Setiap kali bencana terjadi, kita melihat sesuatu yang selalu membuat hati hangat: begitu banyak orang ingin membantu. Ada yang spontan membuat donasi di grup WhatsApp, ada yang berangkat langsung ke lokasi dengan komunitasnya, ada yang menyalurkan sendiri lewat yayasan kecil yang mereka percaya.

Fenomena ini indah.
Ini tanda bahwa kebaikan masih hidup di tengah kita.

Di era media sosial, ketika informasi bencana menyebar begitu cepat, wajar bila banyak orang merasa, “Aku bisa bantu sendiri kok, tak perlu lewat lembaga.”

Lalu muncul pertanyaan pelan-pelan:

Kalau begitu, sebenarnya apa gunanya LAZ?

Pertanyaan ini bukan untuk melemahkan kepedulian siapa pun. Justru pertanyaan seperti inilah yang membantu kita bersama semakin bijaksana dalam menolong.

Mari kita lihat dari sudut pandang yang lebih lembut.


1. Turun langsung itu mulia, tapi tidak semua orang bisa melakukannya

Banyak donatur punya hati seluas langit, tapi tidak punya kesempatan untuk:

  • cuti kerja,

  • menyetir berjam-jam,

  • membawa logistik berat,

  • atau menghadapi situasi rawan di lokasi bencana.

Di sinilah LAZ menjadi perpanjangan tangan—kita tetap ikut berbuat baik, meski raga tidak bisa hadir.


2. Viral cepat mereda, tapi kebutuhan penyintas masih panjang

Biasanya saat bencana masih viral:

  • bantuan berdatangan,

  • relawan penuh semangat,

  • komunitas ramai turun.

Namun setelah satu atau dua minggu,

  • dapur umum mulai tutup,

  • air bersih mulai menipis,

  • anak-anak mulai butuh sekolah darurat,

  • keluarga kehilangan pekerjaan.

Di fase panjang inilah LAZ bekerja senyap, mengawal keluarga terdampak hingga mereka benar-benar kembali bangkit.


3. LAZ membantu memastikan bantuan tiba di tempat yang belum tersentuh

Saat orang banyak pergi ke titik yang sama, sering terjadi:

  • beberapa lokasi kebanjiran bantuan,

  • lokasi lain justru kosong sama sekali.

LAZ biasanya bekerja dengan data:

  • laporan lapangan,

  • relawan lokal,

  • koordinasi desa,

  • dan pembagian per zona.

Hasilnya, bantuan tidak hanya “datang”, tetapi tepat sampai ke mereka yang paling membutuhkan.


4. Donasi kecil pun bisa punya dampak besar ketika dikumpulkan bersama

Kadang kita merasa malu:

“Aku cuma bisa sedekah 20 ribu…”

Namun ketika dana kecil itu bergabung dengan ratusan orang lain,
ia bisa berubah menjadi:

  • sumur air bersih,

  • hunian sementara,

  • perbaikan masjid,

  • modal pemulihan ekonomi keluarga.

Kebaikan kecil yang dikumpulkan dengan rapi akan menjadi kekuatan besar.


5. LAZ memastikan amanah tersampaikan dengan catatan yang jelas

Tidak semua donatur sempat:

  • mencatat pengeluaran,

  • membuat laporan,

  • mendokumentasikan penyaluran,

  • atau memastikan semuanya sesuai syariah.

Melalui LAZ,
setiap rupiah diuji, dicatat, dan dipertanggungjawabkan.

Bukan sekadar bantuan sampai, tapi amanah tersampaikan secara aman dan bersih.


Pada akhirnya… Kita semua hanya ingin memastikan bantuan kita benar-benar bermanfaat

Menyalurkan sendiri itu mulia.
Menyalurkan melalui LAZ juga mulia.

Keduanya bukan lawan, tetapi dua jalan kebaikan yang bisa saling melengkapi.

Ada masa ketika donatur ingin turun langsung—itu luar biasa.
Ada masa ketika donatur ingin menitipkan pada lembaga—itu pun sama berharganya.

Yang paling penting bukan “lewat siapa”,
tetapi siapa yang menerima manfaat, dan seberapa besar dampaknya.


Jika Anda ingin menitipkan kebaikan yang terukur, aman, dan berkelanjutan…

…LAZ siap menjadi perpanjangan tangan Anda.

Anda tetap menjadi sumber kebaikan itu—
kami hanya membantu menyampaikannya dengan cara terbaik yang bisa kami lakukan.

Semoga setiap sedekah menjadi penolong pada hari ketika tidak ada lagi yang menolong.

Ada satu kalimat yang sangat sering kita dengar:

“Wajar dia rajin sedekah… dia kan sudah kaya.”

Dan dari kalimat itu, banyak orang menunda sedekah.
Menunggu rezeki cukup, menunggu dompet terisi, menunggu bisnis stabil, menunggu tabungan aman.

Padahal jika kita jujur:
kapan sih dalam hidup manusia merasa “cukup”?

Bahkan saat gaji naik, seringnya kebutuhan ikut naik.
Saat penghasilan meningkat, pengeluaran pun bertambah.
Dan akhirnya… tetap merasa kurang.

Lalu, kapan kita benar-benar “cukup” untuk mulai sedekah?

Jawabannya:
Tidak pernah… jika kita menunggu.


Rahasia yang Tidak Banyak Diketahui: Orang Kaya Tidak Mulai dari Kaya

Kita sering salah sangka.

Kita kira:

  • orang kaya bersedekah karena mereka sudah kaya,

  • pengusaha sukses berbagi karena mereka punya banyak uang,

  • filantropis memberi karena tabungan mereka melimpah.

