membenarkan Kekeliruan

Kita memang harus realistis.

Tidak semua sistem dapat kita ubah.

Tidak semua lingkungan dapat kita pilih.

Tidak semua keputusan berada dalam kendali kita.

Tetapi selalu ada satu hal yang tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Jangan pernah membenarkan sesuatu yang kita tahu keliru.

Kita boleh bertahan.

Kita boleh beradaptasi.

Kita boleh mencari jalan agar tetap hidup.

Tetapi jangan sampai hati kita ikut menganggap yang salah sebagai benar hanya karena terlalu lama hidup di tengahnya.


Ketika Organisasi Kehilangan Kompas Moral

Ironisnya, kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di dunia politik atau bisnis.

Ia juga dapat ditemukan pada organisasi yang dibangun atas nama nilai-nilai luhur.

Ada lembaga yang setiap hari berbicara tentang integritas, tetapi budaya organisasinya tidak memberi ruang bagi kejujuran.

Ada institusi yang mengajarkan amanah kepada masyarakat, tetapi gagal membangun amanah dalam kepemimpinannya sendiri.

Ada organisasi yang sibuk menyusun kode etik, tetapi lupa bahwa etika pertama kali diajarkan melalui keteladanan, bukan melalui dokumen.

Lebih ironis lagi, banyak pemimpin sangat rajin mengevaluasi bawahan.

Target diperiksa.

Kinerja diukur.

Kesalahan dicatat.

Disiplin diawasi.

Namun hampir tidak pernah muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

“Apakah cara saya memimpin justru menghambat lahirnya kinerja yang saya tuntut?”

Karena sesungguhnya, seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab atas hasil.

Ia juga bertanggung jawab atas lingkungan yang melahirkan hasil tersebut.

Bila budaya organisasi dipenuhi rasa takut, orang akan memilih diam.

Bila penghargaan diberikan kepada kepatuhan buta, kreativitas akan mati.

Bila kejujuran justru menghadirkan risiko, maka kepalsuan akan tumbuh menjadi budaya.

Dalam keadaan seperti itu, persoalannya bukan lagi kompetensi.

Melainkan legitimasi moral kepemimpinan.


Kepemimpinan Membentuk Budaya

Budaya organisasi bukan dibentuk oleh slogan yang dipasang di dinding.

Budaya dibentuk oleh perilaku yang setiap hari ditoleransi.

Pegawai belajar bukan dari buku pedoman.

Mereka belajar dari apa yang dilakukan pemimpinnya.

Pemimpin yang meminta disiplin tetapi datang terlambat sedang mengajarkan bahwa disiplin hanyalah slogan.

Pemimpin yang menuntut kejujuran tetapi tidak transparan sedang mengajarkan bahwa integritas hanya berlaku untuk bawahan.

Pemimpin yang meminta loyalitas tanpa memberi keteladanan sedang mengajarkan bahwa kekuasaan lebih penting daripada kepercayaan.

Pada akhirnya, organisasi tidak akan tumbuh melampaui karakter pemimpinnya.


Al-Qur’an Mengajarkan Sebuah Metafora yang Menakjubkan

Di tengah pembahasan tentang tanda-tanda kekuasaan-Nya, Allah menghadirkan sebuah gambaran yang luar biasa.

Allah mengeluarkan susu yang murni dari antara darah dan kotoran.

Bukan setelah dipisahkan.

Bukan setelah lingkungannya menjadi bersih.

Tetapi justru ketika ia berada di tengah lingkungan yang penuh unsur yang tidak bersih.

Al-Qur’an menyebutnya:

لَبَنًا خَالِصًا (labanan khāliṣan)

Susu yang murni.

Bersih.

Tidak tercampur.

Tetap memberi manfaat.

Di sinilah pelajaran yang sering luput kita renungkan.

Allah sedang menunjukkan bahwa kemurnian tidak selalu lahir dari lingkungan yang sempurna.

Kemurnian adalah pilihan.


Jadilah Labanan Khaliṣan

Kita mungkin tidak bisa memilih zaman tempat kita dilahirkan.

Kita mungkin tidak bisa memilih seluruh sistem tempat kita bekerja.

Kita mungkin tidak bisa memilih semua orang yang akan menjadi rekan perjalanan hidup kita.

Tetapi kita selalu dapat memilih akan menjadi manusia seperti apa.

Apakah kita akan larut dalam arus?

Ataukah menjadi pembeda?

Peradaban tidak berubah karena mayoritas mengikuti arus.

Peradaban berubah karena selalu ada segelintir orang yang menolak kehilangan kompas moralnya.

Mereka tetap jujur ketika kebohongan menjadi budaya.

Tetap adil ketika ketidakadilan dianggap lumrah.

Tetap amanah ketika pengkhianatan menjadi kebiasaan.

Tetap rendah hati ketika kesombongan dipuji.

Mungkin mereka tidak selalu menang.

Mungkin mereka tidak selalu populer.

Namun merekalah yang menjaga dunia agar tidak kehilangan harapan.

Karena itu, jangan menunggu dunia menjadi ideal untuk mulai hidup dengan benar.

Justru di tengah dunia yang tidak ideal inilah karakter manusia diuji.

Jadilah labanan khāliṣan: tetap murni di tengah lingkungan yang keruh, tetap memberi manfaat di tengah kerusakan, dan tetap menjadi pembeda ketika begitu banyak orang memilih mengikuti arus.

Setiap akhir bulan, akhir triwulan, atau akhir tahun, hampir semua organisasi melakukan evaluasi.

Laporan dibuka.
Target dibandingkan dengan realisasi.
Satu per satu karyawan dipanggil.

Pertanyaannya hampir selalu sama.

“Mengapa target tidak tercapai?”

“Mengapa produktivitas menurun?”

“Mengapa program tidak berjalan?”

Semua pertanyaan itu diarahkan kepada bawahan.

Namun, ada satu pertanyaan yang sering kali tidak pernah diajukan.

“Apa yang sudah saya lakukan sebagai pemimpin agar tim saya berhasil?”

Di sinilah letak perbedaan antara seorang atasan dan seorang pemimpin.

Bawahan Memiliki Tanggung Jawab. Pemimpin Juga.

Bawahan memang bertanggung jawab melaksanakan pekerjaannya.

Tetapi seorang pemimpin bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang membuat bawahannya mampu bekerja dengan baik.

Ketika target tidak tercapai, pertanyaannya bukan hanya:

  • Apakah bawahan sudah bekerja maksimal?

Tetapi juga:

  • Apakah target yang saya tetapkan realistis?
  • Apakah saya sudah memberikan arahan yang jelas?
  • Apakah saya menyediakan sumber daya yang dibutuhkan?
  • Apakah saya melakukan coaching atau hanya menagih hasil?
  • Apakah saya menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah muncul, maka evaluasi kehilangan separuh maknanya.

Hasil Tim Adalah Cerminan Kepemimpinan

Bayangkan sebuah tim sepak bola yang terus mengalami kekalahan.

Apakah pelatih hanya akan mengatakan,

“Pemain saya jelek.”

Tentu tidak.

Pelatih yang baik juga mengevaluasi dirinya sendiri.

Apakah strategi yang dipilih tepat?
Apakah latihan yang diberikan sudah cukup?
Apakah pemain ditempatkan sesuai kemampuannya?
Apakah komunikasi berjalan dengan baik?

Karena ia memahami satu hal.

Hasil tim tidak hanya ditentukan oleh pemain, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinannya.

Evaluasi yang Sehat Selalu Dimulai dari Pemimpin

Banyak pemimpin menganggap evaluasi adalah hak untuk menilai bawahan.

Padahal, evaluasi juga merupakan kewajiban untuk menilai diri sendiri.

Pemimpin yang baik tidak hanya bertanya,

“Mengapa tim saya gagal?”

