Mengapa yang Islami Malah Tidak Lebih Islami?

Fenomena yang Membuat Geleng Kepala

Kita sering mendengar kalimat yang cukup menohok di masyarakat:

  • “Mending ga pakai jilbab tapi jujur, daripada pakai jilbab tapi korupsi.”

  • “Mending sekolah umum, di pesantren malah ga benar.”

  • “Mending lembaga umum, yang syariah malah ga profesional.”

Kalimat-kalimat itu lahir bukan dari ruang kosong. Ada pengalaman pahit dan kekecewaan nyata yang membuat orang membandingkan antara yang berlabel “Islami” dengan yang umum. Ironisnya, sering kali yang umum justru tampil lebih rapi, amanah, dan profesional.


Islam Itu Sempurna, Kita yang Belum

Islam memadukan dua hal: ibadah ritual (shalat, zakat, jilbab) dan akhlak sosial (jujur, adil, amanah).

Sayangnya, banyak yang hanya menonjolkan simbol. Jilbab dipakai, label syariah ditempel, pesantren berdiri—tapi akhlak dan tata kelola diabaikan. Padahal Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Maka, ketika ada orang non-muslim atau lembaga umum yang lebih jujur dan profesional, itu bukan karena Islam kalah, melainkan kita—umat Islam—yang belum menampilkan wajah Islam seutuhnya.


Mengapa Bisa Begitu?

Ada beberapa akar masalah yang membuat “yang Islami” tidak selalu tampak lebih Islami:

  1. Fokus pada simbol, lupa substansi
    Nama “syariah” dipakai, tapi sistem dan manajemen seadanya.

    🔎 Contoh: Ada koperasi syariah yang gencar promosi, tapi laporan keuangannya tidak pernah terbuka. Akhirnya masyarakat justru lebih percaya pada koperasi umum yang transparan dan rutin menyampaikan laporan.

  2. SDM belum siap
    Banyak lembaga syariah lahir dari semangat dakwah, tapi tidak dibekali skill manajerial.

    🔎 Contoh: Sebuah pesantren punya niat baik membuka unit usaha, tapi karena pengelola tidak memahami akuntansi modern, usaha malah kolaps. Sementara itu, warung kecil milik masyarakat umum bisa bertahan karena dikelola disiplin.

  3. Mindset tradisional
    Pengelolaan lembaga syariah sering masih manual, penuh pendekatan kekeluargaan, tanpa SOP jelas.

    🔎 Contoh: Lembaga zakat di sebuah daerah masih mencatat donasi di buku tulis, tanpa sistem digital. Donatur jadi ragu, sementara lembaga umum sudah pakai aplikasi real-time yang bisa dicek transparansinya.

  4. Enggan belajar dari yang maju
    Ada rasa “gengsi” untuk meniru manajemen profesional lembaga umum, seolah-olah itu mengurangi kesyariahan.

    🔎 Contoh: Bank syariah di daerah kecil masih bergantung pada sistem manual karena dianggap “lebih sederhana”, padahal bank konvensional sudah lama beralih ke digitalisasi. Akhirnya, pelayanan syariah terasa lamban dan tidak kompetitif.

Baca Juga  Bagaimana Membayar Fidyah Jika Lupa Jumlah Hari Puasa yang Ditinggalkan?

Dampaknya di Masyarakat

  • Hilangnya kepercayaan. Orang lebih memilih lembaga umum karena lebih aman dan terpercaya.

  • Simbol agama tercoreng. Label syariah dianggap tidak menjamin kualitas.

  • Potensi umat tersia-siakan. Dana, SDM, dan kesempatan yang seharusnya jadi kekuatan Islam malah lari ke lembaga umum.


Seharusnya Bagaimana?

Kita tidak bisa memilih antara akhlak atau syariat. Keduanya satu paket.

  • Lebih unggul dari yang umum. Motivasi iman, amanah, barokah, dan hisab akhirat seharusnya menjadikan lembaga Islami lebih kuat.

  • Transparan dan akuntabel. Profesionalisme adalah bagian dari amanah.

  • Berani belajar. Gunakan standar manajemen modern, isi dengan ruh Islam.


Cermin untuk Kita

Fenomena “mending umum daripada syariah” bukan sekadar sindiran, tapi alarm. Kalau yang umum bisa lebih profesional, kenapa kita yang membawa nama Islam tidak bisa lebih unggul?

Islam tetap sempurna. Tapi umatnya harus berani membuktikan bahwa “yang Islami” benar-benar lebih Islami—bukan hanya di nama, tapi juga di akhlak, sistem, dan profesionalitas.