Ada satu indikator sederhana namun sangat jujur untuk menilai kesehatan sebuah lembaga:
kepada siapa karyawannya berani berbicara ketika ada masalah.

Ketika karyawan lebih memilih mencurahkan kegelisahannya ke luar—kepada teman, komunitas, bahkan media sosial—alih-alih kepada manajemen, sesungguhnya itu bukan sekadar persoalan “etika” atau “rahasia perusahaan”.
Itu adalah alarm keras bahwa komunikasi internal telah gagal menjalankan fungsinya.

Namun yang sering terjadi justru sebaliknya.
Alih-alih bertanya “mengapa mereka tidak berani bicara kepada kami?”, sebagian manajemen memilih bertahan, menutup diri, bahkan melontarkan peringatan dan ancaman:
“Jangan membicarakan masalah internal ke orang luar, itu melanggar etika, itu rahasia lembaga.”

Pertanyaannya: apakah masalahnya benar-benar pada mulut karyawan, atau pada telinga manajemen yang tidak pernah mau mendengar?


Curhat Bukan Masalah Utama, Ketakutanlah Masalah Sebenarnya

Karyawan tidak serta-merta memilih bicara ke luar tanpa sebab.
Dalam banyak kasus, itu lahir dari pengalaman berulang:

  • Pernah bicara, tapi dianggap pembangkangan

  • Pernah menyampaikan kritik, tapi dicap tidak loyal

  • Pernah jujur, tapi justru dipinggirkan

Lambat laun, karyawan belajar satu hal: diam di dalam lebih berbahaya daripada bicara di luar.

Di titik ini, curhat ke luar bukan bentuk pengkhianatan, melainkan mekanisme bertahan hidup secara psikologis.
Dan lembaga yang sehat seharusnya cukup dewasa untuk mengakui fakta ini, bukan menutupinya dengan dalih etika.


Ketika “Rahasia Perusahaan” Menjadi Tameng Anti-Introspeksi

Istilah “rahasia perusahaan” sejatinya dibuat untuk melindungi data strategis, bukan untuk membungkam suara manusia di dalamnya.
Namun dalam praktik, istilah ini sering dipelintir menjadi alat kekuasaan:

  • Kritik disebut pembocoran

  • Keluhan disebut pembangkangan

  • Kejujuran disebut ancaman

Padahal, lembaga yang kuat tidak runtuh karena dibicarakan, tetapi karena tidak pernah mau dibenahi.

Menjaga nama baik lembaga tidak pernah bisa dipisahkan dari keberanian memperbaiki keburukan di dalamnya.


Ini Bukan Sekadar Manajemen, Ini Amanah

Dalam konteks lembaga syariah, persoalan ini jauh lebih serius.
Karena kita tidak hanya bicara soal kinerja, tetapi amanah, keadilan, dan akhlak kepemimpinan.

Islam tidak mengajarkan kepemimpinan yang anti kritik.
Rasulullah ﷺ justru membuka ruang dialog, menerima masukan, bahkan mengubah keputusan ketika nasihat itu benar.

Jika sebuah lembaga mengusung label syariah, tetapi:

  • takut mendengar keluhan internal

  • alergi terhadap kritik

  • dan lebih sibuk mengamankan citra daripada membangun keadilan

maka yang tersisa hanyalah syariah sebagai slogan, bukan sebagai ruh.


Pertanyaan yang Seharusnya Diajukan Manajemen

Daripada sibuk memperingatkan karyawan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk diajukan:

  • Apakah kami menyediakan ruang aman untuk bicara jujur?

  • Apakah setiap kritik selalu dibalas dengan evaluasi, bukan emosi?

  • Apakah struktur kami mendorong dialog, atau hanya kepatuhan?

  • Apakah kami ingin lembaga yang terlihat rapi, atau lembaga yang benar-benar sehat?

Karyawan yang berani bicara sesungguhnya adalah aset.
Yang berbahaya justru karyawan yang diam, patuh, tapi sudah tidak peduli.


Menutup Mulut Tidak Pernah Menyelesaikan Masalah

Masalah yang dibungkam tidak pernah hilang.
Ia hanya berpindah tempat: dari ruang rapat ke ruang curhat, dari internal ke eksternal, dari kecil menjadi besar.

Jika lembaga ingin benar-benar bertumbuh, terutama lembaga yang membawa misi syariah dan dakwah ekonomi, maka satu hal harus diakui dengan jujur:

Komunikasi yang sehat bukan ancaman, melainkan fondasi keberlanjutan.

Dan keberanian untuk berintrospeksi selalu lebih mulia daripada sibuk mempertahankan diri.

Ada kegelisahan yang makin sering muncul di ruang-ruang rapat lembaga syariah hari ini.
Bukan tentang kurangnya peluang, bukan pula soal minimnya ide, tetapi tentang fokus yang perlahan bergeser.

Target tercapai atau tidak.
Surplus atau defisit.
Berapa persen pertumbuhan tahun depan.

Pertanyaan-pertanyaan itu sah. Namun ketika ia menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, kita patut berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur:
apakah lembaga syariah sedang berjalan di jalur syariah, atau sekadar membawa label syariah?


Ketika Target Dibahas, Tapi Ruh Terlupa

Di banyak forum dan rapat strategis, target usaha dibahas dengan sangat serius:
berapa persen profit harus naik tahun depan,
berapa margin harus dijaga,
berapa risiko harus ditekan.

Namun jarang sekali terdengar pertanyaan lanjutan yang sama seriusnya:

“Tahun depan, berapa persen dari pendapatan usaha yang akan kita sedekahkan?”
“Berapa orang yang telah menerima dakwah ekonomi syariah dari aktivitas kita?”
“Berapa keluarga yang berubah cara hidupnya karena kita hadir, bukan sekadar menerima bantuan?”

Ketika target profit disusun rapi, tetapi target sedekah tidak pernah ditetapkan,
ketika proyeksi usaha dibicarakan panjang lebar, tetapi proyeksi dampak tidak pernah dihitung,
maka patut kita bertanya tanpa defensif:

apakah kita sedang membangun lembaga syariah, atau lembaga bisnis dengan slogan syariah?