Tetapi juga berani bertanya,

“Apakah saya sudah menjadi pemimpin yang membantu mereka berhasil?”

Pertanyaan ini memang tidak nyaman.

Namun justru dari pertanyaan inilah lahir perbaikan yang sesungguhnya.

Evaluasi Bukan Mencari Kambing Hitam

Organisasi yang sehat tidak sibuk mencari siapa yang salah.

Organisasi yang sehat mencari apa yang harus diperbaiki.

Kadang jawabannya ada pada individu.

Kadang ada pada sistem.

Kadang ada pada proses.

Dan tidak jarang, jawabannya ada pada cara seorang pemimpin memimpin.

Karena itu, sebelum mengevaluasi bawahan, evaluasilah diri sendiri terlebih dahulu.

Bukan karena pemimpin selalu salah.

Tetapi karena pemimpin selalu memiliki pengaruh paling besar terhadap berhasil atau tidaknya sebuah tim.


“Bawahan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Pemimpin bertanggung jawab atas keberhasilan timnya. Karena itu, sebelum bertanya ‘Mengapa mereka gagal?’, seorang pemimpin seharusnya lebih dahulu bertanya, ‘Apa yang belum saya lakukan agar mereka berhasil?'”

Beberapa waktu terakhir, saya sering mendengar perbandingan seperti ini.

“Baitul Maal di BMT A bisa menghimpun miliaran rupiah.”

“Baitul Maal di BMT B sudah mandiri.”

“Baitul Maal di sana punya banyak program.”

Lalu muncul harapan.

“Baitul Maal kita juga harus seperti itu.”

Sekilas, harapan tersebut terdengar baik.

Namun, apakah membandingkan semua Baitul Maal dengan ukuran yang sama merupakan cara yang tepat?

Menurut saya, belum tentu.


Apakah Semua BMT Sama?

Mari kita lihat kondisi setiap BMT.

Ada BMT yang baru berkembang.

Asetnya masih belasan miliar rupiah.

Cabangnya sedikit.

SDM terbatas.

Anggaran terbatas.

Ada pula BMT yang telah mengelola aset ratusan miliar rupiah.

Memiliki banyak cabang.

SDM lengkap.

Teknologi lebih baik.

Jaringan lebih luas.

Kalau kondisi BMT saja berbeda…

Mengapa kita berharap fungsi Baitul Maalnya harus sama?


Sebelum Membahas Target, Jawab Dulu Pertanyaan Ini

Menurut saya, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada membahas target penghimpunan.

Mengapa BMT membentuk Baitul Maal?

Pertanyaan ini terdengar sederhana.

Namun justru sering tidak pernah benar-benar dibahas.

Kalau sepuluh orang pengurus diminta menjawab, bisa jadi muncul sepuluh jawaban yang berbeda.

Ada yang menjawab:

Untuk menghimpun zakat.

Ada yang menjawab:

Untuk membantu masyarakat miskin.

Ada yang menjawab:

Untuk dakwah.

Ada yang menjawab:

Untuk mencari donatur.

Ada yang menjawab:

Untuk meningkatkan citra BMT.

Ada pula yang menjawab:

Agar BMT memiliki fungsi sosial.

Kalau fungsi dasarnya saja belum disepakati…

Bagaimana mungkin targetnya bisa disepakati?


Divisi atau Organisasi?

Di sinilah letak persoalan yang menurut saya sering terlewat.

Apakah Baitul Maal diposisikan sebagai organisasi yang berdiri sendiri, atau sebagai divisi di dalam BMT?

Kalau diposisikan sebagai organisasi yang berdiri sendiri, maka wajar jika target utamanya adalah membangun lembaga yang mandiri secara finansial.

Tetapi jika diposisikan sebagai salah satu divisi dalam BMT, maka cara menilainya tentu berbeda.

Sama seperti kita tidak meminta HRD membiayai gajinya sendiri.

Kita juga tidak meminta bagian operasional menghasilkan laba untuk membayar seluruh biaya operasionalnya.

Karena sejak awal fungsi mereka memang bukan itu.

Mereka dibentuk untuk memperkuat organisasi secara keseluruhan.


Fungsi Baitul Maal Bisa Berbeda

Menurut saya, justru tidak semua Baitul Maal harus memiliki fungsi yang sama.

Semuanya bergantung pada tahap perkembangan BMT.

Misalnya.

Tahap Awal

Baitul Maal berfungsi sebagai unit layanan zakat.

Fokusnya:

  • menerima zakat, infak, dan sedekah,
  • menyalurkan kepada penerima manfaat,
  • memastikan administrasi dan pelaporan berjalan baik.

Pada tahap ini, penghimpunan mungkin belum menjadi fokus utama.


Tahap Berkembang

Baitul Maal mulai membangun kegiatan fundraising.

Menjalin kemitraan.

Mengembangkan program.

Mencari donatur.

Membangun kepercayaan masyarakat.

Di tahap ini, target penghimpunan mulai meningkat.


Tahap Mapan

Baitul Maal bukan lagi sekadar menghimpun dan menyalurkan dana.

Ia menjadi bagian dari strategi BMT.

Program-program sosialnya mampu:

  • memperkuat citra BMT,
  • membangun kepercayaan masyarakat,
  • memperluas jaringan,
  • meningkatkan loyalitas anggota,
  • membuka peluang kerja sama,
  • melahirkan calon anggota baru,
  • bahkan menjadi pintu masuk bagi berbagai program pemberdayaan.

Pada tahap ini, nilai yang dihasilkan jauh lebih besar daripada sekadar angka penghimpunan.


Jangan Meniru Hasil, Tetapi Pahami Prosesnya

Kesalahan yang sering terjadi adalah melihat hasil organisasi lain, tanpa melihat bagaimana mereka mencapainya.

Kita melihat penghimpunannya.

Tetapi tidak melihat jumlah SDM-nya.

Kita melihat banyaknya program.

Tetapi tidak melihat anggarannya.

Kita melihat besarnya dampak.

Tetapi tidak melihat sistem yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

Akhirnya yang ditiru hanyalah hasil akhirnya.

Padahal yang membuat hasil itu tercapai adalah proses dan kapasitas organisasinya.


Fungsi Menentukan Target

Dalam manajemen, urutannya seharusnya sederhana.

Pertama, tentukan dulu fungsi divisinya.

Kedua, tentukan kontribusi yang diharapkan terhadap organisasi.

Ketiga, tentukan indikator keberhasilannya.

Keempat, siapkan SDM, anggaran, dan sistem pendukungnya.

Barulah kemudian menetapkan target.

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya.

Target ditentukan terlebih dahulu.

Baru kemudian semua orang diminta menyesuaikan diri.


Tidak Ada Rumus yang Berlaku untuk Semua

BMT yang baru berkembang tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan BMT yang sudah besar.

Baitul Maal yang dikelola satu orang tentu tidak dapat diperlakukan sama dengan Baitul Maal yang memiliki direktur, fundraiser, tim program, keuangan, media, dan relawan.

Karena itu, menyamakan fungsi, target, dan ukuran keberhasilan di semua BMT justru berpotensi melahirkan penilaian yang tidak adil.


Yang Terpenting Bukan Sama, Tetapi Tepat

Tujuan akhirnya bukan agar semua Baitul Maal menjadi sama.

Melainkan agar setiap Baitul Maal menjalankan fungsi yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan BMT tempat ia berada.

BMT yang masih kecil mungkin membutuhkan Baitul Maal yang fokus membangun kepercayaan masyarakat.

BMT yang sedang berkembang mungkin membutuhkan Baitul Maal yang mulai memperkuat fundraising.

Sedangkan BMT yang sudah besar mungkin membutuhkan Baitul Maal yang menjadi penggerak strategi sosial, pemberdayaan, dan pengembangan ekosistem.

Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk.

Yang ada hanyalah fungsi yang sesuai atau tidak sesuai dengan kondisi organisasinya.


