Entries by ULAZ MKU BMT ANDA

Zakat Pengurang Pajak: Cara, Aturan, dan Contoh Perhitungannya

Banyak orang masih bertanya-tanya:

  • Apakah zakat pengurang pajak itu benar?

  • Apakah zakat kena pajak?

  • Bagaimana contoh perhitungan zakat sebagai pengurang pajak?

  • Zakat apa saja yang bisa jadi pengurang pajak penghasilan?

Jawabannya: zakat bisa menjadi pengurang pajak, selama memenuhi syarat tertentu dan disalurkan melalui lembaga zakat pengurang pajak yang resmi.

Artikel ini akan membantu Anda memahami:

  • zakat sebagai pengurang pajak penghasilan

  • zakat pengurang PPh 21

  • pajak zakat menurut aturan di Indonesia

  • dan ke mana sebaiknya menyalurkan zakat agar sah dan diakui negara


Apakah Zakat Kena Pajak?

Tidak.
Zakat bukan objek pajak, dan tidak dikenakan pajak.

Namun yang sering disalahpahami adalah ini:
zakat juga bukan pengurang pajak secara langsung, melainkan pengurang penghasilan kena pajak.

Itulah sebabnya istilah yang tepat adalah:

👉 zakat sebagai pengurang pajak penghasilan


Zakat Sebagai Pengurang Pajak Penghasilan

Di Indonesia, zakat diakui sebagai pengurang Pajak Penghasilan (PPh), termasuk:

  • zakat pengurang pajak penghasilan (PPh)

  • zakat pengurang PPh 21 bagi karyawan

  • zakat sebagai pengurang pajak bagi pengusaha dan profesional

Artinya, zakat akan mengurangi penghasilan bruto, sehingga pajak terutang menjadi lebih kecil.

Namun ada syarat penting.


Zakat yang Bisa Jadi Pengurang Pajak

Tidak semua zakat otomatis diakui sebagai pengurang pajak.

Zakat yang bisa jadi pengurang pajak harus memenuhi ketentuan berikut:

  1. Dibayarkan melalui lembaga zakat resmi

  2. Lembaga tersebut diakui dan berizin pemerintah

  3. Wajib pajak memiliki bukti setor zakat yang sah

  4. Dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan

Tanpa ini, zakat tetap sah secara agama,
tetapi tidak bisa dimanfaatkan sebagai pengurang pajak.


Contoh Perhitungan Zakat sebagai Pengurang Pajak

Agar lebih mudah dipahami, mari lihat contoh perhitungan zakat sebagai pengurang pajak:

Contoh:

  • Penghasilan bruto setahun: Rp120.000.000

  • Zakat yang dibayarkan (2,5%): Rp3.000.000

  • Zakat dibayarkan melalui lembaga zakat resmi

Maka:

Penghasilan yang dikenakan pajak =
Rp120.000.000 – Rp3.000.000 = Rp117.000.000

👉 Pajak dihitung dari Rp117 juta, bukan Rp120 juta
👉 Pajak terutang lebih kecil, tanpa mengurangi pahala zakat

Inilah manfaat nyata zakat pajak penghasilan.


Zakat Pengurang PPh 21 untuk Karyawan

Bagi karyawan, zakat juga dapat menjadi:
👉 zakat pengurang PPh 21

Caranya:

  • Zakat dibayarkan melalui lembaga zakat resmi

  • Bukti setor disimpan

  • Dicantumkan saat pelaporan SPT Tahunan

Dengan cara ini:

  • zakat tetap ibadah

  • pajak tetap patuh

  • administrasi tetap rapi


Daftar Lembaga Zakat Pengurang Pajak

Secara umum, daftar lembaga zakat pengurang pajak adalah:

  • LAZ nasional dan daerah yang memiliki SK Kementerian Agama

  • Unit Layanan Zakat (ULAZ) di bawah LAZ resmi

Yang terpenting:
👉 lembaga zakat pengurang pajak harus punya legalitas sah


ULAZ MKU ANDA: Lembaga Zakat Pengurang Pajak yang Resmi

Jika Anda mencari lembaga zakat pengurang pajak yang:

  • sah

  • jelas

  • bisa dipertanggungjawabkan

Maka ULAZ MKU ANDA adalah pilihan yang tepat.