Padahal kenyataannya sering terbalik.

Mereka itu dulu:

  • memulai dengan sedekah seribu-dua ribu rupiah,

  • memberi saat mereka pun sedang kesulitan,

  • bersedekah ketika usaha mereka belum berjalan,

  • menolong orang lain saat mereka sendiri sedang dipenuhi kekhawatiran.

Dari situlah Allah buka pintu rezeki mereka.

Karena Allah tidak melihat berapa besar yang kita beri,
tapi berapa ikhlasnya kita memberi.


Dalilnya Sangat Jelas: Allah Membesarkan Sedekahmu Hingga Menjadi Gunung

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah memelihara sedekah seseorang dari kalian
sebagaimana seseorang memelihara anak kudanya,
hingga menjadi sebesar gunung.”

(HR. Bukhari & Muslim)

Sedekah yang kecil — sekeping koin, selembar uang lusuh, bahkan makanan sederhana —
ditumbuhkan oleh Allah
hingga menjadi pahala dan balasan sebesar gunung.

Jika Allah sudah berjanji seperti itu…
apalagi yang perlu ditunggu?


Ayat yang Mengubah Hidup Banyak Orang

Allah berfirman:

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
“Apa saja yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya.”
(QS. Saba: 39)

Perhatikan:
Bukan “besar”.
Bukan “banyak”.
Bukan “cukup dulu baru beri”.

Tapi:
Apa saja.
Sekecil apa pun.
Allah berjanji menggantinya.

Maka sesungguhnya,
yang membuat seseorang itu kaya bukan harta awalnya,
tetapi keberkahan dari memberi.


Allah Tidak Menunggu Kita Kaya untuk Memberi Pertolongan

Dalam Al-Qur’an:

“Orang yang memberi… maka Kami mudahkan baginya jalan kelapangan.”
(QS. Al-Lail: 5–7)

Sedekah itu bukan hasil dari kekayaan.
Sedekah adalah pintu menuju kekayaan.

  • Kamu memberi → Allah mudahkan rezekimu.

  • Kamu berbagi → Allah lapangkan jalan hidupmu.

  • Kamu menolong orang lain → Allah menolongmu.

  • Kamu keluarkan sedikit → Allah balas berlipat-lipat.

Inilah rahasia yang banyak orang tidak tahu.


Masih Berpikiran ‘Nanti Kalau Kaya Baru Sedekah’?

Coba renungkan ini:

Jika orang menunggu kaya baru bersedekah,
maka tidak akan pernah ada orang miskin keluar dari kemiskinannya.

Tapi jika orang miskin memulai sedekah — walaupun kecil —
maka pintu rezeki terbuka,
keberkahan turun,
kesempitan perlahan berganti kelapangan.

Karena yang membuat hidup berubah bukan besar uangnya,
tapi besar keberkahan yang Allah turunkan atas sedekah itu.


Ubah Mindset

“Dia bisa sedekah karena dia kaya.”
✔️ “Dia kaya karena Allah membalas sedekahnya sejak dia belum kaya.”

“Aku belum cukup untuk memberi.”
✔️ “Justru sedekah yang membuat hidupku cukup.”

“Nanti saja kalau penghasilan stabil.”
✔️ “Sedekah adalah jalan agar penghasilan stabil.”


Mulailah Sekarang, Walau Sedikit

Tidak perlu menunggu mobil lunas.
Tidak perlu menunggu tabungan penuh.
Tidak perlu menunggu usaha besar.

Mulai dari:

  • Rp1.000

  • Rp2.000

  • Rp5.000

  • seikhlasnya

  • sesedikit apa pun

Karena Allah yang akan membesarkan.
Allah yang akan menumbuhkan.
Allah yang akan melipatgandakan.
Allah yang akan menjadikannya sebesar gunung.

Dan Allah pula yang akan mengubah hidupmu.

Olahraga seperti lari adalah tren positif untuk menjaga kesehatan. Namun, dalam Islam, tubuh yang sehat bukan tujuan akhir — melainkan sarana agar kita bisa beribadah, menebar manfaat, dan semakin dekat dengan Allah SWT.


🌿 Olahraga Lari, Tren Positif yang Perlu Dukung

Beberapa tahun terakhir, olahraga lari semakin digemari masyarakat Indonesia.
Mulai dari komunitas kecil di lingkungan perumahan hingga event besar seperti fun run dan marathon di berbagai kota.
Fenomena ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang peduli dengan kebugaran dan gaya hidup sehat.

Islam tidak menentang tren semacam ini. Justru, menjaga kesehatan adalah bagian dari ajaran Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa kekuatan fisik merupakan nilai yang terpuji — sebab dengan tubuh yang kuat, seorang mukmin bisa lebih maksimal dalam beribadah dan menebar manfaat.


💪 Kesehatan adalah Amanah, Bukan Sekadar Tren

Olahraga lari, gym, atau bersepeda memang sedang menjadi gaya hidup modern.
Namun, bagi seorang muslim, tujuan berolahraga tidak berhenti pada tubuh yang bugar.

Kita berlari bukan hanya untuk kebugaran jasmani, tapi untuk menjaga amanah Allah berupa tubuh yang sehat.
Kita mengatur pola makan, bukan sekadar agar tampak ideal, tapi agar punya energi untuk ibadah dan beramal saleh.

Kesehatan adalah nikmat besar,
dan menjaga nikmat itu adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pemberi Nikmat.


🌺 Sehat untuk Menebar Manfaat dan Beribadah Lebih Baik

Setelah berolahraga dan tubuh terasa lebih sehat, pertanyaan pentingnya adalah:
Untuk apa kesehatan ini digunakan?