Ketika membahas Baitul Maal, sering kali perhatian kita langsung tertuju pada angka penghimpunan.

Padahal sebelum membicarakan angka, ada satu hal yang harus disepakati terlebih dahulu.

Apa sebenarnya fungsi Baitul Maal di dalam BMT?

Kalau pertanyaan itu belum dijawab dengan jelas, maka pembahasan tentang target, SDM, anggaran, bahkan apakah Baitul Maal dianggap “disubsidi” atau “mandiri”, akan terus menjadi perdebatan yang tidak pernah selesai.

Karena pada akhirnya, fungsi menentukan peran.

Peran menentukan kontribusi.

Kontribusi menentukan ukuran keberhasilan.

Dan dari situlah target yang realistis seharusnya disusun.

Bukan semua Baitul Maal harus menjadi seperti Baitul Maal yang besar. Yang jauh lebih penting adalah setiap BMT mampu merancang fungsi Baitul Maalnya sesuai dengan tahap perkembangan organisasinya, lalu menyelaraskan target, SDM, anggaran, dan ukuran keberhasilannya dengan fungsi tersebut.

Setiap awal tahun, hampir semua organisasi melakukan hal yang sama.

Mengadakan rapat kerja.

Menyusun program.

Lalu menetapkan target.

“Tahun ini omzet harus naik.”

“Tahun depan pelanggan harus bertambah.”

“Penghimpunan harus meningkat.”

“Aset harus lebih besar.”

Target memang penting.

Tanpa target, organisasi akan berjalan tanpa arah.

Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan.

Apakah target tersebut benar-benar bisa dicapai dengan kemampuan organisasi yang ada?


Target Itu Mudah Dibuat

Menentukan target sebenarnya sangat mudah.

Tahun ini Rp500 juta.

Tahun depan Rp1 miliar.

Selesai.

Hanya butuh beberapa detik.

Tetapi…

Mencapai target itulah yang membutuhkan kerja keras.

Sayangnya, banyak organisasi berhenti sampai di sini.

Mereka merasa tugas selesai setelah angka target ditetapkan.

Padahal, justru pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai.


Kesalahan yang Sering Terjadi

Banyak organisasi menentukan target seperti ini.

Ingin hasil lebih besar.

Naikkan target.

Minta karyawan bekerja lebih keras.

Sekilas terlihat masuk akal.

Namun…

Kalau cara berpikirnya seperti ini, hasilnya sering kali hanya dua.

Target tidak tercapai.

Atau…

Karyawan kelelahan.


Yang Seharusnya Dilakukan

Sebelum menentukan target, ada beberapa pertanyaan yang seharusnya dijawab terlebih dahulu.

Apa saja pekerjaan yang harus dilakukan agar target itu tercapai?

Siapa yang akan mengerjakannya?

Berapa banyak waktu yang dibutuhkan?

Apakah jumlah SDM sudah cukup?

Apakah orang-orangnya memiliki kemampuan yang dibutuhkan?

Apakah ada anggaran untuk mendukungnya?

Apakah sistem kerjanya sudah memadai?

Kalau semua pertanyaan itu belum dijawab…

Lalu target langsung ditetapkan…

Maka sebenarnya organisasi sedang berharap tanpa perencanaan.


Membangun Rumah

Bayangkan Anda ingin membangun sebuah rumah.

Apakah langkah pertama adalah menentukan tanggal selesai?

Tentu tidak.

Yang pertama dihitung adalah:

Berapa luas rumahnya.

Berapa jumlah tukangnya.

Berapa kebutuhan materialnya.

Berapa lama waktu pengerjaannya.

Berapa biaya yang dibutuhkan.

Baru setelah semuanya dihitung…

Ditentukan target selesai.

Aneh rasanya kalau kita begitu teliti saat membangun rumah, tetapi ketika mengelola organisasi kita hanya berkata:

“Pokoknya tahun depan hasilnya harus dua kali lipat.”


Target Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Misalnya sebuah perusahaan ingin meningkatkan penjualan.

Lalu target dinaikkan dua kali lipat.

Tetapi…

Jumlah sales tetap.

Anggaran promosi tetap.

Produk tetap.

Sistem tetap.

Pelatihan tidak ada.

Peralatan tidak bertambah.

Lalu perusahaan berharap hasilnya naik dua kali lipat.

Pertanyaannya…

Apa yang sebenarnya berubah selain angka target?


Hasil Selalu Mengikuti Kemampuan

Dalam kehidupan sehari-hari kita memahami satu hal sederhana.

Kalau ingin panen lebih banyak…

Petani memperbaiki benihnya.

Menambah pupuk.

Memperbaiki irigasi.

Mengolah lahannya lebih baik.

Kalau ingin produksi pabrik meningkat…

Perusahaan membeli mesin baru.

Menambah operator.

Memperbaiki proses produksi.

Semua orang memahami itu.

Namun anehnya…

Dalam organisasi, sering kali kita berharap hasil meningkat tanpa mengubah apa pun.


Orang Bekerja dengan Waktu yang Sama

Setiap orang hanya memiliki waktu yang sama.

Sekitar delapan jam kerja setiap hari.

Kalau seseorang diminta mengerjakan lima pekerjaan, mungkin masih bisa diselesaikan.

Tetapi kalau ia diminta mengerjakan lima belas pekerjaan…

Lalu targetnya tetap dinaikkan…

Masalahnya bukan lagi pada semangat kerja.

Masalahnya adalah kapasitas.

Karena sehebat apa pun seseorang, waktu yang dimilikinya tetap sama.


Bekerja Lebih Keras Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah

Ada anggapan bahwa target tinggi akan membuat orang bekerja lebih keras.

Memang benar.

Tetapi hanya sampai batas tertentu.

Setelah itu…

Orang mulai lelah.

Kesalahan meningkat.

Kualitas pekerjaan menurun.

Ide-ide baru mulai hilang.

Motivasi berkurang.

Bahkan orang terbaik pun bisa mengalami kelelahan.

Artinya…

Bekerja lebih keras tidak selalu menghasilkan hasil yang lebih besar.

Kadang yang dibutuhkan bukan kerja lebih keras.

Tetapi sistem yang lebih baik.


Sebelum Menambah Target, Tambahkan Kemampuan

Kalau organisasi ingin hasil yang lebih besar…

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

Menambah SDM.

Meningkatkan kemampuan tim.

Memperbaiki sistem kerja.

Memanfaatkan teknologi.

Menambah anggaran.

Memperjelas pembagian tugas.

Membangun kolaborasi yang lebih baik.

Dengan kata lain…

Yang ditingkatkan bukan hanya targetnya.

Tetapi juga kemampuan organisasinya.


Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Orang

Ketika target tidak tercapai…

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah:

“Siapa yang salah?”

Padahal mungkin ada pertanyaan yang lebih penting.

“Apakah organisasi sudah menyediakan kemampuan yang cukup untuk mencapai target tersebut?”

Karena tidak semua kegagalan berasal dari orang yang mengerjakannya.

Sering kali kegagalan berasal dari cara organisasi merencanakan pekerjaannya.


Target yang Baik Selalu Diikuti Perencanaan

Target memang harus menantang.

Tetapi target juga harus realistis.

Bukan berarti mudah.

Melainkan didukung oleh rencana yang jelas.

Apa yang akan dikerjakan.

Siapa yang mengerjakan.

Berapa lama waktunya.

Apa saja yang dibutuhkan.

Bagaimana cara mengukurnya.

Tanpa itu semua…

Target hanya menjadi angka di atas kertas.


Target bukanlah masalah.

Justru organisasi tanpa target akan sulit berkembang.

Yang menjadi masalah adalah ketika target hanya ditentukan berdasarkan keinginan, tanpa memperhitungkan kemampuan organisasi untuk mencapainya.