Legalitas:

  • LAZ MKU
    SK Kementerian Agama RI
    No. 947 Tahun 2021

  • ULAZ MKU ANDA
    SK Pengurus LAZ MKU
    No. 09/SK-Pengurus/LAZ MKU/III/2021

Zakat yang disalurkan melalui ULAZ MKU ANDA:
✔️ diakui negara
✔️ sah sebagai zakat pengurang pajak
✔️ bisa digunakan dalam pelaporan pajak penghasilan

📍 Alamat:
Jl. Menoreh Utara Raya No. 1, Sampangan, Kota Semarang


Zakat sebagai Pengurang Pajak: Ibadah yang Utuh

Dengan menyalurkan zakat melalui lembaga yang tepat:

  • Anda menunaikan perintah agama

  • Anda patuh pada aturan negara

  • Anda mengelola harta dengan bijak

Zakat tidak mengurangi harta.
Ia membersihkan, menenangkan, dan menguatkan.


Tunaikan Zakat Anda Sekarang

👉 Salurkan zakat Anda melalui ULAZ MKU ANDA
👉 Dapatkan bukti setor resmi
👉 Jadikan zakat sebagai pengurang pajak penghasilan yang sah

Karena zakat yang ditunaikan dengan benar,
akan memberi manfaat — di dunia dan akhirat.

Ketika Karyawan Lebih Memilih Curhat ke Luar, Ada yang Salah di Dalam

Ada satu indikator sederhana namun sangat jujur untuk menilai kesehatan sebuah lembaga:
kepada siapa karyawannya berani berbicara ketika ada masalah.

Ketika karyawan lebih memilih mencurahkan kegelisahannya ke luar—kepada teman, komunitas, bahkan media sosial—alih-alih kepada manajemen, sesungguhnya itu bukan sekadar persoalan “etika” atau “rahasia perusahaan”.
Itu adalah alarm keras bahwa komunikasi internal telah gagal menjalankan fungsinya.

Namun yang sering terjadi justru sebaliknya.
Alih-alih bertanya “mengapa mereka tidak berani bicara kepada kami?”, sebagian manajemen memilih bertahan, menutup diri, bahkan melontarkan peringatan dan ancaman:
“Jangan membicarakan masalah internal ke orang luar, itu melanggar etika, itu rahasia lembaga.”

Pertanyaannya: apakah masalahnya benar-benar pada mulut karyawan, atau pada telinga manajemen yang tidak pernah mau mendengar?


Curhat Bukan Masalah Utama, Ketakutanlah Masalah Sebenarnya

Karyawan tidak serta-merta memilih bicara ke luar tanpa sebab.
Dalam banyak kasus, itu lahir dari pengalaman berulang:

  • Pernah bicara, tapi dianggap pembangkangan

  • Pernah menyampaikan kritik, tapi dicap tidak loyal

  • Pernah jujur, tapi justru dipinggirkan

Lambat laun, karyawan belajar satu hal: diam di dalam lebih berbahaya daripada bicara di luar.

Di titik ini, curhat ke luar bukan bentuk pengkhianatan, melainkan mekanisme bertahan hidup secara psikologis.
Dan lembaga yang sehat seharusnya cukup dewasa untuk mengakui fakta ini, bukan menutupinya dengan dalih etika.


Ketika “Rahasia Perusahaan” Menjadi Tameng Anti-Introspeksi

Istilah “rahasia perusahaan” sejatinya dibuat untuk melindungi data strategis, bukan untuk membungkam suara manusia di dalamnya.
Namun dalam praktik, istilah ini sering dipelintir menjadi alat kekuasaan:

  • Kritik disebut pembocoran

  • Keluhan disebut pembangkangan

  • Kejujuran disebut ancaman

Padahal, lembaga yang kuat tidak runtuh karena dibicarakan, tetapi karena tidak pernah mau dibenahi.

