Siapa Sebenarnya yang Disubsidi di Sebuah Perusahaan?
ArtikelDi banyak perusahaan, sering terdengar kalimat seperti ini.
“Divisi itu masih disubsidi oleh perusahaan.”
Atau…
“Mereka belum mampu menghidupi divisinya sendiri.”
Biasanya, kalimat tersebut ditujukan kepada divisi yang belum menghasilkan pendapatan secara langsung.
Sekilas terdengar logis.
Namun, pernahkah kita bertanya…
Sebenarnya, siapa yang tidak disubsidi di sebuah perusahaan?
Benarkah hanya satu atau dua divisi yang disubsidi?
Mari kita berpikir sederhana.
Sebuah perusahaan memperoleh pendapatan dari aktivitas bisnisnya.
Keuntungan tersebut kemudian digunakan untuk membayar:
- gaji karyawan,
- biaya operasional,
- listrik,
- internet,
- kendaraan,
- perlengkapan kantor,
- hingga berbagai kebutuhan perusahaan lainnya.
Lalu mari kita lihat setiap divisi.
Sales menghasilkan penjualan.
Business Development menghasilkan pelanggan baru.
Bagian bisnis menghasilkan pendapatan.
Namun bagaimana dengan:
- HRD,
- IT,
- Customer Service,
- Operasional,
- Akuntansi,
- Legal,
- Satpam,
- Cleaning Service,
- Office Boy,
- Sopir?
Apakah mereka menghasilkan pendapatan secara langsung?
Tidak.
Kalau begitu…
Bukankah gaji mereka juga berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan?
Artinya…
Mereka pun sebenarnya disubsidi oleh pendapatan perusahaan.
Kalau logikanya demikian, hampir seluruh divisi di perusahaan sebenarnya menerima subsidi silang dari divisi yang menghasilkan pendapatan.
Subsidi bukan sesuatu yang salah
Sering kali kata subsidi dipahami sebagai sesuatu yang negatif.
Padahal dalam dunia bisnis, subsidi silang adalah hal yang sangat wajar.
Divisi yang menghasilkan pendapatan memungkinkan perusahaan membiayai divisi lain.
Sebaliknya, divisi yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung memastikan divisi bisnis dapat bekerja dengan baik.
Bayangkan jika perusahaan menghilangkan seluruh divisi yang dianggap “tidak menghasilkan uang”.
Tidak ada HRD.
Tidak ada IT.
Tidak ada akuntansi.
Tidak ada operasional.
Tidak ada Customer Service.
Tidak ada satpam.
Tidak ada cleaning service.
Apakah perusahaan masih bisa berjalan?
Tentu tidak.
Artinya, subsidi bukanlah masalah.
Justru subsidi adalah konsekuensi dari sebuah organisasi yang bekerja sebagai satu kesatuan.
Perusahaan bukan hanya mesin pencetak uang
Sebuah perusahaan bukan hanya terdiri dari orang-orang yang menjual produk.
Perusahaan adalah sebuah sistem.
Di dalam sistem itu, setiap orang memiliki fungsi yang berbeda.
Ada yang bertugas menghasilkan pendapatan.
Ada yang menjaga operasional.
Ada yang memastikan pelayanan tetap baik.
Ada yang mengembangkan SDM.
Ada yang menjaga keamanan.
Ada yang mengelola teknologi.
Ada yang memastikan laporan keuangan benar.
Semuanya bekerja agar perusahaan tetap hidup.
Sama seperti tubuh manusia.
Jantung memang memompa darah.
Namun apakah paru-paru disubsidi oleh jantung?
Apakah ginjal menjadi beban karena tidak memompa darah?
Apakah otak harus menghasilkan darah agar dianggap berguna?
Tentu tidak.
Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.
Begitu pula perusahaan.
Profit Center dan Cost Center
Dalam dunia manajemen dikenal dua jenis fungsi.
Profit Center
Yaitu unit yang memang diberi tanggung jawab menghasilkan pendapatan atau keuntungan.
Misalnya:
- Sales.
- Business Development.
- Divisi bisnis.
- Konsultan.
Sedangkan ada…
Cost Center
Yaitu unit yang membutuhkan biaya operasional, tetapi bertugas mendukung agar perusahaan mampu menghasilkan keuntungan.
Misalnya:
- HRD.
- IT.
- Operasional.
- Customer Service.
- Keuangan.
- Legal.
- Keamanan.
- Kebersihan.
Cost center memang disubsidi oleh perusahaan.
Namun bukan berarti mereka tidak memberikan nilai.
Tanpa mereka, profit center pun sering kali tidak dapat bekerja secara optimal.
Kesalahan Terbesar Banyak Perusahaan
Kesalahan terbesar bukanlah adanya subsidi.
Kesalahan terbesar adalah ketika perusahaan hanya mempertanyakan subsidi pada sebagian divisi, sementara divisi lain tidak pernah diminta mempertanggungjawabkan kontribusinya.
Divisi yang berhubungan langsung dengan pendapatan biasanya memiliki target yang jelas.
Sales ditargetkan omzet.
Marketing ditargetkan penjualan.
Business Development ditargetkan pelanggan baru.
Setiap bulan mereka diminta mempertanggungjawabkan hasil kerjanya.
Namun bagaimana dengan divisi lainnya?
Berapa perusahaan yang secara rutin bertanya kepada HRD:
“Value apa yang sudah Anda berikan bulan ini?”
Berapa perusahaan yang meminta IT menjelaskan:
“Efisiensi apa yang berhasil Anda ciptakan?”
Berapa perusahaan yang meminta bagian operasional menunjukkan:
“Perbaikan proses apa yang sudah Anda lakukan?”