Sebelum bertanya,

“Mengapa target kita tidak tercapai?”

Mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting.

“Apakah kita sudah membangun kemampuan yang cukup untuk mencapai target tersebut?”

Karena organisasi yang hebat bukanlah organisasi yang menetapkan target paling tinggi.

Organisasi yang hebat adalah organisasi yang mampu menyelaraskan antara target, sumber daya, dan cara kerja, sehingga setiap target yang ditetapkan benar-benar memiliki peluang untuk dicapai.


“Target adalah harapan. Kemampuan adalah kenyataan. Organisasi yang bijak tidak hanya berani menetapkan harapan yang tinggi, tetapi juga berani membangun kemampuan untuk mewujudkannya.”

Setiap perusahaan tentu memiliki target.

Target penjualan.

Target keuntungan.

Target penghimpunan.

Target jumlah pelanggan.

Target aset.

Target pertumbuhan.

Target memang penting.

Tanpa target, organisasi akan berjalan tanpa arah.

Namun ada satu hal yang sering dilupakan.

Target bukanlah tujuan yang berdiri sendiri.

Target harus lahir dari kapasitas organisasi.

Sayangnya, banyak organisasi justru memulai dari sebaliknya.


Target Mudah Dibuat, Kapasitas Sering Diabaikan

Dalam rapat kerja tahunan, menaikkan target sangatlah mudah.

Tahun ini Rp500 juta.

Tahun depan menjadi Rp1 miliar.

Tahun ini 1.000 pelanggan.

Tahun depan menjadi 2.000 pelanggan.

Semua terlihat indah di atas kertas.

Namun pertanyaannya…

Apa yang berubah selain angka target?

Apakah jumlah SDM bertambah?

Apakah sistem kerja diperbaiki?

Apakah teknologi ditingkatkan?

Apakah anggaran ditambah?

Apakah kompetensi tim berkembang?

Kalau tidak ada yang berubah…

Mengapa hasilnya harus berubah drastis?


Output Tidak Muncul Begitu Saja

Dalam kehidupan sehari-hari kita memahami bahwa hasil selalu dipengaruhi oleh penyebabnya.

Petani tidak bisa berharap panen berlipat ganda jika luas lahan, kualitas benih, pupuk, dan cara bercocok tanam tidak berubah.

Pabrik tidak bisa meningkatkan produksi dua kali lipat hanya dengan memasang target baru di dinding.

Begitu pula organisasi.

Output selalu dipengaruhi oleh input.

Secara sederhana dapat digambarkan seperti ini.

Output = Fungsi dari Input

Artinya…

Hasil yang diperoleh organisasi sangat bergantung pada apa yang dimiliki dan bagaimana organisasi bekerja.


Apa Saja Input Itu?

Banyak orang mengira input hanyalah jumlah karyawan.

Padahal tidak sesederhana itu.

Input organisasi terdiri dari banyak hal.

  • Jumlah SDM.
  • Kompetensi SDM.
  • Sistem kerja.
  • SOP.
  • Teknologi.
  • Anggaran.
  • Kepemimpinan.
  • Kolaborasi antar divisi.
  • Waktu kerja yang tersedia.
  • Budaya organisasi.

Semua itu menentukan kapasitas organisasi.

Kalau salah satu lemah, kapasitas ikut menurun.


Kesalahan yang Sering Terjadi

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki satu orang marketing.

Tidak ada designer.

Tidak ada content creator.

Tidak ada admin.

Tidak ada CRM.

Tidak ada anggaran iklan.

Tidak ada database pelanggan.

Tetapi target penjualannya dinaikkan dua kali lipat.

Kalau target itu tidak tercapai…

Siapa yang sebenarnya gagal?

Apakah marketingnya?

Belum tentu.

Bisa jadi yang gagal adalah organisasi dalam mendesain sistem kerjanya.


Kapasitas Tidak Bisa Dipaksa

Banyak pimpinan berpikir bahwa target tinggi akan membuat orang bekerja lebih keras.

Pada batas tertentu, hal itu memang benar.

Namun hanya sampai titik tertentu.

Setelah itu yang terjadi justru sebaliknya.

Karyawan mulai kelelahan.

Kesalahan meningkat.

Kualitas menurun.

Inovasi berhenti.

Burnout muncul.

Produktivitas justru turun.

Target yang terlalu jauh dari kapasitas tidak menghasilkan lompatan kinerja.

Yang muncul justru frustrasi.


Analogi Truk

Bayangkan sebuah truk mampu mengangkut lima ton barang.

Lalu pemilik perusahaan berkata.

“Mulai besok targetnya sepuluh ton.”

Apakah target itu otomatis tercapai?

Tidak.

Karena kapasitas truknya tetap lima ton.

Supir bisa bekerja lebih cepat.

Supir bisa lebih disiplin.

Supir bisa lebih hati-hati.

Tetapi ia tidak bisa mengubah kapasitas truk hanya dengan bekerja lebih keras.

Kalau perusahaan benar-benar ingin mengangkut sepuluh ton, maka ada beberapa pilihan.

Menambah armada.

Menggunakan truk yang lebih besar.

Menambah jumlah perjalanan.

Atau memperbaiki sistem distribusi.

Yang berubah bukan hanya targetnya.

Tetapi juga kapasitasnya.


Organisasi Juga Memiliki Kapasitas

Hal yang sama berlaku pada organisasi.

Misalnya sebuah perusahaan memiliki:

  • satu orang,
  • tanpa sistem,
  • tanpa teknologi,
  • tanpa anggaran promosi,
  • tanpa pembagian tugas yang jelas.

Lalu perusahaan berharap hasil yang sama dengan organisasi yang memiliki:

  • sepuluh orang,
  • sistem yang matang,
  • teknologi yang baik,
  • anggaran pemasaran,
  • SOP yang jelas,
  • pembagian tugas yang efektif.

Harapan itu tidak realistis.

Karena yang dibandingkan bukan hanya jumlah orang.

Melainkan kapasitas organisasi secara keseluruhan.


Jangan Hanya Menetapkan Target

Sebelum menetapkan target, organisasi seharusnya menjawab beberapa pertanyaan.

Apakah kapasitas SDM sudah cukup?

Apakah sistem kerja sudah mendukung?

Apakah teknologi mampu mempercepat pekerjaan?

Apakah anggaran tersedia?

Apakah pembagian tugas sudah jelas?

Apakah kompetensi tim sudah memadai?

Kalau jawabannya belum…

Maka organisasi memiliki tiga pilihan.

Menambah kapasitas.

Mengubah cara kerja.

Atau menyesuaikan target.


Target Harus Diikuti Investasi

Banyak organisasi ingin hasil yang lebih besar.

Namun tidak mau mengubah apa pun.

Target naik.

Tetapi SDM tetap.

Target naik.

Tetapi anggaran tetap.

Target naik.

Tetapi sistem tetap.

Target naik.

Tetapi teknologi tetap.

Padahal dalam dunia bisnis berlaku prinsip sederhana.

Jika organisasi menginginkan output yang lebih besar, maka organisasi harus meningkatkan kapasitasnya.

Kapasitas itu bisa berupa:

  • SDM.
  • Teknologi.
  • Anggaran.
  • Sistem.
  • Kompetensi.
  • Kolaborasi.

Tidak selalu harus menambah orang.

Tetapi selalu harus ada peningkatan kapasitas.


Yang Gagal Bukan Selalu Orangnya

Ketika target tidak tercapai, pertanyaan pertama sering kali adalah:

“Siapa yang salah?”

Padahal mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Apakah organisasi telah menyediakan kapasitas yang cukup untuk mencapai target tersebut?”

Karena tidak semua kegagalan berasal dari individu.

Sering kali kegagalan berasal dari desain organisasi yang tidak seimbang.

Organisasi berharap hasil kerja sebuah tim.

Tetapi hanya menyediakan sumber daya untuk satu orang.