Apakah sekadar agar terlihat segar dan bugar,
atau agar bisa lebih banyak melakukan kebaikan?

Dengan tubuh yang sehat:

  • Kita bisa lebih semangat ke masjid.

  • Bisa lebih tangguh membantu orang lain.

  • Bisa lebih fokus bekerja dan beramal.

  • Dan tentu saja, bisa lebih khusyuk dalam ibadah.

Maka, sehat bukanlah tujuan akhir.
Kesehatan adalah jembatan menuju amal dan ibadah yang lebih baik.


🌙 Olahraga Pun Bisa Jadi Ibadah

Dalam Islam, semua aktivitas bisa bernilai ibadah bila diniatkan karena Allah.
Ketika seseorang berlari, bukan sekadar mengejar waktu atau jarak tempuh, tapi berniat menjaga amanah tubuh agar bisa terus beribadah dan menolong sesama,
maka larinya pun bernilai ibadah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Niat yang lurus mengubah aktivitas biasa menjadi bernilai luar biasa.


Kuat Fisik, Kuat Iman

Menjaga kesehatan dengan berolahraga adalah langkah baik.
Namun, seorang mukmin tidak berhenti di sana.
Ia menyadari bahwa tubuh yang sehat hanyalah sarana — bukan tujuan akhir.

Mari terus berlari, bergerak, dan menjaga tubuh yang Allah titipkan.
Gunakan kekuatan itu untuk menebar kebaikan, melayani sesama, dan memperbanyak ibadah.

Karena sejatinya, kesehatan yang paling berharga adalah ketika tubuh yang kuat digunakan untuk taat.


🕊️ “Lari untuk sehat, sehat untuk ibadah.”
“Sehat bukan tujuan akhir, tapi jalan menuju kebaikan.”

Refleksi dari Relawan Ambulans Peduli

 

Dalam grup relawan Ambulans Peduli, hampir setiap hari ada kabar duka: panggilan pengantaran jenazah.
Kadang bayi yang belum sempat menatap dunia. Kadang remaja yang baru menapaki hidup. Kadang orang tua yang sudah melewati panjangnya perjalanan.
Ada yang dari keluarga mampu, ada pula yang dari kalangan sederhana — bahkan bingung di mana jenazah keluarganya akan dimakamkan.

Sirine ambulans yang meraung bukan hanya suara pelayanan, tapi seharusnya juga suara pengingat: bahwa kematian selalu dekat, dan tidak pernah mengenal waktu.


Takziyah yang Kehilangan Makna

Kita sering datang takziyah. Duduk, menyalami keluarga yang berduka, mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Namun jujur saja, tak selalu hati ini ikut bergetar.
Kadang pikiran melayang ke urusan pekerjaan, pesan WhatsApp, atau agenda esok hari.
Kematian yang ada di depan mata terasa seperti cerita orang lain — bukan peringatan bagi diri sendiri.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (yakni kematian).”
(HR. Tirmidzi)

Kematian bukan untuk ditakuti, tapi untuk diingat.
Bukan untuk membuat kita takut hidup, tetapi agar kita hidup dengan lebih bermakna.


Sebagai relawan, kami belajar banyak dari perjalanan yang sunyi itu.
Tidak semua jenazah diiringi banyak pelayat. Tidak semua keluarga memiliki cukup biaya.
Kadang jenazah diantar dari rumah kecil yang sempit, dengan keluarga yang hanya bisa meneteskan air mata dalam diam.
Di lain waktu, kami mengantar jenazah dari rumah besar, dengan banyak orang dan karangan bunga.
Tapi pada akhirnya, semuanya kembali ke tanah yang sama, dengan cara yang sama.

Momen seperti itu sering membuat kami merenung —
betapa kematian adalah penyeragam paling adil, yang menghapus perbedaan status, harta, dan jabatan.

Dan di antara semua pemandangan itu, kami menyadari:
yang paling berharga bukan seberapa lama kita hidup, tapi seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan.


Kita Butuh Takziyah yang Menghidupkan Hati

Hari ini, banyak yang bisa datang ke rumah duka, tapi sedikit yang datang dengan hati yang sadar.
Takziyah seharusnya bukan sekadar rutinitas sosial.
Ia adalah ruang tafakkur — ruang untuk bertanya pada diri sendiri:

“Jika hari ini aku yang dipanggil, sudahkah aku siap?”

Kita tak pernah tahu kapan giliran kita.
Yang pasti, setiap jenazah yang kita lihat bukan sekadar “mereka yang pergi”, tapi juga peringatan bahwa waktu kita pun semakin dekat.


Setiap kematian adalah panggilan lembut dari Allah, bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyadarkan.
Agar kita hidup dengan hati yang lebih tenang, amal yang lebih nyata, dan niat yang lebih lurus.

Semoga setiap takziyah yang kita hadiri menjadi pengingat yang menghidupkan,
bukan sekadar kabar yang lewat di grup relawan atau media sosial.

“Cukuplah kematian sebagai nasihat bagi orang yang berakal.”
(HR. Baihaqi)


🕊️ ULAZ MKU ANDA
Menyalurkan Amanah, Menyebarkan Kebaikan, Menyadarkan Hati.

 

Dulu, Kopi Adalah Teman Ibadah dan Ilmu

Dalam sejarah Islam, kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk.
Ia lahir dari semangat ibadah.
Pada abad ke-15, para sufi di Yaman meminum kopi agar kuat beribadah malam (qiyamullail) dan fokus berdzikir kepada Allah.

Kopi lalu menyebar ke Makkah, Mesir, dan Istanbul.
Di masa itu, kopi menjadi teman bagi ulama dan pelajar yang mengkaji kitab hingga larut malam.
Kedai kopi pertama di dunia bahkan dikenal sebagai tempat diskusi ilmu, bukan tempat buang waktu.

