Ketika Qurban Berubah Jadi “Request Daging Favorit”

Idul Adha selalu membawa suasana yang hangat.

Takbir berkumandang.
Orang-orang berkumpul.
Anak-anak menunggu pembagian daging.
Dan masjid menjadi ramai sejak pagi.

Namun di balik suasana itu, ada satu hal kecil yang kadang mulai terasa mengganggu:

“Pak, saya minta iga ya.”
“Kalau bisa buntutnya buat saya.”
“Has dalam jangan dibagi semua.”

Mungkin terdengar sepele.
Dan memang, pequrban boleh menikmati daging qurbannya sendiri.

Tapi pernahkah kita membayangkan…

kalau semua orang request bagian terenak,
sisanya tinggal apa?

Padahal qurban bukan sedang membeli sapi.
Bukan sedang memesan paket daging premium.
Dan bukan juga momen untuk mendapatkan bagian terbaik.

Qurban adalah latihan melepaskan.

Ketika Semua Ingin Bagian Terbaik

Coba bayangkan situasi panitia qurban.

Satu orang minta buntut.
Satu orang minta iga.
Yang lain minta has dalam.
Yang lain lagi titip pesan jangan dicampur bagian tertentu.

Kalau satu sapi dipenuhi banyak permintaan seperti itu,
akhirnya pembagian jadi tidak seimbang.

Ada penerima yang hanya mendapatkan bagian biasa.
Ada panitia yang bahkan tidak kebagian layak.
Dan ada masyarakat yang sebenarnya sangat jarang makan daging, justru menerima bagian seadanya.

Padahal semangat qurban sejak awal adalah:
berbagi kebahagiaan.

Bukan memaksimalkan jatah pribadi.

Rasulullah ﷺ Memang Membolehkan Makan Daging Qurban

Islam tidak melarang pequrban menikmati hasil qurbannya.

Bahkan Rasulullah ﷺ juga makan daging qurbannya.

Karena Idul Adha memang hari syukur.
Hari makan.
Hari berbagi.

Tetapi ada perbedaan besar antara:
“ikut menikmati”
dengan
“sibuk memilih bagian terbaik.”

Yang satu adalah rasa syukur.
Yang satu lagi bisa berubah menjadi sikap berlebihan.

Dan sayangnya,
kadang tanpa sadar,
qurban mulai terasa seperti rebutan bagian favorit.

Baca Juga  Sedekah Bisa Sembuhkan Sakit?

Padahal Di Tempat Lain, Daging Adalah Kemewahan

Di kota-kota besar,
daging qurban sering menumpuk.

Freezer penuh.
Sebagian bahkan tidak habis dimakan.

Namun di banyak pelosok,
ada keluarga yang mungkin hanya sekali setahun merasakan daging.

Ada anak-anak yang begitu bahagia hanya karena mendapatkan satu kantong kecil daging qurban.

Mereka tidak memilih iga.
Tidak meminta buntut.
Tidak bertanya bagian mana yang paling empuk.

Karena bagi mereka,
mendapat daging saja sudah menjadi kebahagiaan besar.

Qurban Itu Tentang Hati

Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Artinya,
yang paling penting bukan:
berapa besar sapinya,
bagian apa yang kita dapat,
atau seberapa enak yang kita makan.

Tetapi:
seberapa besar hati kita saat berqurban.

Apakah qurban membuat kita semakin ringan berbagi?

Atau justru semakin sibuk memikirkan:
“saya dapat bagian apa?”

Tidak Salah, Tapi Jangan Berlebihan

Kalau sesekali pequrban ingin menikmati sebagian dagingnya sendiri, itu wajar.

Namun alangkah indahnya jika kita mulai belajar:
tidak terlalu banyak meminta.

Tidak terlalu sibuk memilih bagian.

Tidak merepotkan panitia.

Karena bisa jadi,
bagian yang sedang kita minta itu,
adalah bagian terbaik yang seharusnya bisa lebih membahagiakan orang lain.

Dan bukankah inti qurban memang tentang mendahulukan daripada didahulukan?