Organisasi berharap pelayanan kelas dunia.

Tetapi tidak menyediakan sistem yang memadai.

Organisasi berharap pertumbuhan yang tinggi.

Tetapi tidak pernah berinvestasi pada kapasitas.


Target memang penting.

Namun target hanyalah tujuan.

Sedangkan kapasitas adalah kendaraan untuk mencapainya.

Menambah target tanpa menambah kapasitas ibarat meminta sebuah mobil melaju lebih cepat tanpa pernah mengisi bahan bakarnya.

Keinginan mungkin bertambah.

Tetapi kemampuan tidak berubah.

Karena itu, sebelum bertanya:

“Mengapa target kita tidak tercapai?”

Mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab.

“Apakah kapasitas organisasi kita memang sudah cukup untuk mencapai target tersebut?”

Sebab organisasi yang hebat bukanlah organisasi yang menetapkan target paling tinggi.

Organisasi yang hebat adalah organisasi yang mampu menyelaraskan antara target, kapasitas, dan sumber daya, sehingga setiap target yang ditetapkan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan tujuan yang benar-benar dapat dicapai.

Setiap perusahaan pasti mengeluarkan biaya.

Salah satunya adalah biaya gaji.

Ada yang menerima gaji Rp5 juta.

Ada yang Rp10 juta.

Ada pula yang puluhan juta rupiah setiap bulan.

Pertanyaannya…

Apa yang sebenarnya sedang dibayar oleh perusahaan?

Apakah perusahaan membayar waktu?

Ataukah perusahaan sedang membeli hasil kerja?

Atau… sebenarnya perusahaan sedang membeli sesuatu yang lebih besar?

Yaitu value.


Kesalahan yang Sering Terjadi

Dalam banyak organisasi, penilaian kinerja sering dimulai dari pertanyaan seperti ini.

“Gajimu berapa?”

Lalu disusul dengan pertanyaan.

“Kalau gajimu Rp10 juta, berapa uang yang sudah kamu hasilkan untuk perusahaan?”

Sekilas pertanyaan ini terdengar masuk akal.

Namun…

Apakah pertanyaan itu bisa diberikan kepada semua orang?

Misalnya kepada HRD.

“Berapa uang yang kamu hasilkan bulan ini?”

Kepada bagian IT.

“Berapa keuntungan yang kamu bawa masuk?”

Kepada bagian Legal.

“Berapa omzet yang kamu hasilkan?”

Kepada satpam.

“Berapa pendapatan yang sudah kamu ciptakan?”

Tentu terasa janggal.

Bukan karena mereka tidak bekerja.

Tetapi karena memang bukan itu fungsi mereka.


Gaji Tidak Dibayar Karena Jabatan

Banyak orang mengira perusahaan menggaji seseorang karena jabatannya.

Padahal bukan.

Perusahaan menggaji seseorang karena berharap ada nilai yang diciptakan.

Seorang sales dibayar karena mampu meningkatkan penjualan.

Seorang HRD dibayar karena mampu menghadirkan SDM yang lebih baik.

Seorang IT dibayar karena mampu membuat pekerjaan lebih cepat, lebih aman, dan lebih efisien.

Seorang akuntan dibayar karena mampu menjaga keakuratan laporan dan mengurangi risiko kesalahan.

Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.

Maka value yang dihasilkan pun berbeda.


Gaji Adalah Investasi

Bayangkan perusahaan mengeluarkan Rp10 juta setiap bulan kepada seorang karyawan.

Sebenarnya perusahaan sedang melakukan investasi.

Sebagaimana investasi lainnya, tentu perusahaan berharap memperoleh return.

Namun return itu tidak selalu berupa keuntungan finansial.

Ia bisa berupa:

  • meningkatnya produktivitas,
  • pelayanan yang lebih baik,
  • pelanggan yang lebih loyal,
  • sistem yang lebih stabil,
  • risiko yang lebih kecil,
  • proses kerja yang lebih cepat,
  • reputasi yang semakin baik,
  • hingga budaya kerja yang semakin sehat.

Semua itu adalah return.

Meskipun tidak selalu terlihat dalam laporan penjualan.


Pertanyaan yang Lebih Tepat

Daripada bertanya:

“Berapa uang yang sudah kamu hasilkan?”

Akan jauh lebih tepat jika perusahaan bertanya:

“Dengan gaji yang kami investasikan kepadamu setiap bulan, value apa yang sudah kamu berikan kepada organisasi?”

Perhatikan perbedaannya.

Pertanyaan pertama hanya cocok untuk sebagian kecil profesi.

Pertanyaan kedua berlaku untuk semua orang.

Sales.

Marketing.

HRD.

IT.

Operasional.

Keuangan.

Customer Service.

Legal.

Bahkan direktur sekalipun.

Semuanya seharusnya mampu menjelaskan value yang mereka hasilkan.


Value Tidak Selalu Berupa Uang

Misalnya seorang Customer Service.

Ia mungkin tidak menghasilkan penjualan.

Tetapi ia mampu menurunkan jumlah komplain pelanggan hingga 60%.

Bukankah itu value?

Seorang IT berhasil membuat sistem yang sebelumnya sering mengalami gangguan menjadi stabil.

Bukankah itu value?

Bagian operasional berhasil mempercepat proses pelayanan dari 30 menit menjadi 10 menit.

Bukankah itu value?

HRD berhasil menurunkan tingkat keluar-masuk karyawan sehingga perusahaan menghemat biaya rekrutmen.

Bukankah itu value?

Kalau semua itu hanya diukur dengan pertanyaan:

“Berapa uang yang kamu hasilkan?”

Maka perusahaan sedang menggunakan alat ukur yang keliru.


Yang Seharusnya Dievaluasi

Setiap divisi memang memiliki indikator keberhasilan yang berbeda.

Namun satu prinsipnya sama.

Setiap divisi harus mampu menjelaskan:

  • nilai apa yang mereka ciptakan,
  • masalah apa yang mereka selesaikan,
  • risiko apa yang mereka kurangi,
  • peluang apa yang mereka buka,
  • dan dampak apa yang mereka berikan bagi organisasi.

Itulah yang seharusnya menjadi dasar evaluasi.

Bukan sekadar besar kecilnya gaji.


Gaji Besar Belum Tentu Mahal

Sering kali perusahaan berusaha menghemat biaya dengan melihat besarnya gaji.

Padahal, gaji yang tinggi belum tentu mahal.

Seorang karyawan bergaji Rp15 juta yang mampu menghemat biaya operasional Rp100 juta per tahun justru merupakan investasi yang menguntungkan.

Sebaliknya, seorang karyawan bergaji Rp5 juta yang tidak memberikan nilai apa pun bisa menjadi biaya yang jauh lebih mahal.

Karena yang menentukan mahal atau murah bukan nominal gajinya.

Melainkan perbandingan antara biaya yang dikeluarkan dengan value yang dihasilkan.


Ubah Cara Pandang

Daripada bertanya:

“Berapa gajimu?”

Mulailah bertanya:

“Value apa yang kamu hasilkan?”

Daripada bertanya:

“Apakah divisi ini menghasilkan uang?”

Lebih baik bertanya:

“Apakah divisi ini menciptakan nilai yang membuat perusahaan menjadi lebih baik?”

Karena perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menghasilkan pendapatan.

Perusahaan juga membutuhkan orang yang mampu menjaga kualitas, meningkatkan efisiensi, membangun kepercayaan, mengurangi risiko, dan menciptakan sistem yang membuat organisasi terus bertumbuh.


Setiap bulan, perusahaan mengeluarkan biaya untuk menggaji seluruh karyawannya.

Pertanyaannya bukanlah apakah setiap karyawan mampu menghasilkan uang secara langsung.

Melainkan apakah setiap karyawan mampu mengubah investasi yang diberikan perusahaan menjadi value bagi organisasi.