Kopi dulu adalah “bahan bakar spiritual” —
sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar gaya hidup.


Sekarang, “Ngopi” yang Kehilangan Makna

Kini, makna ngopi bergeser jauh.
Kopi yang dulu menyalakan semangat ibadah, kini sering jadi simbol hiburan dan pelarian.

Kedai kopi menjamur di setiap sudut kota.
Banyak orang duduk berjam-jam di sana, bukan untuk berdiskusi atau belajar, melainkan sekadar menghabiskan waktu — ditemani gawai dan obrolan ringan.

Kopi tetap halal.
Ngobrol juga bukan dosa.
Namun, Islam mengajarkan kita untuk menilai setiap waktu yang kita habiskan.

Apakah ia mendekatkan kita pada kebaikan,
atau justru menjauhkan dari tujuan hidup yang hakiki?


Waktu: Amanah yang Akan Ditanya

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.
(HR. Bukhari)

Waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Bahkan jika kita tidak berbuat dosa, tapi juga tidak melakukan hal bermanfaat, itu tetap termasuk kerugian.

Allah SWT berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih,
dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Kopi halal, tapi waktu luang yang dibiarkan tanpa makna bisa menjadi musibah yang tak terlihat.
Kita kehilangan kesempatan berbuat baik tanpa sadar.


Ngopi Bisa Jadi Ibadah — Kalau Diniatkan dengan Benar

Islam tidak melarang menikmati hidup.
Bahkan, ngopi bisa menjadi ibadah jika disertai niat yang benar.

✅ Ngopi sambil silaturahmi dan saling menasihati.
✅ Ngopi sambil berdiskusi ilmu dan ide kebaikan.
✅ Ngopi sambil menenangkan diri dan merenung tentang hidup.

Itulah ngopi yang berpahala — bukan karena kopinya, tapi karena niat dan arah manfaatnya.

Namun, jika ngopi hanya untuk menghabiskan waktu, membicarakan orang lain, atau melupakan ibadah,
kita sedang menukar amanah Allah dengan kesia-siaan.


Sering terdengar kalimat seperti:

“Uang saya sendiri, terserah mau saya buat ngopi.
Kan halal, cuma ngobrol sama teman.”

Benar, halal. Tapi Islam mengajarkan bahwa semua yang kita miliki — termasuk waktu, tenaga, dan harta — adalah titipan Allah.
Kita bebas menggunakannya, tapi akan tetap dimintai pertanggungjawaban.

Ngopi bukan masalah, tapi ketika waktu, tenaga, dan harta bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih bernilai,
apakah bijak jika kita terus menukar waktu berharga dengan kesenangan sesaat?


Renungan: Ulama Dulu Ngopi untuk Ibadah, Kita Ngopi untuk Apa?

Ulama dan pelajar Islam dulu menjadikan kopi sebagai sarana menjaga semangat.
Mereka ngopi agar kuat beribadah dan menambah ilmu.
Kita hari ini — apakah ngopi kita masih punya arah yang sama?

Kopi halal, tapi waktu itu mahal.
Setiap tegukan seharusnya mengingatkan kita:
hidup ini singkat, dan setiap detik adalah peluang untuk menanam amal jariyah.

“Kopi bisa jadi ibadah,
tapi hanya jika ia membuatmu lebih dekat kepada Allah.”


Kopi bukan musuh.
Yang perlu diwaspadai adalah kelalaian di antara tegukannya.
Gunakan waktu untuk hal-hal yang mendekatkan kita pada Allah, memperbaiki diri, dan menebar manfaat bagi sesama.

Karena sejatinya, bukan seberapa sering kita ngopi,
tapi seberapa berarti waktu yang kita habiskan.

Di tengah meningkatnya semangat umat Islam menunaikan umrah berkali-kali, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah keutamaan ibadah diukur dari seberapa sering kita ke Tanah Suci, atau seberapa besar manfaat yang kita hadirkan bagi sesama?

Umrah memang ibadah yang mulia — menjadi impian banyak muslim untuk melihat Ka‘bah, beribadah di Masjidil Haram, dan merasakan kedamaian di tanah suci. Namun, Islam juga mengajarkan kita untuk menempatkan prioritas ibadah secara bijak.

Apakah lebih utama mengulang umrah, atau menginfakkan harta kita untuk membantu mereka yang membutuhkan?


1. Umrah: Ibadah yang Mulia tapi Tidak Wajib Diulang

Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan umrah empat kali. Namun, para ulama menjelaskan bahwa umrah tidak wajib dilakukan berkali-kali.
Sekali seumur hidup sudah mencukupi, karena setelah itu hukumnya sunnah.

Artinya, jika seseorang sudah menunaikan umrah dan memiliki kelebihan rezeki, maka tidak ada kewajiban baginya untuk terus mengulanginya.
Apalagi jika di sekitarnya masih banyak saudara Muslim yang kesulitan — yang hidup dalam kekurangan, kelaparan, atau berjuang demi bertahan hidup.


2. Infaq: Ibadah yang Dampaknya Lebih Luas

Berbeda dengan umrah, infaq dan sedekah sering kali memiliki dampak sosial yang jauh lebih besar.
Melalui infaq, seseorang bisa:

  • Menyantuni anak yatim,

  • Membantu dhuafa berobat,

  • Menyediakan makanan bagi yang kelaparan,

  • Atau menyelamatkan keluarga dari utang dan kesulitan hidup.

Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga ibadah sosial yang menumbuhkan kasih sayang dan kepedulian antar sesama.