Islam Tidak Mengajarkan Mengejar Rezeki dengan Ketakutan

Dalam Islam, rezeki tidak dijanjikan datang karena kepanikan mengejar dunia.
Ikhtiar adalah kewajiban, kerja adalah ibadah, tetapi kelapangan rezeki tidak lahir dari kecemasan berlebihan terhadap hasil.

Allah mengajarkan jalan yang sering dilupakan:

  • sedekah,

  • taubat,

  • syukur,

  • silaturahim,

  • itqon dan kepatuhan pada syariah dalam bisnis.

Ironisnya, jalan-jalan inilah yang sering tidak dijadikan strategi utama, bahkan oleh lembaga yang membawa nama syariah.


Sedekah: Jalan Membesar yang Masih Diragukan

Logika dunia berkata:
“Kalau ingin besar, tahan dulu untuk memberi.”

Logika langit berkata sebaliknya:
“Kalau ingin dilapangkan, beranilah memberi.”

Al-Qur’an tidak pernah menjanjikan sedekah sebagai pengurang, tetapi sebagai pelipatganda.
Namun banyak lembaga masih memberi dengan rasa takut: takut berkurang, takut tidak cukup, takut target tak tercapai.

Padahal sering kali, ketakutan itulah yang menutup pintu keberkahan.


Taubat: Faktor Rezeki yang Jarang Dievaluasi

Islam mengajarkan bahwa dosa bukan hanya urusan akhirat, tetapi juga penghalang kelapangan hidup.

Al-Qur’an mengaitkan taubat dengan hujan, harta, dan keberlimpahan.
Namun hampir tak pernah ada lembaga yang berani mengevaluasi diri secara spiritual:

  • Apakah ada hak mustahik yang tertahan?

  • Apakah ada relawan yang kelelahan tanpa dihargai?

  • Apakah ada keputusan yang mengorbankan nilai demi efisiensi?

Bisa jadi persoalannya bukan pada strategi bisnis, tetapi pintu langit yang tertutup karena lalai membersihkan diri.


Syukur: Strategi Ilahiah yang Diremehkan

Allah tidak berjanji menambah nikmat karena ambisi.
Allah berjanji menambah nikmat karena syukur.

Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi keberanian mengalirkan nikmat.
Menahan kebaikan demi rasa aman semu justru sering membuat lembaga sibuk bertahan, bukan bertumbuh.


Silaturahim: Lebih dari Sekadar Jaringan

Dalam dunia modern, relasi sering dimaknai sebagai alat kepentingan.
Dalam Islam, silaturahim adalah ibadah yang memperpanjang rezeki dan umur.

Ia bukan soal mengenal yang kuat, tetapi memuliakan yang lemah,
bukan soal memperluas jaringan, tetapi tidak memutus hubungan.

Banyak krisis lembaga sejatinya bukan krisis dana, melainkan krisis empati dan hubungan.


Itqon dan Syariah: Tidak Bisa Dipisahkan

Islam mengajarkan itqon—kerja yang rapi, jujur, dan bertanggung jawab.
Namun itqon tanpa syariah hanyalah efisiensi tanpa ruh.

  • Profesional tapi menekan yang lemah → bukan syariah

  • Efisien tapi menahan hak → bukan berkah

  • Rapi tapi kehilangan empati → kehilangan amanah

Bisnis syariah bukan sekadar bebas riba, tetapi bebas dari kezaliman yang disamarkan sebagai kehati-hatian.


Syariah Bukan Label, Tapi Arah Hidup

Islam tidak menolak profit.
Namun Islam menolak profit yang tidak diarahkan.

Keberhasilan lembaga syariah tidak cukup dijawab dengan laporan keuangan, tetapi juga dengan pertanyaan yang lebih jujur:

  • Apakah usaha ini mendekatkan manusia kepada Allah?

  • Apakah transaksi ini mengubah cara pandang terhadap harta?

  • Apakah lembaga ini melahirkan muzakki baru, bukan hanya mengelola mustahik lama?

Jika belum ada keberanian menetapkan:

  • berapa nilai sedekah dari usaha ke depan, dan

  • berapa jiwa yang ingin disentuh oleh dakwah ekonomi syariah,

maka syariah berisiko berhenti sebagai narasi indah, bukan jalan hidup.

Karena sejatinya,
rezeki tidak dikejar dengan kepanikan,
tetapi datang kepada mereka yang taat, memberi, bersih, dan percaya pada janji Allah.

Dan di situlah, syariah kembali menemukan jiwanya.

Laporan Penyaluran Bantuan Bencana di Aceh Tamiang dan Pidie Jaya


Ketika Aceh Tidak Hanya Satu Titik Bencana

Bencana banjir bandang yang melanda Aceh tidak berhenti di satu desa atau satu kecamatan. Dampaknya menyebar ke berbagai wilayah dengan kondisi geografis, tingkat kerusakan, dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Atas dasar kondisi tersebut, penyaluran donasi dilakukan secara bertahap dan multi-lokasi, menyesuaikan kebutuhan lapangan, tingkat keterisolasian wilayah, serta risiko lanjutan pascabencana. Amanah donatur kami upayakan untuk menjangkau sebanyak mungkin warga terdampak, termasuk di wilayah yang sulit diakses dan luput dari sorotan.


Aceh Tamiang: Wilayah dengan Dampak Berat dan Akses Terbatas

Di Kabupaten Aceh Tamiang, banjir bandang menghantam sejumlah desa di Kecamatan Sekerak. Curah hujan tinggi di wilayah hulu menyebabkan luapan sungai dan aliran air bercampur lumpur menghantam permukiman warga, merusak rumah, fasilitas umum, serta memutus akses antarwilayah.

Penyaluran bantuan difokuskan pada wilayah dengan kerusakan berat, keterbatasan akses, dan kebutuhan dasar yang mendesak, antara lain Suka Makmur, Lubuk Sidup, dan Balingkarang.