Karena pada akhirnya, perusahaan yang hebat bukanlah perusahaan yang hanya memiliki karyawan dengan omzet terbesar.

Perusahaan yang hebat adalah perusahaan yang mampu memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan untuk menggaji karyawannya kembali dalam bentuk nilai yang membuat organisasi semakin kuat, semakin efisien, dan terus bertumbuh.

Dalam dunia bisnis, perusahaan tidak menggaji orang untuk bekerja. Perusahaan menggaji orang untuk menciptakan value. Bekerja hanyalah aktivitasnya, sedangkan value adalah alasan mengapa perusahaan bersedia terus membayar.

Di banyak perusahaan, sering terdengar kalimat seperti ini.

“Divisi itu masih disubsidi oleh perusahaan.”

Atau…

“Mereka belum mampu menghidupi divisinya sendiri.”

Biasanya, kalimat tersebut ditujukan kepada divisi yang belum menghasilkan pendapatan secara langsung.

Sekilas terdengar logis.

Namun, pernahkah kita bertanya…

Sebenarnya, siapa yang tidak disubsidi di sebuah perusahaan?


Benarkah hanya satu atau dua divisi yang disubsidi?

Mari kita berpikir sederhana.

Sebuah perusahaan memperoleh pendapatan dari aktivitas bisnisnya.

Keuntungan tersebut kemudian digunakan untuk membayar:

  • gaji karyawan,
  • biaya operasional,
  • listrik,
  • internet,
  • kendaraan,
  • perlengkapan kantor,
  • hingga berbagai kebutuhan perusahaan lainnya.

Lalu mari kita lihat setiap divisi.

Sales menghasilkan penjualan.

Business Development menghasilkan pelanggan baru.

Bagian bisnis menghasilkan pendapatan.

Namun bagaimana dengan:

  • HRD,
  • IT,
  • Customer Service,
  • Operasional,
  • Akuntansi,
  • Legal,
  • Satpam,
  • Cleaning Service,
  • Office Boy,
  • Sopir?

Apakah mereka menghasilkan pendapatan secara langsung?

Tidak.

Kalau begitu…

Bukankah gaji mereka juga berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan?

Artinya…

Mereka pun sebenarnya disubsidi oleh pendapatan perusahaan.

Kalau logikanya demikian, hampir seluruh divisi di perusahaan sebenarnya menerima subsidi silang dari divisi yang menghasilkan pendapatan.


Subsidi bukan sesuatu yang salah

Sering kali kata subsidi dipahami sebagai sesuatu yang negatif.

Padahal dalam dunia bisnis, subsidi silang adalah hal yang sangat wajar.

Divisi yang menghasilkan pendapatan memungkinkan perusahaan membiayai divisi lain.

Sebaliknya, divisi yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung memastikan divisi bisnis dapat bekerja dengan baik.

Bayangkan jika perusahaan menghilangkan seluruh divisi yang dianggap “tidak menghasilkan uang”.

Tidak ada HRD.

Tidak ada IT.

Tidak ada akuntansi.

Tidak ada operasional.

Tidak ada Customer Service.

Tidak ada satpam.

Tidak ada cleaning service.

Apakah perusahaan masih bisa berjalan?

Tentu tidak.

Artinya, subsidi bukanlah masalah.

Justru subsidi adalah konsekuensi dari sebuah organisasi yang bekerja sebagai satu kesatuan.


Perusahaan bukan hanya mesin pencetak uang

Sebuah perusahaan bukan hanya terdiri dari orang-orang yang menjual produk.

Perusahaan adalah sebuah sistem.

Di dalam sistem itu, setiap orang memiliki fungsi yang berbeda.

Ada yang bertugas menghasilkan pendapatan.

Ada yang menjaga operasional.

Ada yang memastikan pelayanan tetap baik.

Ada yang mengembangkan SDM.

Ada yang menjaga keamanan.

Ada yang mengelola teknologi.

Ada yang memastikan laporan keuangan benar.

Semuanya bekerja agar perusahaan tetap hidup.

Sama seperti tubuh manusia.

Jantung memang memompa darah.

Namun apakah paru-paru disubsidi oleh jantung?

Apakah ginjal menjadi beban karena tidak memompa darah?

Apakah otak harus menghasilkan darah agar dianggap berguna?

Tentu tidak.

Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.

Begitu pula perusahaan.


Profit Center dan Cost Center

Dalam dunia manajemen dikenal dua jenis fungsi.

Profit Center

Yaitu unit yang memang diberi tanggung jawab menghasilkan pendapatan atau keuntungan.

Misalnya:

  • Sales.
  • Business Development.
  • Divisi bisnis.
  • Konsultan.

Sedangkan ada…

Cost Center

Yaitu unit yang membutuhkan biaya operasional, tetapi bertugas mendukung agar perusahaan mampu menghasilkan keuntungan.

Misalnya:

  • HRD.
  • IT.
  • Operasional.
  • Customer Service.
  • Keuangan.
  • Legal.
  • Keamanan.
  • Kebersihan.

Cost center memang disubsidi oleh perusahaan.

Namun bukan berarti mereka tidak memberikan nilai.

Tanpa mereka, profit center pun sering kali tidak dapat bekerja secara optimal.


Kesalahan Terbesar Banyak Perusahaan

Kesalahan terbesar bukanlah adanya subsidi.

Kesalahan terbesar adalah ketika perusahaan hanya mempertanyakan subsidi pada sebagian divisi, sementara divisi lain tidak pernah diminta mempertanggungjawabkan kontribusinya.

Divisi yang berhubungan langsung dengan pendapatan biasanya memiliki target yang jelas.

Sales ditargetkan omzet.

Marketing ditargetkan penjualan.

Business Development ditargetkan pelanggan baru.

Setiap bulan mereka diminta mempertanggungjawabkan hasil kerjanya.

Namun bagaimana dengan divisi lainnya?

Berapa perusahaan yang secara rutin bertanya kepada HRD:

“Value apa yang sudah Anda berikan bulan ini?”

Berapa perusahaan yang meminta IT menjelaskan:

“Efisiensi apa yang berhasil Anda ciptakan?”

Berapa perusahaan yang meminta bagian operasional menunjukkan:

“Perbaikan proses apa yang sudah Anda lakukan?”

Berapa perusahaan yang meminta bagian umum menjelaskan:

“Penghematan apa yang berhasil Anda hasilkan?”

Sering kali pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak pernah muncul.

Akibatnya lahirlah dua standar.

Ada divisi yang terus dituntut menunjukkan kontribusinya.

Sementara ada divisi lain yang seolah otomatis dianggap memberikan kontribusi, tanpa pernah benar-benar diukur.

Padahal seluruh divisi menerima subsidi yang sama, yaitu gaji dan fasilitas yang berasal dari pendapatan perusahaan.


Yang Seharusnya Diukur Bukan Subsidi, Melainkan Value

Misalkan perusahaan menggaji seseorang sebesar Rp10 juta setiap bulan.

Pertanyaan yang tepat bukanlah:

“Apakah dia mampu menghidupi divisinya sendiri?”

Tetapi…

“Dengan investasi Rp10 juta setiap bulan, value apa yang sudah ia berikan kepada perusahaan?”

Inilah pertanyaan yang jauh lebih adil.

Karena setiap divisi memiliki fungsi yang berbeda.

Maka value yang dihasilkan pun berbeda.


Contohnya…

Sales

Value yang diharapkan:

  • penjualan meningkat,
  • pelanggan baru bertambah,
  • omzet tumbuh.

Customer Service

Value yang diharapkan:

  • pelanggan puas,
  • komplain menurun,
  • loyalitas meningkat.

HRD

Value yang diharapkan:

  • SDM lebih kompeten,
  • produktivitas meningkat,
  • turnover menurun,
  • budaya kerja membaik.