Allah berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)

Ayat ini menegaskan bahwa puncak kebaikan bukan pada ibadah yang mudah dilakukan, tetapi pada kerelaan mengorbankan sesuatu yang kita cintai untuk kepentingan orang lain.


3. Dalil: Menolong Orang Lebih Baik dari I‘tikaf di Masjid Nabawi

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya (Muslim), maka itu lebih baik baginya daripada ber-i‘tikaf di masjidku ini (Masjid Nabawi) selama satu bulan.”
(HR. Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami‘ no. 176)

Masjid Nabawi adalah tempat yang amat mulia. Jika menolong orang lain saja lebih utama daripada i‘tikaf sebulan di Masjid Nabawi, maka tentu menolong orang yang sangat membutuhkan lebih bernilai di sisi Allah daripada ibadah sunnah yang hanya memberi manfaat bagi diri sendiri.

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruquthni)

Dan Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an:

“… tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang yang meminta-minta…”
(QS. Al-Baqarah: 177)

Ibnul Qayyim rahimahullah menulis dalam Madarij as-Salikin (1/317):

“Menunaikan hajat manusia, memberi manfaat kepada mereka, dan menghilangkan kesusahan mereka lebih dicintai Allah daripada ibadah yang hanya bermanfaat bagi pelakunya sendiri.”


4. Menempatkan Prioritas dengan Bijak

Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial.

Bukan berarti umrah tidak perlu — tapi kita perlu menempatkan prioritas sesuai dengan keadaan.

Jika seseorang belum pernah umrah dan Allah memberinya kemampuan, maka berangkatlah — karena itu ibadah yang mulia dan memperkuat iman.
Namun, bila sudah berkali-kali umrah sementara di sekitarnya masih banyak yang kesulitan, maka menginfakkan harta untuk membantu mereka bisa menjadi pilihan yang lebih utama dan lebih dicintai Allah.

Tulisan ini bukan untuk menyepelekan keutamaan umrah, melainkan mengajak kita menata niat dan menimbang prioritas agar ibadah sunnah tidak menutupi kewajiban sosial yang lebih mendesak.


Umrah menyucikan hati, infaq menyucikan harta.
Keduanya adalah ibadah yang agung, namun dalam konteks umat yang masih banyak menderita, ibadah sosial sering kali lebih mendesak dan lebih berpahala besar.

Sebab, Allah tidak hanya melihat berapa lama kita berada di Tanah Suci — tetapi seberapa besar manfaat yang kita hadirkan untuk sesama di sekitar kita.
Karena perjalanan menuju ridha Allah tidak selalu dimulai dari Masjidil Haram —
kadang dimulai dari tangan yang menolong saudara di kampung sendiri.

Dalam sebuah organisasi, rapat sering kali menjadi ruang bertemunya berbagai ide lintas divisi. Ada kalanya seseorang dari satu bagian menyampaikan masukan untuk bagian lain, karena melihat adanya peluang efisiensi atau perbaikan. Namun, tidak jarang yang muncul justru kalimat: “Fokus saja pada bagianmu, jangan mencampuri bagian lain.”

Sekilas terdengar wajar, tetapi pandangan ini berisiko membuat organisasi berjalan dalam sekat-sekat kaku. Padahal, tidak ada divisi yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap bagian selalu saling terhubung, dan keputusan satu divisi akan berpengaruh pada keseluruhan lembaga.

Dalam konteks inilah, ada baiknya kita merenungkan kembali kisah-kisah hikmah, baik dari literatur Islam maupun fabel klasik, yang sejak lama mengajarkan bahwa kolaborasi bukan pilihan, melainkan keharusan.


Kapal yang Bocor: Sebuah Tanggung Jawab Kolektif

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis sahih riwayat Bukhari, bahwa manusia seperti penumpang kapal. Sebagian berada di atas, sebagian di bawah. Orang-orang di bawah merasa repot jika harus naik setiap kali mengambil air, maka mereka ingin melubangi lantai kapal.

Jika orang-orang di atas membiarkan, kapal akan bocor dan semua binasa. Namun jika mereka mencegahnya, seluruh penumpang akan selamat.

🔑 Pesan moralnya jelas: keselamatan bersama tidak bisa dilepaskan pada satu bagian saja. Ketika ada keputusan atau tindakan yang membahayakan, semua punya kewajiban untuk menegur, memperbaiki, dan mencari solusi.

Dalam lembaga modern, ini artinya setiap divisi berhak dan berkewajiban memberi masukan—bukan untuk menguasai, tapi untuk menyelamatkan kapal besar bernama organisasi.


Tubuh dan Bangunan: Saling Menguatkan, Bukan Memisahkan

Nabi Muhammad ﷺ juga memberikan perumpamaan yang indah:

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, cinta, dan empati adalah seperti satu tubuh; bila satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, beliau menggambarkan umat seperti bangunan yang saling menguatkan, lalu beliau merapatkan jari-jarinya.

🔑 Pesannya: sebuah sistem hanya bisa kuat jika semua bagian saling menopang. Divisi keuangan tidak bisa berjalan jika pemasaran terguncang. Operasional tidak bisa berkembang jika komunikasi publik lemah. Begitu juga sebaliknya.


Tongkat dan Sapi: Pelajaran dari Fabel Klasik

Pesan serupa juga hadir dalam fabel klasik.

Dalam kisah Aesop, seorang ayah memberikan seikat tongkat kepada anak-anaknya. Saat diikat jadi satu, tidak ada yang bisa mematahkannya. Namun saat dilepaskan, tongkat-tongkat itu mudah dipatahkan.