Menjaga nama baik lembaga tidak pernah bisa dipisahkan dari keberanian memperbaiki keburukan di dalamnya.


Ini Bukan Sekadar Manajemen, Ini Amanah

Dalam konteks lembaga syariah, persoalan ini jauh lebih serius.
Karena kita tidak hanya bicara soal kinerja, tetapi amanah, keadilan, dan akhlak kepemimpinan.

Islam tidak mengajarkan kepemimpinan yang anti kritik.
Rasulullah ﷺ justru membuka ruang dialog, menerima masukan, bahkan mengubah keputusan ketika nasihat itu benar.

Jika sebuah lembaga mengusung label syariah, tetapi:

  • takut mendengar keluhan internal

  • alergi terhadap kritik

  • dan lebih sibuk mengamankan citra daripada membangun keadilan

maka yang tersisa hanyalah syariah sebagai slogan, bukan sebagai ruh.


Pertanyaan yang Seharusnya Diajukan Manajemen

Daripada sibuk memperingatkan karyawan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk diajukan:

  • Apakah kami menyediakan ruang aman untuk bicara jujur?

  • Apakah setiap kritik selalu dibalas dengan evaluasi, bukan emosi?

  • Apakah struktur kami mendorong dialog, atau hanya kepatuhan?

  • Apakah kami ingin lembaga yang terlihat rapi, atau lembaga yang benar-benar sehat?

Karyawan yang berani bicara sesungguhnya adalah aset.
Yang berbahaya justru karyawan yang diam, patuh, tapi sudah tidak peduli.


Menutup Mulut Tidak Pernah Menyelesaikan Masalah

Masalah yang dibungkam tidak pernah hilang.
Ia hanya berpindah tempat: dari ruang rapat ke ruang curhat, dari internal ke eksternal, dari kecil menjadi besar.

Jika lembaga ingin benar-benar bertumbuh, terutama lembaga yang membawa misi syariah dan dakwah ekonomi, maka satu hal harus diakui dengan jujur:

Komunikasi yang sehat bukan ancaman, melainkan fondasi keberlanjutan.

Dan keberanian untuk berintrospeksi selalu lebih mulia daripada sibuk mempertahankan diri.

Ketika Lembaga Syariah Terlalu Sibuk Mengejar Dunia

Ada kegelisahan yang makin sering muncul di ruang-ruang rapat lembaga syariah hari ini.
Bukan tentang kurangnya peluang, bukan pula soal minimnya ide, tetapi tentang fokus yang perlahan bergeser.

Target tercapai atau tidak.
Surplus atau defisit.
Berapa persen pertumbuhan tahun depan.

Pertanyaan-pertanyaan itu sah. Namun ketika ia menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, kita patut berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur:
apakah lembaga syariah sedang berjalan di jalur syariah, atau sekadar membawa label syariah?


Ketika Target Dibahas, Tapi Ruh Terlupa

Di banyak forum dan rapat strategis, target usaha dibahas dengan sangat serius:
berapa persen profit harus naik tahun depan,
berapa margin harus dijaga,
berapa risiko harus ditekan.

Namun jarang sekali terdengar pertanyaan lanjutan yang sama seriusnya:

“Tahun depan, berapa persen dari pendapatan usaha yang akan kita sedekahkan?”
“Berapa orang yang telah menerima dakwah ekonomi syariah dari aktivitas kita?”
“Berapa keluarga yang berubah cara hidupnya karena kita hadir, bukan sekadar menerima bantuan?”

Ketika target profit disusun rapi, tetapi target sedekah tidak pernah ditetapkan,
ketika proyeksi usaha dibicarakan panjang lebar, tetapi proyeksi dampak tidak pernah dihitung,
maka patut kita bertanya tanpa defensif:

apakah kita sedang membangun lembaga syariah, atau lembaga bisnis dengan slogan syariah?