Suka Makmur, Kecamatan Sekerak

Respon Darurat dan Perlindungan Warga

Desa Suka Makmur terdampak banjir bandang dengan kerusakan permukiman dan keterbatasan logistik. Pascabanjir, warga tidak hanya menghadapi kehilangan tempat tinggal, tetapi juga ancaman risiko kesehatan, terutama meningkatnya populasi nyamuk yang berpotensi memicu penyakit baru di tengah kondisi lingkungan yang sulit.

Sebagai bagian dari respon darurat, bantuan yang disalurkan difokuskan pada perlindungan warga dan kebutuhan dasar, meliputi:

  • Kelambu, sebagai upaya pencegahan penyakit pascabencana

  • Tenda, untuk mendukung hunian sementara

  • Lampu darurat, di tengah keterbatasan penerangan

  • Sarung, mukena (rukuh), dan sajadah, untuk mendukung kebutuhan ibadah warga di pengungsian

Penyaluran dilakukan sebagai bagian dari penanganan awal, seiring proses assessment dan pendataan lanjutan yang terus berjalan.


Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak

Pemulihan Awal di Wilayah Terdampak Berat

Lubuk Sidup merupakan salah satu wilayah dengan dampak paling berat akibat banjir bandang. Sekitar ±700 jiwa atau ±150 KK terdampak langsung. Banyak rumah hancur dan rusak berat, serta 1 unit masjid terdampak lumpur setinggi hampir 1 meter.

Penyaluran bantuan dilakukan sekitar 21 hari pascabencana, saat kondisi wilayah masih gelap, hujan masih turun, dan listrik belum pulih. Sebagian bantuan bahkan disalurkan pada malam hari sekitar pukul 23.00, di tengah suasana yang mencekam karena kampung berada tepat di pinggir Sungai Alur Simpang.

Bantuan yang disalurkan di Lubuk Sidup meliputi:

  • terpal

  • alas tidur

  • genset beserta BBM

  • sembako (beras, minyak goreng, sarden)

  • tandon air dan pipa instalasi

  • jajanan/snack

  • lampu LED dan peralatan kelistrikan

Selain distribusi logistik, relawan juga melakukan aksi langsung berupa:

  • menyalakan genset, lampu, dan aliran listrik

  • pembersihan lumpur tebal di dalam masjid bersama relawan lain

Aksi ini membantu menghidupkan kembali masjid sebagai pusat ibadah dan titik kumpul warga.


Balingkarang, Kecamatan Sekerak

Menjangkau Pengungsian di Wilayah Terisolasi

Penyaluran bantuan juga menjangkau Desa Balingkarang, wilayah yang sangat terisolasi. Seluruh rumah warga dilaporkan rusak akibat banjir bandang, dengan ±120 KK terdampak. Satu unit masjid masih bertahan, sementara gedung SD difungsikan sebagai lokasi pengungsian utama.

Untuk mencapai lokasi, tim dan relawan harus:

  • menyeberangi sungai menggunakan perahu selama ±20–40 menit

  • dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor menuju titik pengungsian

Bantuan yang disalurkan di Balingkarang meliputi:

  • beras

  • kelambu

  • lampu

  • lampu tenaga surya

  • obat-obatan

  • jajanan/snack

Bantuan ini membantu memenuhi kebutuhan dasar warga pengungsi di wilayah yang sangat sulit dijangkau.


Pidie Jaya

Menjangkau Warga di Beberapa Titik Terdampak

Selain Aceh Tamiang, penyaluran donasi juga menjangkau Kabupaten Pidie Jaya. Bantuan disalurkan di tiga titik berbeda melalui relawan lapangan.

Total dana yang disalurkan untuk wilayah Pidie Jaya sebesar Rp4.000.000, yang dimanfaatkan untuk penyediaan paket kebutuhan dasar dengan estimasi nilai sekitar Rp250.000 per paket, berisi:

  • beras

  • minyak goreng

  • air minum

Melalui skema ini, bantuan menjangkau sekitar 20 penerima manfaat, membantu warga memenuhi kebutuhan harian di masa darurat dan pemulihan awal.


Alhamdulillah

Dari amanah kebaikan para donatur:

  • warga terlindungi dari risiko kesehatan pascabencana

  • pengungsi memiliki hunian sementara dan penerangan

  • fasilitas ibadah kembali difungsikan

  • wilayah terisolasi tetap mendapatkan bantuan

  • keluarga terdampak memiliki ruang untuk bertahan dan bangkit

Kebaikan ini hadir di banyak titik, dengan banyak cerita, dan banyak harapan.


Aceh mengajarkan bahwa bencana tidak pernah sederhana.
Ia hadir di banyak tempat, dengan kebutuhan yang berbeda-beda.

Terima kasih telah mempercayakan kebaikan Anda.
Bersama, kita hadir bukan hanya di satu titik,
tetapi di sebanyak mungkin tempat yang membutuhkan.

Setiap kali bencana datang, ada sesuatu yang selalu membuat kita bangga sebagai bangsa: kita cepat peduli. Kita tidak menunggu lama untuk membantu. Ada yang membuka galang dana kecil-kecilan di grup WhatsApp, ada yang mengantar logistik dengan mobil pribadi, ada pula yang membereskan lemari untuk mencari pakaian layak pakai.

Semua itu dilakukan dengan niat tulus.
Semua itu merupakan bukti bahwa kebaikan masih hidup di tengah kita.

Namun, di balik semangat itu, ada beberapa hal penting yang sering luput dipikirkan. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi agar kebaikan yang kita niatkan benar-benar sampai sebagai manfaat yang terbaik bagi penyintas.

Mari kita bahas pelan-pelan—tanpa menghakimi, tanpa memojokkan.


1. Mengapa Pakaian Bukan Prioritas Utama Saat Bencana?

Banyak orang menyumbangkan pakaian ketika bencana, dan itu bukan hal buruk. Tetapi sering kali, pakaian yang disumbangkan adalah:

  • pakaian yang menumpuk lama di gudang,

  • baju bekas seragam kantor,

  • pakaian yang tidak ingin dipakai lagi,

meskipun masih “layak”.

Inilah fakta lapangan yang perlu kita pahami bersama:

Pakaian bukan kebutuhan darurat.

