Ketika Lembaga Syariah Terlalu Sibuk Mengejar Dunia
SEO 1Ada kegelisahan yang makin sering muncul di ruang-ruang rapat lembaga syariah hari ini.
Bukan tentang kurangnya peluang, bukan pula soal minimnya ide, tetapi tentang fokus yang perlahan bergeser.
Target tercapai atau tidak.
Surplus atau defisit.
Berapa persen pertumbuhan tahun depan.
Pertanyaan-pertanyaan itu sah. Namun ketika ia menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, kita patut berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur:
apakah lembaga syariah sedang berjalan di jalur syariah, atau sekadar membawa label syariah?
Ketika Target Dibahas, Tapi Ruh Terlupa
Di banyak forum dan rapat strategis, target usaha dibahas dengan sangat serius:
berapa persen profit harus naik tahun depan,
berapa margin harus dijaga,
berapa risiko harus ditekan.
Namun jarang sekali terdengar pertanyaan lanjutan yang sama seriusnya:
“Tahun depan, berapa persen dari pendapatan usaha yang akan kita sedekahkan?”
“Berapa orang yang telah menerima dakwah ekonomi syariah dari aktivitas kita?”
“Berapa keluarga yang berubah cara hidupnya karena kita hadir, bukan sekadar menerima bantuan?”
Ketika target profit disusun rapi, tetapi target sedekah tidak pernah ditetapkan,
ketika proyeksi usaha dibicarakan panjang lebar, tetapi proyeksi dampak tidak pernah dihitung,
maka patut kita bertanya tanpa defensif:
apakah kita sedang membangun lembaga syariah, atau lembaga bisnis dengan slogan syariah?
Islam Tidak Mengajarkan Mengejar Rezeki dengan Ketakutan
Dalam Islam, rezeki tidak dijanjikan datang karena kepanikan mengejar dunia.
Ikhtiar adalah kewajiban, kerja adalah ibadah, tetapi kelapangan rezeki tidak lahir dari kecemasan berlebihan terhadap hasil.
Allah mengajarkan jalan yang sering dilupakan:
sedekah,
taubat,
syukur,
silaturahim,
itqon dan kepatuhan pada syariah dalam bisnis.
Ironisnya, jalan-jalan inilah yang sering tidak dijadikan strategi utama, bahkan oleh lembaga yang membawa nama syariah.
Sedekah: Jalan Membesar yang Masih Diragukan
Logika dunia berkata:
“Kalau ingin besar, tahan dulu untuk memberi.”
Logika langit berkata sebaliknya:
“Kalau ingin dilapangkan, beranilah memberi.”
Al-Qur’an tidak pernah menjanjikan sedekah sebagai pengurang, tetapi sebagai pelipatganda.
Namun banyak lembaga masih memberi dengan rasa takut: takut berkurang, takut tidak cukup, takut target tak tercapai.
Padahal sering kali, ketakutan itulah yang menutup pintu keberkahan.
Taubat: Faktor Rezeki yang Jarang Dievaluasi
Islam mengajarkan bahwa dosa bukan hanya urusan akhirat, tetapi juga penghalang kelapangan hidup.
Al-Qur’an mengaitkan taubat dengan hujan, harta, dan keberlimpahan.
Namun hampir tak pernah ada lembaga yang berani mengevaluasi diri secara spiritual:
Apakah ada hak mustahik yang tertahan?
Apakah ada relawan yang kelelahan tanpa dihargai?
Apakah ada keputusan yang mengorbankan nilai demi efisiensi?
Bisa jadi persoalannya bukan pada strategi bisnis, tetapi pintu langit yang tertutup karena lalai membersihkan diri.
Syukur: Strategi Ilahiah yang Diremehkan
Allah tidak berjanji menambah nikmat karena ambisi.
Allah berjanji menambah nikmat karena syukur.
Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi keberanian mengalirkan nikmat.
Menahan kebaikan demi rasa aman semu justru sering membuat lembaga sibuk bertahan, bukan bertumbuh.
Silaturahim: Lebih dari Sekadar Jaringan
Dalam dunia modern, relasi sering dimaknai sebagai alat kepentingan.
Dalam Islam, silaturahim adalah ibadah yang memperpanjang rezeki dan umur.
Ia bukan soal mengenal yang kuat, tetapi memuliakan yang lemah,
bukan soal memperluas jaringan, tetapi tidak memutus hubungan.
Banyak krisis lembaga sejatinya bukan krisis dana, melainkan krisis empati dan hubungan.
Itqon dan Syariah: Tidak Bisa Dipisahkan
Islam mengajarkan itqon—kerja yang rapi, jujur, dan bertanggung jawab.
Namun itqon tanpa syariah hanyalah efisiensi tanpa ruh.
Profesional tapi menekan yang lemah → bukan syariah
Efisien tapi menahan hak → bukan berkah
Rapi tapi kehilangan empati → kehilangan amanah
Bisnis syariah bukan sekadar bebas riba, tetapi bebas dari kezaliman yang disamarkan sebagai kehati-hatian.
Syariah Bukan Label, Tapi Arah Hidup
Islam tidak menolak profit.
Namun Islam menolak profit yang tidak diarahkan.
Keberhasilan lembaga syariah tidak cukup dijawab dengan laporan keuangan, tetapi juga dengan pertanyaan yang lebih jujur:
Apakah usaha ini mendekatkan manusia kepada Allah?
Apakah transaksi ini mengubah cara pandang terhadap harta?
Apakah lembaga ini melahirkan muzakki baru, bukan hanya mengelola mustahik lama?
Jika belum ada keberanian menetapkan:
berapa nilai sedekah dari usaha ke depan, dan
berapa jiwa yang ingin disentuh oleh dakwah ekonomi syariah,
maka syariah berisiko berhenti sebagai narasi indah, bukan jalan hidup.
Karena sejatinya,
rezeki tidak dikejar dengan kepanikan,
tetapi datang kepada mereka yang taat, memberi, bersih, dan percaya pada janji Allah.
Dan di situlah, syariah kembali menemukan jiwanya.