Dalam kisah lain, ada empat ekor sapi yang selalu bersama sehingga singa tidak berani mendekat. Namun ketika mereka bertengkar dan berpencar, singa dengan mudah memangsa mereka satu per satu.

🔑 Pesannya sederhana: kekuatan bukan terletak pada bagian, tetapi pada kebersamaan. Ketika divisi di sebuah lembaga saling menjaga jarak dan merasa “cukup dengan urusannya sendiri”, organisasi menjadi rapuh.


Gajah dan Orang Buta: Perspektif yang Harus Dilengkapi

Cerita dari India kuno mengisahkan sekelompok orang buta yang menyentuh seekor gajah. Yang memegang belalainya berkata, “Gajah itu seperti ular.” Yang memegang kakinya berkata, “Gajah itu seperti pohon.” Yang memegang telinganya berkata, “Gajah itu seperti kipas.”

Semua pendapat benar, tapi hanya sebagian. Tanpa saling mendengarkan dan menyatukan perspektif, gambaran utuh tidak akan pernah muncul.

🔑 Pesannya: setiap divisi dalam organisasi ibarat orang buta yang memegang bagian gajah berbeda. Mereka melihat dari sudut pandang masing-masing. Justru dengan menggabungkan sudut pandang itu, lembaga bisa melihat gambaran utuh dan mengambil keputusan yang tepat.


Tantangan Menerima Masukan

Namun, mari kita jujur: menerima masukan memang tidak mudah. Hampir setiap orang, apalagi yang memiliki tanggung jawab besar, bisa merasa seolah dirinya sedang disalahkan atau dituduh keliru. Naluri manusiawi adalah membela diri, mencari kebenaran versi masing-masing, atau bahkan menolak dengan alasan menjaga wibawa.

Padahal, masukan sejatinya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menjaga agar keseluruhan lembaga tidak terguncang. Sebagaimana perumpamaan kapal dalam hadis, menegur orang yang ingin melubangi kapal bukan berarti mempermalukan, tetapi menyelamatkan semua penumpang.

Di sinilah nilai tawāshau bil-haqq (saling menasihati dalam kebenaran) menemukan maknanya. Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-‘Ashr:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Masukan lintas divisi, jika dilihat dengan hati terbuka, adalah bagian dari upaya saling menasihati dalam kebenaran. Mungkin terasa tidak nyaman di awal, tetapi pada akhirnya justru menjaga semua pihak agar tidak terjatuh dalam kerugian yang lebih besar.


Dari Ego Menuju Kolaborasi

Kisah-kisah di atas—baik dari hadis Nabi ﷺ, literatur Islam, maupun fabel klasik—berbicara hal yang sama: bahwa setiap bagian dalam sebuah sistem saling terhubung.

  • Kapal bocor karena satu bagian, seluruh penumpang tenggelam.

  • Tubuh sakit di satu anggota, seluruh badan ikut lemah.

  • Tongkat rapuh saat terpisah, tapi kuat saat terikat.

  • Sapi selamat saat bersama, tapi musnah saat berpencar.

  • Orang buta salah tafsir gajah jika tak mau mendengarkan yang lain.

Organisasi modern pun demikian. Menutup diri dengan alasan “ini bukan urusanmu” justru memperlemah. Sementara membuka ruang dialog dan kolaborasi akan memperkuat, mengefisiensikan, dan bahkan menyelamatkan lembaga dari kebocoran yang tidak terlihat.

Rapat pimpinan seharusnya bukan tempat untuk mengkotak-kotakkan urusan, tetapi ruang dialog untuk memastikan kapal tetap utuh, tubuh tetap sehat, dan tongkat tetap kokoh.

Jika kisah-kisah hikmah ribuan tahun lalu masih relevan hingga hari ini, artinya pesan utamanya tidak pernah lekang: kolaborasi adalah jalan keselamatan.

Oleh : Dr. Sri Praptono, S.Sos, M.M
Ketua Pengurus KSPPS Mitra Anda Sejahtera
Ditulis ulang oleh : Mahatma Yusuf

Setiap muslim mendambakan hidup yang seimbang: sukses di dunia tanpa melupakan bekal akhirat. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menunjukkan bahwa dunia dan akhirat sama-sama penting, dan keduanya ada ilmunya. Dunia dikelola dengan ilmu, dan akhirat pun diraih dengan ilmu. Namun, agar setiap langkah kita bernilai amal shalih, rutinitas harian harus dibingkai dengan niat ibadah. Inilah mengapa setiap aktivitas sebaiknya diawali dengan basmalah dan niat ikhlas. Dengan begitu, makan, bekerja, atau bahkan sekadar tersenyum bisa bernilai pahala.


Qur’an sebagai Panduan Hidup Seimbang

Lalu, dari mana kita belajar menyeimbangkan dunia dan akhirat? Jawabannya adalah Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah mukjizat kalamullah yang diturunkan ke qalbu Rasulullah ﷺ secara mutawatir. Membacanya saja sudah bernilai ibadah. Namun, interaksi dengan Qur’an tidak seharusnya berhenti di kegiatan membaca saja. Ada tahapan yang lebih dalam: mentadabburi, mempelajari, hingga mengamalkan.

Dengan tadabbur, kita menemukan makna yang menuntun kehidupan. Misalnya, memahami asbâbun nuzûl surat Adh-Dhuha mengajarkan optimisme saat menghadapi kesulitan, sementara surat Al-Kautsar menumbuhkan rasa syukur di tengah limpahan nikmat. Dari sini kita melihat: Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi pedoman nyata untuk menyeimbangkan hati, pikiran, dan langkah.


