Mengapa Menjelang Akhir Tahun Indonesia Sering Dilanda Bencana?

Memasuki penghujung tahun, ancaman banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem kembali menjadi perhatian. Mengapa bencana-bencana tersebut kerap terjadi menjelang pergantian tahun?

Menjelang akhir tahun, kita sering mendengar kabar bencana dari berbagai daerah di Indonesia. Banjir merendam permukiman, tanah longsor memutus akses jalan, hingga angin kencang merusak rumah warga.

Bagi sebagian masyarakat, akhir tahun bahkan identik dengan datangnya musim hujan dan meningkatnya kewaspadaan terhadap bencana.

Namun, benarkah Indonesia lebih sering dilanda bencana menjelang akhir tahun? Apa penyebabnya? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita dapat mempersiapkan diri untuk mengurangi risikonya?

Akhir Tahun dan Datangnya Musim Hujan

Secara geografis, Indonesia memiliki iklim tropis dengan pola musim yang dipengaruhi oleh angin monsun, suhu permukaan laut, serta berbagai fenomena iklim regional dan global.

Di banyak wilayah Indonesia, musim hujan mulai berlangsung pada sekitar Oktober hingga Desember. Intensitas hujan kemudian meningkat dan mencapai puncaknya pada waktu yang berbeda-beda di setiap daerah.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan 2025/2026 diperkirakan terjadi pada November–Desember 2025 di sebagian wilayah Indonesia bagian barat, sedangkan sejumlah wilayah selatan dan timur mengalami puncaknya pada Januari–Februari 2026.

Artinya, periode akhir tahun hingga awal tahun berikutnya memang menjadi masa yang perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir dan tanah longsor.

Meski demikian, musim hujan tidak selalu datang pada waktu yang sama setiap tahun. Fenomena El Niño, La Niña, dan kondisi Samudra Hindia dapat memengaruhi waktu kedatangan serta intensitas hujan di Indonesia.

Benarkah Jumlah Bencana Meningkat Menjelang Akhir Tahun?

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa ratusan kejadian bencana tercatat selama bulan-bulan penghujung tahun.

Kejadian bencana pada akhir tahun

Data bulanan BNPB, November–Desember 2025

Baca Juga  Menolong Orang Lain Ketika Kita Sendiri Sedang Kesulitan

274

November 

235

Desember

Sumber: Buletin Info Bencana BNPB November dan Desember 2025.

Pada Desember 2025, tercatat 235 kejadian bencana, dengan banjir tetap menjadi salah satu jenis bencana yang mendominasi.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa akhir tahun merupakan periode dengan aktivitas bencana yang tinggi. Namun, data itu tidak berarti November dan Desember selalu menjadi bulan dengan jumlah bencana terbanyak. Polanya dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, iklim, dan kerentanan setiap wilayah.

Mengapa Banjir dan Longsor Sering Terjadi Saat Musim Hujan?

Hujan merupakan proses alam yang sangat penting bagi kehidupan. Namun, curah hujan yang tinggi dapat menimbulkan bencana ketika bertemu dengan kondisi lingkungan yang rentan.

Setidaknya ada empat faktor yang perlu diperhatikan.

Pertama, curah hujan yang tinggi. Hujan deras yang berlangsung lama dapat meningkatkan debit sungai hingga melampaui kapasitasnya. Akibatnya, air meluap dan menggenangi permukiman di sekitarnya.

Kedua, berkurangnya daerah resapan air. Perubahan penggunaan lahan, berkurangnya vegetasi, serta semakin luasnya permukaan yang tertutup bangunan dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan.

Ketiga, kondisi lereng dan tanah. Hujan berkepanjangan dapat membuat tanah semakin jenuh oleh air. Pada lereng yang rentan, kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya tanah longsor.

Keempat, buruknya sistem drainase. Saluran air yang tersumbat sampah atau tidak mampu menampung debit air hujan dapat memperparah genangan dan banjir.

Dengan demikian, tingginya curah hujan bukan satu-satunya penyebab bencana. Kondisi lingkungan, tata ruang, dan kesiapan masyarakat juga berperan dalam menentukan besarnya risiko.

Bagaimana Kondisi Menjelang Akhir Tahun 2026?

Tahun ini, masyarakat perlu memperhatikan perubahan pola musim hujan.

Baca Juga  Tata Cara Shalat Minta Hujan, Shalat Istisqa'

Berdasarkan prakiraan BMKG yang dirilis pada 22 September 2026, musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih lambat daripada biasanya di sekitar 61,08% luas daratan Indonesia.

Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Niño sangat kuat dan pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD), yang berpotensi memperpanjang periode kekeringan di sejumlah wilayah.

Prakiraan puncak musim hujan 2026/2027

Persentase luas daratan Indonesia berdasarkan prakiraan BMKG

 

Prakiraan BMKG per 22 September 2026. Angka menunjukkan wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim hujan pada bulan tersebut, bukan persentase risiko bencana.

Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti prakiraan dan peringatan dini BMKG sesuai daerah tempat tinggalnya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mengurangi Risiko Bencana?

Bencana alam tidak selalu dapat dicegah. Namun, kita dapat melakukan berbagai langkah untuk mengurangi risiko dan dampaknya.

Beberapa tindakan sederhana yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat antara lain:

  1. Memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG serta pemerintah daerah.

  2. Membersihkan saluran air dan tidak membuang sampah ke sungai.

  3. Mengenali jalur evakuasi dan lokasi pengungsian terdekat.

  4. Menyiapkan tas siaga berisi obat-obatan, dokumen penting, makanan, air minum, dan perlengkapan darurat.

  5. Memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan anggota keluarga yang membutuhkan bantuan saat evakuasi.

Kesiapsiagaan juga membutuhkan kerja sama antarwarga. Ketika masyarakat saling mengenal, berbagi informasi, dan mengetahui siapa saja yang memerlukan bantuan, proses evakuasi dapat dilakukan dengan lebih terarah.