Saat bencana baru saja terjadi, penyintas lebih membutuhkan:

  • air bersih,

  • makanan siap saji,

  • selimut,

  • alas tidur,

  • obat-obatan,

  • layanan kesehatan,

  • tempat tinggal sementara.

Pakaian memang dibutuhkan…
tapi tidak di jam-jam pertama, atau bahkan hari-hari pertama.


2. Donasi Pakaian Membutuhkan Logistik yang Besar

Jarang kita sadari bahwa satu kardus pakaian bekas membutuhkan:

  • tenaga relawan untuk mengangkat,

  • ruang kendaraan yang besar,

  • biaya BBM tambahan,

  • waktu sortir di lokasi bencana,

  • ruang penyimpanan sementara,

  • tambahan relawan untuk memilah ukuran dan kondisi,

Padahal ruang di armada terbatas.
Tenaga relawan terbatas.
Sementara kebutuhan lain jauh lebih mendesak.

Itulah sebabnya, di banyak bencana besar, tumpukan pakaian justru menjadi masalah baru, bukan bantuan.


3. “Kalau tidak punya uang, donasi pakaian boleh dong?”

Tentu saja boleh.
Sedekah apa pun bernilai di sisi Allah.

Namun ada satu prinsip indah dalam Al-Qur’an:

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai…”
(Ali Imran: 92)

Jika pakaian yang disedekahkan adalah pakaian terbaik, pakaian yang masih kita cintai, insyaAllah itu jauh lebih bernilai.

Yang ingin kita hindari adalah menjadikan bencana sebagai “momen buang barang.”


4. Lalu, Mengapa Donasi Uang Lebih Tepat Saat Bencana?

Banyak orang ragu berdonasi uang.
Takut tidak sampai.
Takut dipakai operasional.
Takut lembaga mengambil keuntungan.

Semua kekhawatiran itu wajar.
Dan perlu dijawab secara jujur dan menenangkan.

Mari kita lihat realitanya.


4.1. Donasi uang membuat bantuan lebih cepat dan tepat sasaran

Setiap bencana memiliki kebutuhan yang berubah-ubah.

Pagi butuh makanan.
Siang butuh air bersih.
Petang butuh selimut.
Besoknya butuh BBM untuk evakuasi.

Dengan uang, relawan dapat langsung membeli apa yang saat itu paling dibutuhkan.

Bantuan menjadi:

  • lebih cepat,

  • lebih tepat,

  • lebih fleksibel.


4.2. Donasi uang memang dipakai untuk operasional—butir ini sering disalahpahami

Relawan bukan malaikat yang turun dari langit.

Untuk bekerja, relawan butuh:

  • makan,

  • BBM,

  • sewa armada,

  • perlengkapan medis,

  • alat evakuasi,

  • peralatan keselamatan,

Apakah ini berarti “uangnya tidak sampai ke penyintas”?
Tidak. Justru operasional itulah yang membuat bantuan bisa sampai ke penyintas.

Jika tidak ada kendaraan,
tidak ada BBM,
tidak ada relawan,

maka bantuan apa pun, termasuk donasi pakaian, tidak akan bergerak.


4.3. LAZ tidak mengambil “keuntungan”—LAZ hanya mengambil hak amil sesuai syariat

Lembaga Amil Zakat tunduk pada:

  • UU Pengelolaan Zakat,

  • peraturan Kemenag,

  • PSAK 109,

  • batas syariah hak amil (maks 12.5%).

Hak amil bukan “keuntungan”, tetapi:

  • gaji amil,

  • biaya operasional,

  • transport,

  • laporan,

  • administrasi amanah,

Tanpa ini, kebaikan tidak akan bisa berjalan.


4.4. Donasi uang lebih mudah diaudit dan dilaporkan

  • ada bukti transfer,

  • ada laporan keuangan,

  • ada data penyaluran,

  • ada dokumentasi,

  • ada pengawasan internal dan eksternal,

Donasi uang justru lebih terjaga dibanding barang yang rawan rusak, hilang, atau tidak sesuai kebutuhan.


5. Jadi, Apa Cara Terbaik Berdonasi Saat Bencana?

Sangat sederhana:

💛 Donasi uang di fase darurat

Untuk kebutuhan cepat & tepat.

💛 Donasi barang berdasarkan daftar kebutuhan resmi

Agar benar-benar terpakai.

💛 Donasi pakaian setelah masa pemulihan

Biasanya 1–4 minggu setelah bencana.

💛 Sedekahkan yang terbaik, bukan yang ingin dibuang

Itulah makna sedekah yang berkualitas.


Kebaikan Tak Diukur Dari Bentuknya, Tapi Dari Manfaatnya

Tidak masalah jika dulu kita sering kirim pakaian saat bencana.
Tidak masalah jika kita dulu belum paham tentang logistik bencana.
Kebaikan selalu berproses—termasuk cara kita menolong.

Yang paling penting adalah:
niat kita tetap tulus, dan kita terus belajar agar kebaikan kita tepat manfaat.

Untuk Anda yang ingin memastikan:

  • amanah tersampaikan,

  • relawan bisa bergerak cepat,

  • penyintas menerima bantuan yang benar-benar dibutuhkan,

donasi uang adalah pilihan yang paling efektif.

Dan kami siap menjadi perpanjangan tangan kebaikan Anda—mengantarkan setiap rupiah menjadi manfaat yang nyata di saat paling dibutuhkan.

Semoga setiap sedekah menjadi cahaya yang tidak pernah padam, bahkan setelah bencana berlalu.

Laporan Distribusi Donasi Banjir Semarang

(Jum’at–Sabtu, 31 Oktober–1 November 2026)

“Air boleh menggenang, tapi kepedulian tidak pernah padam.”

Itulah semangat yang menggerakkan puluhan relawan ULAZ MKU se–Jawa Tengah saat banjir kembali merendam sebagian wilayah Kota Semarang.
Kawasan Genuk dan Tlogosari, yang menjadi daerah terdampak paling parah, kembali dikepung air setelah hujan deras mengguyur tanpa henti. Banyak warga masih bertahan di rumah dengan keterbatasan makanan dan akses kesehatan.