Jalan Perbaikan: Keteladanan dan Pengajaran

Jika Qur’an adalah pedoman, maka cara kita meresponsnya adalah dengan senantiasa memperbaiki diri. Agenda besar seorang muslim adalah perbaikan terus-menerus, yang minimal dapat ditempuh melalui dua jalan:

  1. Keteladanan. Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik (QS. Al-Ahzab: 21). Maka, setiap muslim perlu berusaha mematutkan diri agar bisa dicontoh orang lain. Inilah makna ungkapan Jawa, “Guru: digugu lan ditiru.”

  2. Pengajaran, dengan Al-Qur’an sebagai Rujukan Utama

    Seorang Muslim sejatinya harus menjadikan Al-Qur’an sebagai guru sejati dalam kehidupannya. Bukan hanya dibaca dan dihafal, tetapi juga dipahami dan dijadikan pedoman dalam setiap langkah. Allah ﷻ menegaskan bahwa ilmu yang benar berasal dari-Nya. Sebagaimana dalam kisah Nabi Adam `alayhissalam, Allah berfirman:

    “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya.”
    (QS. Al-Baqarah: 31)

    Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu sejati bersumber dari Allah, dan salah satu jalan utama untuk memperolehnya adalah melalui Al-Qur’an. Maka seorang Muslim harus membuka diri untuk diajari oleh Al-Qur’an: menerima bimbingan, arahan, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

    Ketika hati tunduk pada pengajaran Al-Qur’an, seorang Muslim akan memperoleh hikmah dan pemahaman yang melampaui sekadar logika manusia. Dari sini lahirlah pribadi yang berakhlak, berilmu, dan berwawasan luas, karena ia mengacu pada sumber ilmu yang tidak terbatas.


Buah dari Interaksi Intensif dengan Qur’an

Ketika keteladanan dan pengajaran berangkat dari Qur’an, hidup akan menemukan keseimbangannya. Orang yang intens berinteraksi dengan Qur’an akan:

  • Meraih ketenangan hati, karena Qur’an adalah syifa’ (obat penenang jiwa).

  • Diangkat derajatnya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim).

  • Menjalani hidup seimbang dunia dan akhirat, karena setiap langkah dipandu oleh wahyu.


Khataman Qur’an bukan sekadar menandai akhir dari bacaan, tetapi momentum untuk melangkah lebih jauh: memperbanyak interaksi dengan Qur’an, memperdalam tadabbur, memperbaiki diri melalui keteladanan, dan menyebarkan ilmu dengan ikhlas.

Dengan Al-Qur’an sebagai pedoman, setiap rutinitas bisa berubah menjadi ibadah, setiap langkah menjadi amal shalih, dan setiap usaha membawa kita menuju keseimbangan: sukses dunia sekaligus bahagia di akhirat.

Beberapa tahun terakhir, kondisi ekonomi global maupun nasional semakin terasa berat. Inflasi, harga kebutuhan pokok naik, PHK massal, hingga ketidakpastian politik dan geopolitik, semuanya memberi dampak langsung kepada masyarakat. Para pakar ekonomi memprediksi, lima tahun ke depan tidak akan mudah. Banyak keluarga kelas menengah bisa terperosok menjadi golongan miskin jika tidak bijak dalam mengelola keuangan.

Namun, sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk tetap tenang, realistis, dan penuh harap kepada Allah. Islam mengajarkan keseimbangan: berusaha secara duniawi dengan perencanaan yang matang, sambil memperkuat ikhtiar ukhrowi yang mengundang pertolongan Allah.

Lalu, apa saja yang sebaiknya kita lakukan? Mari kita bahas dua sisi ikhtiar ini.


1️⃣ Ikhtiar Duniawi: Langkah Bijak Mengelola Uang

Kita tidak bisa mengendalikan keadaan ekonomi global, tetapi kita bisa mengendalikan cara kita mengelola uang dan usaha. Berikut beberapa langkah penting:

1. Stop Menambah Hutang Baru, Segera Lunasi Hutang Lama

Hutang adalah beban. Saat penghasilan turun, cicilan bisa menjadi jebakan. Kurangi atau hentikan utang konsumtif, dan prioritaskan melunasi hutang lama agar lebih tenang secara finansial.

2. Fokus pada Usaha yang Ada

Banyak orang tergoda untuk ekspansi bisnis ketika melihat peluang. Namun, kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat langkah itu penuh risiko. Lebih aman memperkuat usaha yang sudah berjalan daripada memaksakan membuka cabang baru.

3. Jangan Sembarangan Meminjamkan Uang

Membantu orang lain itu baik, tetapi dalam situasi sulit, menjaga ketahanan finansial keluarga sendiri lebih utama. Jika ingin membantu, bisa dengan sedekah atau cara lain yang tidak mengganggu cash flow.

4. Waspada Investasi dan Penipuan Berkedok Bisnis

Banyak penipu berpenampilan meyakinkan yang menawarkan “investasi pasti untung”. Ingat prinsipnya: semakin tinggi janji keuntungan, semakin besar risikonya. Jangan mudah percaya tanpa riset mendalam.

5. Hindari Trading Spekulatif

Trading harian crypto, forex, atau saham membuat banyak orang bangkrut. Ingat, saham lebih aman diperlakukan sebagai investasi jangka panjang pada perusahaan yang sehat, bukan ajang spekulasi cepat kaya.

6. Jangan Masuk Bisnis yang Tidak Dikuasai

Tren usaha seringkali menggoda. Namun, terjun ke bisnis tanpa pengetahuan hanya akan berakhir rugi. Pastikan memiliki ilmu dan pengalaman sebelum memulai bidang baru.

