Mengapa Banyak Organisasi Salah Menentukan Target?
ArtikelSetiap awal tahun, hampir semua organisasi melakukan hal yang sama.
Mengadakan rapat kerja.
Menyusun program.
Lalu menetapkan target.
“Tahun ini omzet harus naik.”
“Tahun depan pelanggan harus bertambah.”
“Penghimpunan harus meningkat.”
“Aset harus lebih besar.”
Target memang penting.
Tanpa target, organisasi akan berjalan tanpa arah.
Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan.
Apakah target tersebut benar-benar bisa dicapai dengan kemampuan organisasi yang ada?
Target Itu Mudah Dibuat
Menentukan target sebenarnya sangat mudah.
Tahun ini Rp500 juta.
Tahun depan Rp1 miliar.
Selesai.
Hanya butuh beberapa detik.
Tetapi…
Mencapai target itulah yang membutuhkan kerja keras.
Sayangnya, banyak organisasi berhenti sampai di sini.
Mereka merasa tugas selesai setelah angka target ditetapkan.
Padahal, justru pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Banyak organisasi menentukan target seperti ini.
Ingin hasil lebih besar.
↓
Naikkan target.
↓
Minta karyawan bekerja lebih keras.
Sekilas terlihat masuk akal.
Namun…
Kalau cara berpikirnya seperti ini, hasilnya sering kali hanya dua.
Target tidak tercapai.
Atau…
Karyawan kelelahan.
Yang Seharusnya Dilakukan
Sebelum menentukan target, ada beberapa pertanyaan yang seharusnya dijawab terlebih dahulu.
Apa saja pekerjaan yang harus dilakukan agar target itu tercapai?
Siapa yang akan mengerjakannya?
Berapa banyak waktu yang dibutuhkan?
Apakah jumlah SDM sudah cukup?
Apakah orang-orangnya memiliki kemampuan yang dibutuhkan?
Apakah ada anggaran untuk mendukungnya?
Apakah sistem kerjanya sudah memadai?
Kalau semua pertanyaan itu belum dijawab…
Lalu target langsung ditetapkan…
Maka sebenarnya organisasi sedang berharap tanpa perencanaan.
Membangun Rumah
Bayangkan Anda ingin membangun sebuah rumah.
Apakah langkah pertama adalah menentukan tanggal selesai?
Tentu tidak.
Yang pertama dihitung adalah:
Berapa luas rumahnya.
Berapa jumlah tukangnya.
Berapa kebutuhan materialnya.
Berapa lama waktu pengerjaannya.
Berapa biaya yang dibutuhkan.
Baru setelah semuanya dihitung…
Ditentukan target selesai.
Aneh rasanya kalau kita begitu teliti saat membangun rumah, tetapi ketika mengelola organisasi kita hanya berkata:
“Pokoknya tahun depan hasilnya harus dua kali lipat.”
Target Tidak Bisa Berdiri Sendiri
Misalnya sebuah perusahaan ingin meningkatkan penjualan.
Lalu target dinaikkan dua kali lipat.
Tetapi…
Jumlah sales tetap.
Anggaran promosi tetap.
Produk tetap.
Sistem tetap.
Pelatihan tidak ada.
Peralatan tidak bertambah.
Lalu perusahaan berharap hasilnya naik dua kali lipat.
Pertanyaannya…
Apa yang sebenarnya berubah selain angka target?
Hasil Selalu Mengikuti Kemampuan
Dalam kehidupan sehari-hari kita memahami satu hal sederhana.
Kalau ingin panen lebih banyak…
Petani memperbaiki benihnya.
Menambah pupuk.
Memperbaiki irigasi.
Mengolah lahannya lebih baik.
Kalau ingin produksi pabrik meningkat…
Perusahaan membeli mesin baru.
Menambah operator.
Memperbaiki proses produksi.
Semua orang memahami itu.
Namun anehnya…
Dalam organisasi, sering kali kita berharap hasil meningkat tanpa mengubah apa pun.
Orang Bekerja dengan Waktu yang Sama
Setiap orang hanya memiliki waktu yang sama.
Sekitar delapan jam kerja setiap hari.
Kalau seseorang diminta mengerjakan lima pekerjaan, mungkin masih bisa diselesaikan.
Tetapi kalau ia diminta mengerjakan lima belas pekerjaan…
Lalu targetnya tetap dinaikkan…
Masalahnya bukan lagi pada semangat kerja.
Masalahnya adalah kapasitas.
Karena sehebat apa pun seseorang, waktu yang dimilikinya tetap sama.
Bekerja Lebih Keras Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah
Ada anggapan bahwa target tinggi akan membuat orang bekerja lebih keras.
Memang benar.
Tetapi hanya sampai batas tertentu.
Setelah itu…
Orang mulai lelah.
Kesalahan meningkat.
Kualitas pekerjaan menurun.
Ide-ide baru mulai hilang.
Motivasi berkurang.
Bahkan orang terbaik pun bisa mengalami kelelahan.
Artinya…
Bekerja lebih keras tidak selalu menghasilkan hasil yang lebih besar.
Kadang yang dibutuhkan bukan kerja lebih keras.
Tetapi sistem yang lebih baik.
Sebelum Menambah Target, Tambahkan Kemampuan
Kalau organisasi ingin hasil yang lebih besar…
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan.
Menambah SDM.
Meningkatkan kemampuan tim.
Memperbaiki sistem kerja.
Memanfaatkan teknologi.
Menambah anggaran.
Memperjelas pembagian tugas.
Membangun kolaborasi yang lebih baik.
Dengan kata lain…
Yang ditingkatkan bukan hanya targetnya.
Tetapi juga kemampuan organisasinya.
Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Orang
Ketika target tidak tercapai…
Pertanyaan yang paling sering muncul adalah:
“Siapa yang salah?”
Padahal mungkin ada pertanyaan yang lebih penting.
“Apakah organisasi sudah menyediakan kemampuan yang cukup untuk mencapai target tersebut?”
Karena tidak semua kegagalan berasal dari orang yang mengerjakannya.
Sering kali kegagalan berasal dari cara organisasi merencanakan pekerjaannya.
Target yang Baik Selalu Diikuti Perencanaan
Target memang harus menantang.
Tetapi target juga harus realistis.
Bukan berarti mudah.
Melainkan didukung oleh rencana yang jelas.
Apa yang akan dikerjakan.
Siapa yang mengerjakan.
Berapa lama waktunya.
Apa saja yang dibutuhkan.
Bagaimana cara mengukurnya.
Tanpa itu semua…
Target hanya menjadi angka di atas kertas.
Target bukanlah masalah.
Justru organisasi tanpa target akan sulit berkembang.
Yang menjadi masalah adalah ketika target hanya ditentukan berdasarkan keinginan, tanpa memperhitungkan kemampuan organisasi untuk mencapainya.
Sebelum bertanya,
“Mengapa target kita tidak tercapai?”
Mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting.
“Apakah kita sudah membangun kemampuan yang cukup untuk mencapai target tersebut?”
Karena organisasi yang hebat bukanlah organisasi yang menetapkan target paling tinggi.
Organisasi yang hebat adalah organisasi yang mampu menyelaraskan antara target, sumber daya, dan cara kerja, sehingga setiap target yang ditetapkan benar-benar memiliki peluang untuk dicapai.
“Target adalah harapan. Kemampuan adalah kenyataan. Organisasi yang bijak tidak hanya berani menetapkan harapan yang tinggi, tetapi juga berani membangun kemampuan untuk mewujudkannya.”