IT

Value yang diharapkan:

  • sistem stabil,
  • pekerjaan lebih cepat,
  • keamanan data terjaga,
  • efisiensi meningkat.

Operasional

Value yang diharapkan:

  • proses lebih cepat,
  • kesalahan berkurang,
  • pelayanan lebih baik,
  • biaya operasional lebih efisien.

Keuangan

Value yang diharapkan:

  • laporan akurat,
  • risiko terkendali,
  • kepatuhan terhadap regulasi,
  • dasar pengambilan keputusan yang lebih baik.

Masing-masing memang menerima subsidi dari perusahaan.

Tetapi masing-masing juga memiliki tanggung jawab menghasilkan value sesuai dengan perannya.


Jadi siapa yang sebenarnya layak dipertanyakan?

Bukan divisi yang disubsidi.

Karena hampir semua divisi memang disubsidi.

Yang seharusnya dipertanyakan adalah:

Apakah subsidi yang diberikan perusahaan telah berubah menjadi value bagi organisasi?

Karena orang yang menerima gaji tetapi:

  • tidak produktif,
  • tidak memiliki target yang jelas,
  • tidak menyelesaikan pekerjaannya,
  • tidak mau belajar,
  • tidak memberikan dampak,
  • tidak membantu organisasi bertumbuh,

maka di situlah perusahaan perlu melakukan evaluasi.

Sebaliknya…

Seseorang yang mampu meningkatkan efisiensi, menjaga kepuasan pelanggan, memperkuat reputasi perusahaan, mengurangi risiko, menciptakan inovasi, atau membantu perusahaan berkembang, tetap memberikan nilai yang besar meskipun tidak menghasilkan pendapatan secara langsung.


Ubah Cara Berpikir: Dari “Disubsidi” Menjadi “Berinvestasi”

Setiap kali perusahaan membayar gaji kepada seorang karyawan, sesungguhnya perusahaan sedang berinvestasi.

Sebagaimana investasi lainnya, tentu perusahaan berharap adanya return.

Namun return itu tidak selalu berbentuk keuntungan finansial.

Ia bisa berupa:

  • peningkatan pendapatan,
  • efisiensi operasional,
  • pelayanan yang lebih baik,
  • loyalitas pelanggan,
  • keamanan aset,
  • inovasi,
  • reputasi perusahaan,
  • kepercayaan masyarakat,
  • maupun pertumbuhan organisasi dalam jangka panjang.

Karena itu, setiap divisi seharusnya mampu menjawab satu pertanyaan sederhana.

“Jika perusahaan terus menginvestasikan biaya kepada divisi kami, value apa yang kami hasilkan sebagai imbal balik?”

Semakin besar value yang diciptakan, semakin besar pula alasan perusahaan untuk terus berinvestasi pada divisi tersebut.


Perdebatan tentang divisi yang “masih disubsidi” sering kali muncul karena kita hanya melihat siapa yang menghasilkan pendapatan secara langsung.

Padahal kenyataannya, hampir seluruh divisi dalam sebuah perusahaan menerima subsidi silang dari keuntungan yang dihasilkan organisasi.

Perbedaannya bukan pada siapa yang disubsidi.

Perbedaannya terletak pada siapa yang mampu mengubah subsidi tersebut menjadi value bagi perusahaan.

Karena itu, perusahaan yang sehat bukanlah perusahaan yang sibuk mempertanyakan siapa yang masih disubsidi.

Melainkan perusahaan yang memastikan setiap divisi, tanpa terkecuali, mampu menunjukkan kontribusi sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya.

Sales menunjukkan value melalui penjualan.

HRD melalui kualitas SDM.

IT melalui efisiensi.

Operasional melalui pelayanan.

Keuangan melalui akurasi dan pengendalian risiko.

Masing-masing memiliki indikator yang berbeda, tetapi tujuan akhirnya sama.

Mengubah setiap rupiah yang diinvestasikan perusahaan menjadi nilai yang membuat organisasi terus bertumbuh.

Sebab pada akhirnya, bukan soal siapa yang disubsidi.

Melainkan, siapa yang mampu membuktikan bahwa subsidi tersebut adalah investasi yang layak dipertahankan.

Idul Adha selalu membawa suasana yang hangat.

Takbir berkumandang.
Orang-orang berkumpul.
Anak-anak menunggu pembagian daging.
Dan masjid menjadi ramai sejak pagi.

Namun di balik suasana itu, ada satu hal kecil yang kadang mulai terasa mengganggu:

“Pak, saya minta iga ya.”
“Kalau bisa buntutnya buat saya.”
“Has dalam jangan dibagi semua.”

Mungkin terdengar sepele.
Dan memang, pequrban boleh menikmati daging qurbannya sendiri.

Tapi pernahkah kita membayangkan…

kalau semua orang request bagian terenak,
sisanya tinggal apa?

Padahal qurban bukan sedang membeli sapi.
Bukan sedang memesan paket daging premium.
Dan bukan juga momen untuk mendapatkan bagian terbaik.

Qurban adalah latihan melepaskan.

Ketika Semua Ingin Bagian Terbaik

Coba bayangkan situasi panitia qurban.

Satu orang minta buntut.
Satu orang minta iga.
Yang lain minta has dalam.
Yang lain lagi titip pesan jangan dicampur bagian tertentu.

Kalau satu sapi dipenuhi banyak permintaan seperti itu,
akhirnya pembagian jadi tidak seimbang.

Ada penerima yang hanya mendapatkan bagian biasa.
Ada panitia yang bahkan tidak kebagian layak.
Dan ada masyarakat yang sebenarnya sangat jarang makan daging, justru menerima bagian seadanya.

Padahal semangat qurban sejak awal adalah:
berbagi kebahagiaan.

Bukan memaksimalkan jatah pribadi.

Rasulullah ﷺ Memang Membolehkan Makan Daging Qurban

Islam tidak melarang pequrban menikmati hasil qurbannya.

Bahkan Rasulullah ﷺ juga makan daging qurbannya.

Karena Idul Adha memang hari syukur.
Hari makan.
Hari berbagi.

Tetapi ada perbedaan besar antara:
“ikut menikmati”
dengan
“sibuk memilih bagian terbaik.”

Yang satu adalah rasa syukur.
Yang satu lagi bisa berubah menjadi sikap berlebihan.

Dan sayangnya,
kadang tanpa sadar,
qurban mulai terasa seperti rebutan bagian favorit.

Padahal Di Tempat Lain, Daging Adalah Kemewahan

Di kota-kota besar,
daging qurban sering menumpuk.

Freezer penuh.
Sebagian bahkan tidak habis dimakan.

Namun di banyak pelosok,
ada keluarga yang mungkin hanya sekali setahun merasakan daging.

Ada anak-anak yang begitu bahagia hanya karena mendapatkan satu kantong kecil daging qurban.

Mereka tidak memilih iga.
Tidak meminta buntut.
Tidak bertanya bagian mana yang paling empuk.

Karena bagi mereka,
mendapat daging saja sudah menjadi kebahagiaan besar.

Qurban Itu Tentang Hati

Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Artinya,
yang paling penting bukan:
berapa besar sapinya,
bagian apa yang kita dapat,
atau seberapa enak yang kita makan.

Tetapi:
seberapa besar hati kita saat berqurban.

Apakah qurban membuat kita semakin ringan berbagi?

Atau justru semakin sibuk memikirkan:
“saya dapat bagian apa?”

Tidak Salah, Tapi Jangan Berlebihan

Kalau sesekali pequrban ingin menikmati sebagian dagingnya sendiri, itu wajar.

Namun alangkah indahnya jika kita mulai belajar:
tidak terlalu banyak meminta.

Tidak terlalu sibuk memilih bagian.

Tidak merepotkan panitia.

Karena bisa jadi,
bagian yang sedang kita minta itu,
adalah bagian terbaik yang seharusnya bisa lebih membahagiakan orang lain.