Melihat kondisi ini, ULAZ MKU dari berbagai daerah di Jawa Tengah bersatu melakukan aksi kemanusiaan di dua titik tersebut.
Sebanyak 30 relawan gabungan diterjunkan untuk membantu warga yang terdampak dengan berbagai bentuk layanan kemanusiaan.


🤝 Sinergi Kebaikan ULAZ MKU se–Jawa Tengah

Aksi ini menjadi bukti nyata kekuatan kolaborasi lintas wilayah.
ULAZ MKU yang menurunkan tim relawan langsung ke lokasi:

  • Soloraya

  • Pekalongan Raya

  • Kabupaten Semarang

  • Pati

  • Jepara

  • Kota Semarang

Selain itu, beberapa ULAZ MKU lain turut berpartisipasi melalui dukungan donasi untuk relawan dan bantuan logistik, di antaranya:
Bima Magelang, Binamas Purworejo, dan Karisma Magelang.


📦 Bentuk Kegiatan dan Bantuan yang Disalurkan

Selama dua hari pelaksanaan aksi (31 Oktober–1 November 2026), kegiatan kemanusiaan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan warga setempat.

  1. 🍛 Pembagian 500 Paket Nasi Bungkus
    Diberikan kepada warga di wilayah Genuk dan Tlogosari yang masih terisolasi banjir.

  2. 🏠 Support 3 Titik Dapur Umum
    Tim relawan menyalurkan bahan pangan seperti beras, mie instan, telur, sayuran, minyak goreng, dan air mineral untuk membantu dapur umum warga.

  3. 🩺 Pelayanan Kesehatan
    Pemeriksaan gratis bagi warga terdampak banjir yang mulai mengalami gatal, flu, dan keluhan ringan akibat kondisi lingkungan yang lembab.

  4. Pendirian Pos Hangat
    Relawan membagikan teh hangat kepada warga yang berjaga dan membersihkan lingkungan pascabanjir.


🙌 Dari Relawan untuk Warga

Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian nyata bahwa sinergi antar lembaga bukan hanya berbagi logistik, tapi juga menyalurkan energi kebaikan dan harapan.
Warga menyambut dengan hangat kedatangan para relawan, bahkan turut bergotong-royong menyiapkan makanan dan membantu penyaluran di titik genangan.

Salah satu relawan mengungkapkan:

“Kami datang bukan sekadar membawa bantuan, tapi membawa pesan: bahwa saudara kita di Semarang tidak sendiri.”


🌱 Ayo Siaga, Ayo Peduli

Musim hujan baru saja dimulai, dan potensi bencana masih mungkin terjadi.
Melalui aksi ini, ULAZ MKU se–Jawa Tengah ingin mengajak masyarakat untuk bersama menyiapkan Dana Siaga Bencana, agar ketika musibah datang, kita sudah siap membantu tanpa menunggu.

KLIK DI SINI UNTUK PEDULI

💚 Mari terus jadi bagian dari #KebaikanYangTerusTumbuh
Donasi dan dukungan Anda akan memastikan relawan kita bisa terus hadir untuk masyarakat yang membutuhkan.

📌 ULAZ MKU ANDA – Bersama Membangun Kepedulian, Menebar Keberkahan.

Dalam perjalanan sejarah BMT, selalu ditekankan bahwa lembaga ini berdiri di atas dua pilar utama: Baitut Tamwil (fungsi bisnis/ekonomi) dan Baitul Maal (fungsi sosial/amanah zakat, infak, sedekah, wakaf). Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Namun, sering muncul ungkapan yang patut direnungkan bersama:

  1. “Bahaya jika ada BMT tidak mengaktifkan Baitul Maalnya.”

  2. “Baitul Maal the Next Leader.”

  3. “Leader tidak bisa diciptakan oleh perusahaan/bisnis, tapi lembaga seperti Baitul Maal bisa menciptakan seorang leader.”

Tiga pernyataan ini mengandung pesan penting yang relevan bagi pimpinan BMT dan akademisi untuk mengkaji ulang arah strategis lembaga keuangan mikro syariah.

1. Bahaya BMT Tanpa Baitul Maal

Jika fungsi Baitul Maal diabaikan, BMT berisiko kehilangan jati diri dan hanya dipandang sebagai koperasi biasa. Padahal, BMT didirikan bukan sekadar untuk mengelola keuangan, tetapi juga untuk menunaikan mandat sosial Islam: mengentaskan kemiskinan, menyalurkan zakat, dan memperjuangkan kesejahteraan dhuafa.

Dari perspektif kelembagaan, hilangnya fungsi Baitul Maal akan menggerus kepercayaan masyarakat (trust), menurunkan diferensiasi strategis BMT, dan mengurangi keberkahan yang menjadi nilai tambah spiritual.

2. Baitul Maal Sebagai Pemimpin Perubahan Sosial

Ungkapan “Baitul Maal the Next Leader” menegaskan bahwa lembaga ini memiliki potensi memimpin arah perubahan sosial di tengah krisis moral dan ketimpangan ekonomi. Dengan pengelolaan yang profesional, Baitul Maal bukan hanya instrumen distribusi dana zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga motor penggerak pemberdayaan masyarakat.

Hal ini menempatkan Baitul Maal sebagai agen moral leadership—pemimpin yang bukan hanya menekankan efisiensi ekonomi, melainkan juga keberpihakan pada nilai keadilan, solidaritas, dan keberlanjutan sosial.

3. Sekolah Kepemimpinan Berbasis Nilai

Dunia bisnis dapat melahirkan manajer dan eksekutif yang kompeten dalam mengejar target finansial, tetapi jarang mencetak pemimpin yang berkarakter penuh integritas. Sebaliknya, bekerja di lingkungan Baitul Maal membentuk individu untuk berjuang demi kemaslahatan umat, melatih empati, dan menumbuhkan komitmen pada nilai-nilai luhur.

Karena itu, Baitul Maal dapat dipandang sebagai “sekolah kepemimpinan berbasis nilai”, tempat lahirnya pemimpin yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.


Tiga ungkapan tersebut seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa:

  • BMT tanpa Baitul Maal kehilangan ruh.