Islam Tidak Mengajarkan Mengejar Rezeki dengan Ketakutan

Dalam Islam, rezeki tidak dijanjikan datang karena kepanikan mengejar dunia.
Ikhtiar adalah kewajiban, kerja adalah ibadah, tetapi kelapangan rezeki tidak lahir dari kecemasan berlebihan terhadap hasil.

Allah mengajarkan jalan yang sering dilupakan:

  • sedekah,

  • taubat,

  • syukur,

  • silaturahim,

  • itqon dan kepatuhan pada syariah dalam bisnis.

Ironisnya, jalan-jalan inilah yang sering tidak dijadikan strategi utama, bahkan oleh lembaga yang membawa nama syariah.


Sedekah: Jalan Membesar yang Masih Diragukan

Logika dunia berkata:
“Kalau ingin besar, tahan dulu untuk memberi.”

Logika langit berkata sebaliknya:
“Kalau ingin dilapangkan, beranilah memberi.”

Al-Qur’an tidak pernah menjanjikan sedekah sebagai pengurang, tetapi sebagai pelipatganda.
Namun banyak lembaga masih memberi dengan rasa takut: takut berkurang, takut tidak cukup, takut target tak tercapai.

Padahal sering kali, ketakutan itulah yang menutup pintu keberkahan.


Taubat: Faktor Rezeki yang Jarang Dievaluasi

Islam mengajarkan bahwa dosa bukan hanya urusan akhirat, tetapi juga penghalang kelapangan hidup.

Al-Qur’an mengaitkan taubat dengan hujan, harta, dan keberlimpahan.
Namun hampir tak pernah ada lembaga yang berani mengevaluasi diri secara spiritual:

  • Apakah ada hak mustahik yang tertahan?

  • Apakah ada relawan yang kelelahan tanpa dihargai?

  • Apakah ada keputusan yang mengorbankan nilai demi efisiensi?

Bisa jadi persoalannya bukan pada strategi bisnis, tetapi pintu langit yang tertutup karena lalai membersihkan diri.


Syukur: Strategi Ilahiah yang Diremehkan

Allah tidak berjanji menambah nikmat karena ambisi.
Allah berjanji menambah nikmat karena syukur.

Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi keberanian mengalirkan nikmat.
Menahan kebaikan demi rasa aman semu justru sering membuat lembaga sibuk bertahan, bukan bertumbuh.


Silaturahim: Lebih dari Sekadar Jaringan

Dalam dunia modern, relasi sering dimaknai sebagai alat kepentingan.
Dalam Islam, silaturahim adalah ibadah yang memperpanjang rezeki dan umur.

Ia bukan soal mengenal yang kuat, tetapi memuliakan yang lemah,
bukan soal memperluas jaringan, tetapi tidak memutus hubungan.

Banyak krisis lembaga sejatinya bukan krisis dana, melainkan krisis empati dan hubungan.


Itqon dan Syariah: Tidak Bisa Dipisahkan

Islam mengajarkan itqon—kerja yang rapi, jujur, dan bertanggung jawab.
Namun itqon tanpa syariah hanyalah efisiensi tanpa ruh.

  • Profesional tapi menekan yang lemah → bukan syariah

  • Efisien tapi menahan hak → bukan berkah

  • Rapi tapi kehilangan empati → kehilangan amanah

Bisnis syariah bukan sekadar bebas riba, tetapi bebas dari kezaliman yang disamarkan sebagai kehati-hatian.


Syariah Bukan Label, Tapi Arah Hidup

Islam tidak menolak profit.
Namun Islam menolak profit yang tidak diarahkan.

Keberhasilan lembaga syariah tidak cukup dijawab dengan laporan keuangan, tetapi juga dengan pertanyaan yang lebih jujur:

  • Apakah usaha ini mendekatkan manusia kepada Allah?

