Siapa yang Bekerja, Siapa yang Membebani? Refleksi tentang Efektivitas dan Efisiensi Kerja

Di banyak organisasi, ada pemandangan yang berulang: satu tim berangkat beramai-ramai—empat sampai lima orang—naik satu mobil untuk sebuah pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh satu atau dua orang. Di sisi lain, ada individu yang bekerja sendirian, memikul perencanaan, eksekusi, hingga evaluasi, namun justru dipertanyakan nilai kontribusinya.

Pertanyaannya sederhana namun krusial: apa sebenarnya makna bekerja efektif dan efisien? Dan lebih jauh lagi, siapa yang sesungguhnya menjadi beban dalam sebuah sistem perusahaan?


1. Efektif dan Efisien: Dua Kata yang Sering Disalahpahami

Efektif berarti pekerjaan yang dilakukan tepat sasaran—hasilnya nyata dan berdampak pada tujuan organisasi. Efisien berarti pekerjaan itu dilakukan dengan penggunaan sumber daya seminimal mungkin—waktu, tenaga, biaya, dan orang.

Masalah muncul ketika efektivitas dan efisiensi digeser menjadi sekadar tampilan aktivitas: banyak orang terlibat, banyak jam terpakai, banyak kendaraan bergerak. Aktivitas terlihat ramai, tetapi dampaknya minim.

Organisasi yang dewasa tidak menilai kerja dari berapa orang yang berangkat, melainkan apa yang benar-benar berubah setelah pekerjaan selesai.


2. Ilusi Produktivitas: Ramai Tidak Selalu Bermakna

Kerja berombongan sering dianggap wajar dengan alasan:

  • kebersamaan tim,

  • keamanan,

  • atau sekadar “sudah biasa begitu”.

Namun jika satu tugas operasional sederhana memerlukan empat sampai lima orang, ada dua kemungkinan:

  1. Desain kerjanya tidak efisien, atau

  2. Peran individu tidak pernah didefinisikan dengan jelas.

Akibatnya, biaya operasional membengkak tanpa peningkatan kualitas hasil. Ini bukan soal orangnya malas, tetapi soal sistem yang membiarkan pemborosan terjadi berulang kali.


3. Standar Ganda dalam Menilai Kontribusi

Ironinya, di banyak lembaga, orang yang bekerja dengan pendekatan sistem—merencanakan, mengeksekusi, dan menjaga keberlanjutan—justru dituntut memenuhi standar paling keras: hasil harus langsung terlihat dan terukur dalam angka kas.

Sementara itu, aktivitas yang boros sumber daya sering luput dari evaluasi karena:

  • dilakukan beramai-ramai,

  • terlihat sibuk,

  • dan sudah menjadi kebiasaan struktural.

Baca Juga  Aceh Terdampak Banjir Parah, Kebaikan Anda datang untuk Nyalakan Harapan di Beberapa Titik

Di sinilah muncul standar ganda: yang bekerja efisien dipertanyakan, yang bekerja boros dibiarkan.


4. Siapa Sebenarnya yang Menjadi Beban?

Beban dalam organisasi bukanlah orang yang bekerja sendirian namun berdampak. Beban sejati adalah:

  • Proses kerja yang tidak pernah dievaluasi

  • Pembagian tugas yang kabur

  • Budaya “yang penting ramai”

  • Penggunaan sumber daya yang tidak sebanding dengan hasil

Sistem seperti ini perlahan menggerus kepercayaan, moral kerja, dan keberlanjutan lembaga. Orang yang masih berpikir rasional akan merasa lelah, sementara pemborosan menjadi hal yang dinormalisasi.


5. Menuju Kerja yang Sehat dan Adil

Agar organisasi benar-benar bekerja efektif dan efisien, beberapa prinsip mendasar perlu ditegakkan:

  1. Tegaskan tujuan setiap aktivitas – apa hasil nyatanya?

  2. Batasi jumlah orang sesuai kebutuhan kerja – bukan kebiasaan.

  3. Nilai kontribusi dari dampak, bukan keramaian.

  4. Evaluasi sistem, bukan hanya individu.

Ketika prinsip ini dijalankan, barulah istilah “beban” menemukan maknanya yang tepat—bukan pada orang yang bekerja keras sendirian, melainkan pada sistem yang gagal menggunakan sumber dayanya secara bijak.


Bekerja efektif dan efisien bukan soal mengurangi orang, melainkan menempatkan orang secara tepat. Bukan soal siapa yang paling terlihat sibuk, tetapi siapa yang paling memberi dampak.

Dan sering kali, yang perlu dibenahi bukan manusianya—melainkan cara organisasi itu bekerja.