  • Baitul Maal memiliki potensi kepemimpinan sosial di masa depan.

  • Baitul Maal adalah ruang pencetak pemimpin berintegritas.

Dengan demikian, mengaktifkan dan menguatkan fungsi Baitul Maal bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga jati diri BMT sekaligus memastikan keberlanjutan peran sosial-ekonomi Islam di tengah masyarakat.

Menjadi pemimpin bukan sekadar soal jabatan atau posisi. Kepemimpinan adalah amanah. Ia akan dimintai pertanggungjawaban, tidak hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah. Karena itu, seorang pemimpin perlu rutin melakukan muhasabah kepemimpinan: mengevaluasi diri dengan jujur, apakah sudah benar-benar memimpin dengan adil, bijak, dan penuh kasih sayang.

Berikut beberapa pertanyaan reflektif yang bisa kita gunakan untuk menilai diri:


1. Niat & Integritas

  • Apakah aku memimpin dengan niat melayani dan mengayomi, atau sekadar ingin dihormati?

  • Apakah aku adil dalam mengambil keputusan, atau masih condong ke orang tertentu?

  • Apakah aku memberi contoh yang baik dalam kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab?

2. Hubungan dengan Tim

  • Apakah aku mendengarkan masukan dan keluhan tim, atau hanya ingin didengar?

  • Apakah aku mudah diakses dan diajak bicara, atau justru membuat orang takut mendekat?

  • Apakah aku menghargai kerja keras orang lain, atau hanya fokus pada kesalahan mereka?

3. Kepemimpinan & Arahan

  • Apakah aku jelas dalam memberi instruksi, atau sering membuat tim bingung?

  • Apakah aku memberi kepercayaan kepada tim, atau terlalu banyak mengontrol?

  • Apakah aku mampu membuat tim semangat, atau justru membuat mereka tertekan?

4. Pengambilan Keputusan

  • Apakah aku mengambil keputusan dengan pertimbangan matang, atau terburu-buru?

  • Apakah aku mendasarkan keputusan pada kepentingan bersama, atau kepentingan pribadi?

  • Apakah aku berani menanggung risiko dari keputusan yang kuambil, atau cenderung lari dari tanggung jawab?

5. Pengembangan Orang Lain

  • Apakah aku memberikan kesempatan tim untuk berkembang, belajar, dan berprestasi?

  • Apakah aku mendidik bawahan menjadi lebih baik, atau hanya memanfaatkan mereka?

  • Apakah aku melihat potensi orang, atau hanya menilai dari kekurangannya?

6. Evaluasi Diri & Akhlak

  • Apakah aku menerima kritik dengan lapang dada, atau tersinggung lalu marah?

  • Apakah aku menjaga akhlak dalam memimpin: sabar, rendah hati, dan tidak arogan?

  • Apakah aku memimpin dengan teladan (uswah), atau hanya dengan perintah?


Seorang pimpinan yang jujur menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan tahu apakah dirinya sekadar “bos” atau benar-benar pemimpin yang dirindukan oleh timnya.

Karena pada akhirnya, pemimpin sejati bukanlah yang ditakuti, tetapi yang dirindukan.


CATATAN PENTING:
Pertanyaan-pertanyaan ini dibuat untuk muhasabah diri, bukan untuk mencari kesalahan orang lain. Termasuk jika kita seorang pimpinan, gunakanlah daftar ini untuk koreksi pribadi, bukan untuk mengukur atau menghakimi pemimpin lain.

Evaluasi kinerja adalah momen penting dalam dunia kerja. Ia bukan sekadar rutinitas administrasi, melainkan sarana untuk memperbaiki diri, tim, dan organisasi. Namun, agar evaluasi benar-benar bermanfaat, ada beberapa syarat utama yang perlu diperhatikan.


✅ Syarat Evaluasi Kinerja yang Baik

1. Tujuan Jelas

Evaluasi harus punya arah. Apakah untuk:

  • Mengukur pencapaian target?

  • Memberi feedback?

  • Menentukan promosi atau kebutuhan pelatihan?

Kalau tujuannya kabur, hasil evaluasi akan ikut mengambang.

2. Kriteria Terukur & Objektif

Gunakan indikator jelas: KPI, target kerja, standar kualitas.
Hindari penilaian subjektif seperti, “saya merasa dia kurang rajin”.

3. Data Akurat & Lengkap

Penilaian harus berdasarkan fakta: laporan kerja, hasil nyata, atau observasi.
Bukan gosip, asumsi, atau kesan sesaat.

4. Keterbukaan & Kejujuran

Evaluasi harus dilakukan dengan transparansi.
Atasan dan karyawan sama-sama jujur melihat kekuatan dan kelemahan.

5. Dua Arah (Dialog, bukan Monolog)

Evaluasi bukan hanya atasan menilai.
Harus ada ruang bagi karyawan menyampaikan pendapat, tantangan, dan ide.

6. Konsistensi Waktu

Evaluasi dilakukan rutin (bulanan, triwulan, tahunan).
Bukan hanya saat ada masalah besar.

7. Fokus pada Perbaikan

Hasil evaluasi harus ditindaklanjuti: pelatihan, coaching, mentoring, atau penyesuaian target.
Evaluasi tanpa tindak lanjut hanya akan jadi formalitas.

8. Keadilan & Non-Diskriminatif

Semua dinilai dengan standar sama.
Tidak boleh ada diskriminasi atau perlakuan istimewa.

9. Lingkungan Kondusif

Evaluasi dilakukan dengan tenang dan tertutup, bukan untuk mempermalukan di depan banyak orang.
Gunakan bahasa yang membangun, bukan menyalahkan.

Jika semua syarat ini dipenuhi, evaluasi akan menjadi alat pengembangan diri dan organisasi, bukan sekadar formalitas.


⚠️ Bahaya Evaluasi yang Berubah Jadi Saling Menyalahkan

Sayangnya, sering kali evaluasi justru bergeser jadi arena mencari kambing hitam. Akibatnya sangat merugikan:

1. Hilangnya Tujuan Perbaikan

Fokus berpindah dari “bagaimana kita lebih baik” menjadi “siapa yang salah”.
Hasilnya? Solusi tidak tercapai, hanya debat kusir.