Berapa perusahaan yang meminta bagian umum menjelaskan:
“Penghematan apa yang berhasil Anda hasilkan?”
Sering kali pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak pernah muncul.
Akibatnya lahirlah dua standar.
Ada divisi yang terus dituntut menunjukkan kontribusinya.
Sementara ada divisi lain yang seolah otomatis dianggap memberikan kontribusi, tanpa pernah benar-benar diukur.
Padahal seluruh divisi menerima subsidi yang sama, yaitu gaji dan fasilitas yang berasal dari pendapatan perusahaan.
Yang Seharusnya Diukur Bukan Subsidi, Melainkan Value
Misalkan perusahaan menggaji seseorang sebesar Rp10 juta setiap bulan.
Pertanyaan yang tepat bukanlah:
“Apakah dia mampu menghidupi divisinya sendiri?”
Tetapi…
“Dengan investasi Rp10 juta setiap bulan, value apa yang sudah ia berikan kepada perusahaan?”
Inilah pertanyaan yang jauh lebih adil.
Karena setiap divisi memiliki fungsi yang berbeda.
Maka value yang dihasilkan pun berbeda.
Contohnya…
Sales
Value yang diharapkan:
- penjualan meningkat,
- pelanggan baru bertambah,
- omzet tumbuh.
Customer Service
Value yang diharapkan:
- pelanggan puas,
- komplain menurun,
- loyalitas meningkat.
HRD
Value yang diharapkan:
- SDM lebih kompeten,
- produktivitas meningkat,
- turnover menurun,
- budaya kerja membaik.
IT
Value yang diharapkan:
- sistem stabil,
- pekerjaan lebih cepat,
- keamanan data terjaga,
- efisiensi meningkat.
Operasional
Value yang diharapkan:
- proses lebih cepat,
- kesalahan berkurang,
- pelayanan lebih baik,
- biaya operasional lebih efisien.
Keuangan
Value yang diharapkan:
- laporan akurat,
- risiko terkendali,
- kepatuhan terhadap regulasi,
- dasar pengambilan keputusan yang lebih baik.
Masing-masing memang menerima subsidi dari perusahaan.
Tetapi masing-masing juga memiliki tanggung jawab menghasilkan value sesuai dengan perannya.
Jadi siapa yang sebenarnya layak dipertanyakan?
Bukan divisi yang disubsidi.
Karena hampir semua divisi memang disubsidi.
Yang seharusnya dipertanyakan adalah:
Apakah subsidi yang diberikan perusahaan telah berubah menjadi value bagi organisasi?
Karena orang yang menerima gaji tetapi:
- tidak produktif,
- tidak memiliki target yang jelas,
- tidak menyelesaikan pekerjaannya,
- tidak mau belajar,
- tidak memberikan dampak,
- tidak membantu organisasi bertumbuh,
maka di situlah perusahaan perlu melakukan evaluasi.
Sebaliknya…
Seseorang yang mampu meningkatkan efisiensi, menjaga kepuasan pelanggan, memperkuat reputasi perusahaan, mengurangi risiko, menciptakan inovasi, atau membantu perusahaan berkembang, tetap memberikan nilai yang besar meskipun tidak menghasilkan pendapatan secara langsung.
Ubah Cara Berpikir: Dari “Disubsidi” Menjadi “Berinvestasi”
Setiap kali perusahaan membayar gaji kepada seorang karyawan, sesungguhnya perusahaan sedang berinvestasi.
Sebagaimana investasi lainnya, tentu perusahaan berharap adanya return.
Namun return itu tidak selalu berbentuk keuntungan finansial.
Ia bisa berupa:
- peningkatan pendapatan,
- efisiensi operasional,
- pelayanan yang lebih baik,
- loyalitas pelanggan,
- keamanan aset,
- inovasi,
- reputasi perusahaan,
- kepercayaan masyarakat,
- maupun pertumbuhan organisasi dalam jangka panjang.
Karena itu, setiap divisi seharusnya mampu menjawab satu pertanyaan sederhana.
“Jika perusahaan terus menginvestasikan biaya kepada divisi kami, value apa yang kami hasilkan sebagai imbal balik?”
Semakin besar value yang diciptakan, semakin besar pula alasan perusahaan untuk terus berinvestasi pada divisi tersebut.
Perdebatan tentang divisi yang “masih disubsidi” sering kali muncul karena kita hanya melihat siapa yang menghasilkan pendapatan secara langsung.
Padahal kenyataannya, hampir seluruh divisi dalam sebuah perusahaan menerima subsidi silang dari keuntungan yang dihasilkan organisasi.
Perbedaannya bukan pada siapa yang disubsidi.
Perbedaannya terletak pada siapa yang mampu mengubah subsidi tersebut menjadi value bagi perusahaan.
Karena itu, perusahaan yang sehat bukanlah perusahaan yang sibuk mempertanyakan siapa yang masih disubsidi.
Melainkan perusahaan yang memastikan setiap divisi, tanpa terkecuali, mampu menunjukkan kontribusi sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya.
Sales menunjukkan value melalui penjualan.
HRD melalui kualitas SDM.
IT melalui efisiensi.
Operasional melalui pelayanan.
Keuangan melalui akurasi dan pengendalian risiko.
Masing-masing memiliki indikator yang berbeda, tetapi tujuan akhirnya sama.
Mengubah setiap rupiah yang diinvestasikan perusahaan menjadi nilai yang membuat organisasi terus bertumbuh.
Sebab pada akhirnya, bukan soal siapa yang disubsidi.
Melainkan, siapa yang mampu membuktikan bahwa subsidi tersebut adalah investasi yang layak dipertahankan.