7. Tahan Gaya Hidup

Banyak keluarga kelas menengah jatuh miskin bukan karena kurang penghasilan, tapi karena gaya hidup boros. Tidak perlu ganti mobil, tidak perlu pamer. Kurangi pemborosan dan perbanyak tabungan.

👉 Prinsip utama dari ikhtiar duniawi adalah: selamat dulu, baru sukses.


2️⃣ Ikhtiar Ukhrowi: Amalan Pembuka Pintu Rezeki

Selain ikhtiar duniawi, ada ikhtiar ukhrowi yang sama pentingnya. Justru, inilah yang bisa membuat hati tenang, penuh harapan, dan membuka jalan pertolongan Allah.

1. Perbanyak Istighfar

Allah berfirman dalam QS. Nuh: 10–12, istighfar bukan hanya menghapus dosa, tapi juga mendatangkan rezeki, hujan, harta, anak, dan keberkahan hidup.

2. Shalat Sunnah & Doa

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa menjaga shalat duha, maka akan dicukupkan rezekinya.” (HR. Tirmidzi). Jangan lupakan doa memohon kecukupan (al-ghinâ) dan keberkahan, karena doa adalah senjata orang beriman.

3. Sedekah Rutin

Allah menegaskan: “Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39).
Sedekah bukan soal jumlah besar, tapi soal keikhlasan. Sedikit namun rutin lebih baik daripada banyak tapi sesekali.

4. Jujur & Amanah dalam Muamalah

Dalam hadits disebutkan: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi).
Rezeki halal yang berkah lebih menenangkan daripada harta banyak tapi penuh kecurangan.

5. Syukur & Qana’ah

Allah berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah (nikmatmu).” (QS. Ibrahim: 7).
Bersyukur membuat hati tenang, qana’ah membuat kita merasa cukup, dan keduanya mendatangkan keberkahan.

6. Perbanyak Shalawat

Shalawat membuka jalan pertolongan Allah, melapangkan hati, dan sering kali menjadi wasilah rezeki yang tidak disangka-sangka.

7. Husnuzon kepada Allah

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari-Muslim).
Jika kita berprasangka baik bahwa Allah akan mencukupkan, maka Allah akan menolong dengan cara-Nya.

👉 Prinsip utama dari ikhtiar ukhrowi adalah: bukan hanya mencari rezeki, tapi mencari berkah rezeki.


Penutup

Ekonomi boleh saja tidak bersahabat, namun orang beriman selalu punya dua jalan:

  • Ikhtiar duniawi menjaga “perahu” agar tidak karam.

  • Ikhtiar ukhrowi menghadirkan “angin pertolongan Allah” agar sampai tujuan dengan selamat.

💡 Maka, tetaplah bijak dalam mengelola keuangan, sambil memperbanyak amalan yang mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, kita bukan hanya bertahan, tapi juga dimuliakan dalam keberkahan hidup.

Ketika roda ekonomi melambat dan ketidakpastian menghantui banyak orang, biasanya masyarakat cenderung menahan pengeluaran dan menyimpan uang. Akibatnya, perputaran ekonomi kian tersendat dan dampaknya terasa luas: dari dunia usaha hingga kehidupan rakyat kecil.

Dalam kondisi seperti ini, zakat hadir bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga instrumen ekonomi yang menjaga agar roda kehidupan tetap berputar.

1. Zakat: Mengalirkan Harta yang Tertahan

Di masa krisis, orang-orang cenderung menimbun harta. Zakat berperan mengalirkan sebagian dari harta tersebut kepada yang berhak. Harta yang tadinya “diam” menjadi “bergerak,” masuk ke tangan mustahik (penerima zakat) yang pasti membelanjakannya untuk kebutuhan hidup.

Dengan demikian, zakat mencegah terhentinya peredaran uang dan membantu menstabilkan ekonomi masyarakat bawah.

2. Menopang Kelompok Rentan di Saat Sulit

Krisis selalu paling keras dirasakan oleh kelompok rentan: fakir, miskin, pekerja harian, buruh kecil, dan para dhuafa. Zakat memastikan mereka tetap bisa bertahan dengan terpenuhinya kebutuhan pokok, sehingga tidak jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem.

Selain itu, keberlangsungan hidup mustahik juga berdampak pada stabilitas sosial. Dengan adanya zakat, jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin bisa dipersempit.

3. Menciptakan Perputaran Ekonomi Riil

Zakat yang diberikan dalam bentuk kebutuhan pokok, modal usaha, atau layanan sosial langsung menciptakan aktivitas ekonomi riil. Misalnya, zakat berupa modal usaha dapat membuat penerima membuka warung kecil, berdagang, atau beternak. Hal ini memicu efek ganda (multiplier effect): tercipta lapangan kerja, meningkatnya daya beli, dan menguatnya ekonomi lokal.

4. Menjaga Keberkahan Harta dan Jiwa

Selain manfaat ekonomi, zakat juga menjaga keberkahan harta para muzakki (pemberi zakat). Rasulullah ﷺ bersabda bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah. Bahkan di tengah krisis, zakat menjadi wasilah turunnya pertolongan Allah dan keberkahan rezeki.

Dengan membayar zakat, seorang Muslim bukan hanya menunaikan kewajiban, tetapi juga berkontribusi menyelamatkan perekonomian umat.


Krisis ekonomi adalah ujian berat, namun Islam telah memberikan solusi yang bukan hanya bersifat spiritual, melainkan juga praktis: zakat. Dengan zakat, harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya, tetapi mengalir ke seluruh lapisan masyarakat.

Maka, di saat ekonomi melambat, jangan menunda zakat. Justru inilah momentum untuk menghidupkan kembali roda ekonomi, menolong sesama, sekaligus meraih keberkahan dari Allah SWT.