2. Turunnya Moral & Semangat Kerja

Karyawan jadi takut dievaluasi karena identik dengan dimarahi atau dipermalukan.
Motivasi turun, kerja hanya sebatas asal aman.

3. Rusaknya Hubungan Tim

Saling menyalahkan menumbuhkan rasa curiga, iri, bahkan permusuhan.
Alih-alih makin solid, tim justru renggang.

4. Budaya Tidak Sehat

Orang terbiasa menutup kesalahan ketimbang belajar darinya.
Muncul budaya defensif: saling menyalahkan demi menyelamatkan diri.

5. Tidak Ada Tanggung Jawab Pribadi

Jika fokus selalu “kamu salah”, orang enggan berkata: “saya salah apa ya?”
Padahal inilah kunci perbaikan berkelanjutan.


🌿 Mindset Sehat Saat Evaluasi

Agar evaluasi jadi ruang belajar, biasakan bertanya pada diri sendiri:

  • “Apa bagian saya dalam masalah ini?”

  • “Apa yang bisa saya lakukan lebih baik ke depan?”

  • “Apa solusi yang bisa kita jalankan bersama?”

Jika mindset ini dipegang, evaluasi tidak lagi jadi ruang saling serang, tetapi ruang tumbuh bersama.

Setiap orang tentu ingin menjadi karyawan yang baik—bukan hanya sekadar datang, bekerja, lalu pulang. Seorang karyawan yang baik adalah mereka yang memberi nilai tambah bagi perusahaan, menjaga hubungan baik dengan rekan kerja, dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih profesional.

Namun, pertanyaannya: bagaimana kita tahu apakah diri kita sudah menjadi karyawan yang baik atau belum?
Jawabannya bisa kita temukan lewat refleksi diri. Dengan jujur bertanya pada diri sendiri, kita bisa menilai sejauh mana sikap dan kinerja kita di tempat kerja.

Berikut ini daftar pertanyaan reflektif yang bisa membantu kamu mengukur diri:


🔹 Tentang Kedisiplinan

  • Apakah aku datang tepat waktu dan menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline?

  • Apakah aku memanfaatkan jam kerja dengan efektif, atau sering teralihkan hal lain?

🔹 Tentang Kinerja

  • Apakah tugasku hari/pekan ini tuntas dengan kualitas yang baik?

  • Apakah aku bekerja sesuai target yang ditetapkan atasan/organisasi?

  • Apakah aku berinisiatif mencari solusi, atau menunggu disuruh?

🔹 Tentang Sikap dan Etika

  • Apakah aku menjaga sopan santun dengan rekan kerja dan atasan?

  • Apakah aku bisa menerima kritik tanpa defensif?

  • Apakah aku menjaga kejujuran dan amanah dalam setiap tugas?

🔹 Tentang Kerjasama

  • Apakah aku mendukung tim ketika mereka butuh bantuan?

  • Apakah aku menghargai ide orang lain?

  • Apakah aku lebih sering membangun kerjasama atau justru menimbulkan konflik?

🔹 Tentang Pengembangan Diri

  • Apakah aku menambah keterampilan baru bulan ini?

  • Apakah aku belajar dari kesalahan sebelumnya?

  • Apakah aku lebih baik dibanding diriku yang kemarin?


🌿Muhasabah Karyawan Sejati

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak selalu menyenangkan. Bisa jadi kita menemukan kelemahan yang selama ini tak kita sadari. Namun, justru dari situlah proses perbaikan dimulai.

Ingatlah, karyawan yang baik bukanlah yang sempurna, melainkan mereka yang mau terus belajar, memperbaiki diri, dan memberi manfaat bagi tim maupun organisasi.

Jadi, sudahkah kamu menjadi karyawan yang baik hari ini?


CATATAN PENTING: PERTANYAAN-PERTANYAAN DI ATAS DIBUAT UNTUK MENGOREKSI DIRI SENDIRI, BUKAN UNTUK MENGOREKSI ORANG LAIN. JANGAN SAMPAI SETELAH MEMBACA ARTIKEL INI, KAMU MALAH RAJIN MENCARI-CARI KELEMAHAN REKAN KERJA ATAU BAWAHANMU. REFLEKSI INI UNTUK DIRIMU, TERMASUK JIKA KAMU ADALAH SEORANG PIMPINAN.

🔎 Ilustrasi Singkat: Dua Sikap yang Berbeda

Karyawan Reflektif

  • Bertanya: “Apa yang bisa aku perbaiki dari diriku?”

  • Mengakui kesalahan pribadi dan berusaha memperbaikinya.

  • Fokus pada pertumbuhan diri dan kontribusi nyata.

Karyawan yang Suka Menyalahkan Orang Lain

  • Bertanya: “Siapa yang salah dalam masalah ini?”

  • Sibuk mencari kekurangan rekan kerja atau bawahan.

  • Stagnan, karena tidak pernah bercermin pada dirinya sendiri.

Tidak semua pemimpin buruk terlihat jelas dari cara mereka marah, suka mengontrol, atau mengambil kredit orang lain. Sebagian justru tampil halus, namun dampaknya sama merusaknya.

Kalau Anda pernah merasa lelah, tidak dihargai, atau sering meragukan diri sendiri ketika bekerja, bisa jadi Anda sedang berhadapan dengan pemimpin toxic.

Berikut adalah tanda-tandanya beserta solusinya:


1. Memimpin dengan Rasa Takut, Bukan Kepercayaan

Penjelasan: Dalam kepemimpinan toxic, orang lebih banyak diam karena merasa tidak aman untuk berbicara. Kesalahan selalu dihukum, bukan dijadikan sarana belajar. Akhirnya, tim hanya bergerak karena takut, bukan karena motivasi.

Solusi:

  • Untuk tim: Catat ide, sampaikan dengan data, dan cari momen tepat untuk berbicara. Jika suasana benar-benar tidak aman, buat forum komunikasi alternatif antar rekan kerja.