Dan bukankah inti qurban memang tentang mendahulukan daripada didahulukan?

Di banyak perusahaan, ada satu kondisi yang sering tidak terasa:

Bisnis tetap berjalan.
Operasional tetap hidup.
Target masih tercapai—atau setidaknya mendekati.

Sekilas, semuanya terlihat baik-baik saja.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan:

Apakah perusahaan ini benar-benar berkembang… atau hanya bertahan?


Berjalan Itu Berbeda dengan Bertumbuh

Perusahaan bisa berjalan tanpa benar-benar berkembang.

Aktivitas tetap ada:

  • Penjualan tetap terjadi
  • Produk tetap ditawarkan
  • Tim tetap bekerja

Namun pertumbuhan bukan hanya soal aktivitas.

Pertumbuhan terjadi ketika:

  • Kapasitas meningkat
  • Sistem membaik
  • Cara kerja menjadi lebih efektif
  • Dampak bisnis semakin luas

Tanpa itu, yang terjadi hanyalah pengulangan.


Zona Nyaman yang Tidak Terlihat

Zona nyaman dalam bisnis jarang terlihat seperti “malas”.

Justru sering muncul dalam bentuk yang terlihat rasional:

  • “Yang penting stabil”
  • “Yang penting aman”
  • “Jangan terlalu banyak perubahan”

Tidak ada yang salah dengan stabilitas.

Namun ketika stabilitas menjadi tujuan utama,
tanpa disadari, perusahaan berhenti mencari cara untuk naik level.

Sementara di luar sana, kompetitor terus:

  • Mencoba pendekatan baru
  • Mengembangkan sistem
  • Meningkatkan kualitas tim

Bukan karena mereka lebih kuat,
tapi karena mereka tidak berhenti berbenah.


Ketika Beban Berkumpul di Satu Titik

Ada satu pola yang cukup sering terjadi:

Semakin banyak hal bergantung pada satu atau dua orang.

Mereka menjadi:

  • Pengambil keputusan
  • Eksekutor utama
  • Problem solver
  • Bahkan kadang jadi “penopang” seluruh sistem

Di satu sisi, ini menunjukkan kepercayaan.
Namun di sisi lain, ini juga bisa menjadi tanda:

Perusahaan belum benar-benar membangun sistem, tapi masih bertumpu pada individu.

Karena perusahaan yang bertumbuh:
➡️ Beban tersebar
➡️ Peran jelas
➡️ Kapasitas kolektif meningkat

Bukan terpusat.


Cara Pandang yang Perlu Diperhatikan

Dalam banyak keputusan bisnis, ada satu sudut pandang yang sering muncul:

👉 Menambah orang = menambah biaya

Dan itu tidak sepenuhnya salah.

Namun ada pertanyaan lain yang mungkin jarang diajukan:

👉 Jika tidak menambah kapasitas, bagaimana bisnis bisa naik level?

Karena pada akhirnya:

  • Pertumbuhan membutuhkan eksekusi
  • Eksekusi membutuhkan waktu
  • Waktu manusia terbatas

Jika semua tetap ditahan di kapasitas yang sama,
maka pertumbuhan pun ikut tertahan.


Berkembang Memang Tidak Nyaman

Perubahan hampir selalu membawa:

  • Ketidakpastian
  • Penyesuaian
  • Risiko
  • Tambahan kompleksitas

Itulah sebabnya banyak organisasi memilih bertahan di pola yang sudah ada.

Namun di dunia bisnis yang terus bergerak,
tidak berkembang bukan berarti aman.

Seringkali justru:
perlahan-lahan tertinggal.


Pertanyaan yang Layak Dipikirkan

Tanpa menyalahkan siapa pun, mungkin ada beberapa hal yang bisa direnungkan:

  • Apakah saat ini bisnis kita sedang berkembang, atau hanya berjalan?
  • Apakah sistem sudah cukup kuat, atau masih bergantung pada individu tertentu?
  • Apakah kita sedang menjaga stabilitas… atau tanpa sadar menahan pertumbuhan?

Menjaga bisnis tetap berjalan adalah pencapaian.
Tidak semua perusahaan bisa sampai di titik itu.

Namun mungkin, di balik stabilitas yang ada,
tersimpan potensi yang jauh lebih besar.

Bukan karena ada yang salah,
tetapi karena selalu ada ruang untuk bertumbuh.

Dan terkadang,
perubahan besar tidak dimulai dari langkah besar—
tetapi dari satu kesadaran sederhana:

Bahwa berjalan saja tidak cukup

Setiap Idul Adha, kita melihat hal yang sama.

Hewan qurban berjejer.
Panitia sibuk sejak pagi.
Daging dibagikan ke banyak orang.

Ada rasa bahagia…
ketika melihat hewan qurban kita disembelih.

Dan itu wajar.


Di Sini, Daging Bisa Menumpuk

Di kota, tidak jarang:

  • Satu keluarga menerima daging lebih dari sekali
  • Sebagian disimpan di kulkas
  • Bahkan ada yang tidak habis

Semua terasa cukup.

Bahkan lebih.


Tapi Di Tempat Lain… Ceritanya Berbeda

Di sebuah kampung di Nusa Tenggara Timur…

Ada seorang bapak yang sudah bertahun-tahun
tidak pernah mendapatkan daging qurban.

Bukan karena tidak butuh.
Tapi karena tidak kebagian.

Ia tinggal di lingkungan minoritas.
Ia juga tidak pernah meminta.

Dan setiap tahun…
ia hanya bisa menunggu.

Tanpa kepastian.

 


Bagi Kita Biasa… Bagi Mereka Sangat Berarti

Di wilayah lain…

Saat daging qurban dibagikan,
satu keluarga bisa menyimpannya hingga beberapa hari.

Bukan karena berlebih.

Tapi karena itu satu-satunya kesempatan mereka
merasakan daging.

Dalam setahun.

 


Ada yang Sampai Menangis Saat Menerima

Di Takari…

Seorang ibu menerima daging qurban.
Ia bukan Muslim.

Dan ia menangis.

“kami hampir sonde pernah makan daging…”

Bukan karena banyaknya daging.

Tapi karena…
akhirnya mereka merasakan.

 


Qurban di Sana… Bukan Sekadar Ibadah

Di pelosok, qurban bukan hanya tentang daging.

Qurban bisa:

  • Menguatkan persaudaraan lintas agama
  • Menjadi penguat iman bagi muallaf
  • Menjadi syiar yang hidup di tengah keterbatasan

Bahkan…
bisa menjadi alasan seseorang semakin dekat dengan Islam.

 


Sementara Kita… Kadang Lupa Bertanya

Kita sering memilih tempat qurban karena:

  • Dekat
  • Sudah biasa
  • Ingin melihat langsung

Dan itu tidak salah.

Tapi mungkin…

kita jarang bertanya:

Apakah qurban saya hanya selesai…
atau benar-benar sampai?


Bukan Soal Salah atau Benar

Qurban kita tetap sah.
Tetap bernilai.

Tapi ada satu hal yang bisa kita perbaiki:

Distribusinya


Karena Dampaknya Bisa Sangat Berbeda

Di satu tempat:
daging tersimpan di kulkas

Di tempat lain:
ada yang menunggu… tanpa kepastian

Dan di antara keduanya…

kita punya pilihan.


Mungkin Tidak Perlu Mengubah Semuanya

Tidak harus semua qurban dipindahkan.
Tidak harus langsung berubah total.

Tapi mungkin…

cukup satu keputusan kecil:

mengirim qurban ke tempat yang benar-benar membutuhkan


Qurban kita sudah baik.

Tapi ia bisa menjadi lebih dari sekadar baik.

Ia bisa menjadi:

  • kebahagiaan yang ditunggu
  • harapan yang datang setahun sekali
  • dan manfaat yang benar-benar terasa