  • Untuk pemimpin: Bangun budaya psychological safety—beri ruang orang lain untuk berpendapat tanpa takut dihukum. Jadikan kesalahan sebagai sarana belajar, bukan ancaman.


2. Mengambil Kredit, Melempar Kesalahan

Penjelasan: Saat berhasil, semua pujian ditarik untuk dirinya: “Itu karena saya.” Tapi ketika gagal, semua kesalahan dialihkan: “Itu salah kalian.” Kultur seperti ini membuat tim merasa tidak adil dan kehilangan semangat.

Solusi:

  • Untuk tim: Dokumentasikan kontribusi Anda dengan jelas (laporan, email resmi, notulensi).

  • Untuk pemimpin: Ucapkan “ini hasil kerja tim” ketika sukses, dan ambil tanggung jawab ketika gagal. Hal sederhana ini menumbuhkan loyalitas tim.


3. Mengontrol Secara Berlebihan (Micromanage)

Penjelasan: Setiap detail kecil harus lewat persetujuan mereka. Tidak ada ruang untuk otonomi, rasa memiliki, dan kepercayaan. Akibatnya, inovasi mati karena semua orang takut salah.

Solusi:

  • Untuk tim: Tawarkan laporan berkala agar pemimpin tetap mendapat update tanpa harus mengontrol detail.

  • Untuk pemimpin: Belajar mendelegasikan. Fokus pada hasil akhir, bukan detail proses yang bisa dikerjakan tim.


4. Menciptakan Kebingungan, Bukan Kejelasan

Penjelasan: Prioritas kerja tidak pernah jelas. Jika ada yang salah, tim selalu disalahkan. Ekspektasi dibuat kabur, namun karyawan dianggap selalu gagal memenuhi standar. Hal ini menimbulkan frustrasi dan stres berkepanjangan.

Solusi:

  • Untuk tim: Mintalah konfirmasi tertulis (via chat/email) tentang arahan atau prioritas agar ada bukti jelas.

  • Untuk pemimpin: Gunakan tujuan yang terukur (SMART Goals) dan komunikasikan dengan bahasa sederhana.


5. Menguras Energi, Bukan Memberikan Semangat

Penjelasan: Setiap interaksi dengan pemimpin toxic membuat tim merasa lelah, bukan termotivasi. Moral menurun, energi terkuras, dan pada akhirnya turnover karyawan semakin tinggi.

Solusi:

  • Untuk tim: Jaga kesehatan mental dengan membuat batasan (boundaries), misalnya waktu istirahat. Cari support system di luar kantor.

  • Untuk pemimpin: Jadilah energy giver—berikan apresiasi kecil, tunjukkan empati, dan rayakan pencapaian tim.


6. Bermain Favoritisme

Penjelasan: Ada orang-orang tertentu yang diperlakukan istimewa, sementara yang lain diabaikan. Politik kantor lebih dihargai daripada kinerja nyata. Akibatnya, suasana kerja jadi tidak sehat dan penuh ketidakadilan.

Solusi:

  • Untuk tim: Fokus pada kinerja dan pastikan pencapaian Anda tercatat. Jangan terjebak drama politik kantor.

  • Untuk pemimpin: Terapkan sistem penilaian berbasis data/kinerja, bukan kedekatan pribadi.


7. Menghalangi Pertumbuhan

Penjelasan: Tidak ada pembinaan, mentoring, atau jalur karier yang jelas. Orang-orang terbaik akhirnya pergi mencari tempat lain yang lebih sehat, sementara yang bertahan hanya berhenti berusaha.

Solusi:

  • Untuk tim: Cari kesempatan belajar di luar (kursus online, komunitas, mentoring informal). Jangan biarkan diri berhenti berkembang.

  • Untuk pemimpin: Jadilah coach, bukan sekadar boss. Sediakan ruang pengembangan diri—karena tim yang berkembang akan membuat organisasi tumbuh lebih besar.

8. Abai (Toxic Neglect)

Penjelasan: Tidak ada arahan, visi, atau bimbingan. Inovasi dan belajar dibiarkan terserah. Tapi ketika ada kesalahan, bawahan disalahkan. Ini adalah bentuk kepemimpinan abai (laissez-faire toxic leadership) yang sama berbahayanya.

Solusi:

  • Untuk tim: Buat standar kerja sendiri dan dokumentasikan langkah yang diambil agar ada dasar pertanggungjawaban.

  • Untuk pemimpin: Hadir sebagai “kompas” bagi tim. Beri arahan yang jelas, damping tim, dan jangan hanya muncul saat menyalahkan.

9. Ego-driven Leadership

Segala tindakan didorong oleh ego dan citra, bukan kebutuhan organisasi

⚠️ Dampaknya:

  • Tim kehilangan kepercayaan, karena merasa hanya dijadikan “alat pencitraan.”

  • Masalah nyata organisasi sering diabaikan.

  • Kultur organisasi menjadi dangkal: lebih mementingkan “tampak baik” daripada benar-benar baik.

Solusi:

  • Untuk tim: sadar bahwa motivasi pemimpin seperti ini sulit diubah. Lindungi diri dengan bekerja profesional sesuai standar, jangan ikut terjebak dalam permainan citra.

  • Untuk pemimpin: belajar servant leadership → menempatkan kepentingan tim dan organisasi di atas kepentingan pribadi. Reputasi yang sehat tumbuh alami dari kinerja nyata, bukan pencitraan

Pemimpin yang hebat membangun tim dan menumbuhkan orang-orangnya. Sebaliknya, pemimpin toxic menghancurkan potensi.

Kalau Anda menemukan tanda-tanda ini:

  1. Lindungi diri dengan cara yang sehat (batasan, dokumentasi, support system).

  2. Fokus pada pertumbuhan pribadi meskipun lingkungan kerja tidak mendukung.

  3. Jika semua cara buntu, jangan takut mencari lingkungan baru yang lebih sehat.

Karena pada akhirnya, lingkungan kerja yang sehat bukan sekadar soal target tercapai, tetapi bagaimana manusia di dalamnya bisa berkembang dengan aman, adil, dan bermakna.


👉 Menurut Anda, solusi mana yang paling relevan diterapkan di tempat kerja Anda saat ini?