  • Apakah transaksi ini mengubah cara pandang terhadap harta?

  • Apakah lembaga ini melahirkan muzakki baru, bukan hanya mengelola mustahik lama?

Jika belum ada keberanian menetapkan:

  • berapa nilai sedekah dari usaha ke depan, dan

  • berapa jiwa yang ingin disentuh oleh dakwah ekonomi syariah,

maka syariah berisiko berhenti sebagai narasi indah, bukan jalan hidup.

Karena sejatinya,
rezeki tidak dikejar dengan kepanikan,
tetapi datang kepada mereka yang taat, memberi, bersih, dan percaya pada janji Allah.

Dan di situlah, syariah kembali menemukan jiwanya.

Aceh Terdampak Banjir Parah, Kebaikan Anda datang untuk Nyalakan Harapan di Beberapa Titik

Laporan Penyaluran Bantuan Bencana di Aceh Tamiang dan Pidie Jaya


Ketika Aceh Tidak Hanya Satu Titik Bencana

Bencana banjir bandang yang melanda Aceh tidak berhenti di satu desa atau satu kecamatan. Dampaknya menyebar ke berbagai wilayah dengan kondisi geografis, tingkat kerusakan, dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Atas dasar kondisi tersebut, penyaluran donasi dilakukan secara bertahap dan multi-lokasi, menyesuaikan kebutuhan lapangan, tingkat keterisolasian wilayah, serta risiko lanjutan pascabencana. Amanah donatur kami upayakan untuk menjangkau sebanyak mungkin warga terdampak, termasuk di wilayah yang sulit diakses dan luput dari sorotan.


Aceh Tamiang: Wilayah dengan Dampak Berat dan Akses Terbatas

Di Kabupaten Aceh Tamiang, banjir bandang menghantam sejumlah desa di Kecamatan Sekerak. Curah hujan tinggi di wilayah hulu menyebabkan luapan sungai dan aliran air bercampur lumpur menghantam permukiman warga, merusak rumah, fasilitas umum, serta memutus akses antarwilayah.

Penyaluran bantuan difokuskan pada wilayah dengan kerusakan berat, keterbatasan akses, dan kebutuhan dasar yang mendesak, antara lain Suka Makmur, Lubuk Sidup, dan Balingkarang.


Suka Makmur, Kecamatan Sekerak

Respon Darurat dan Perlindungan Warga

Desa Suka Makmur terdampak banjir bandang dengan kerusakan permukiman dan keterbatasan logistik. Pascabanjir, warga tidak hanya menghadapi kehilangan tempat tinggal, tetapi juga ancaman risiko kesehatan, terutama meningkatnya populasi nyamuk yang berpotensi memicu penyakit baru di tengah kondisi lingkungan yang sulit.

Sebagai bagian dari respon darurat, bantuan yang disalurkan difokuskan pada perlindungan warga dan kebutuhan dasar, meliputi:

  • Kelambu, sebagai upaya pencegahan penyakit pascabencana

  • Tenda, untuk mendukung hunian sementara

  • Lampu darurat, di tengah keterbatasan penerangan

  • Sarung, mukena (rukuh), dan sajadah, untuk mendukung kebutuhan ibadah warga di pengungsian

Penyaluran dilakukan sebagai bagian dari penanganan awal, seiring proses assessment dan pendataan lanjutan yang terus berjalan.


Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak

Pemulihan Awal di Wilayah Terdampak Berat

Lubuk Sidup merupakan salah satu wilayah dengan dampak paling berat akibat banjir bandang. Sekitar ±700 jiwa atau ±150 KK terdampak langsung. Banyak rumah hancur dan rusak berat, serta 1 unit masjid terdampak lumpur setinggi hampir 1 meter.

Penyaluran bantuan dilakukan sekitar 21 hari pascabencana, saat kondisi wilayah masih gelap, hujan masih turun, dan listrik belum pulih. Sebagian bantuan bahkan disalurkan pada malam hari sekitar pukul 23.00, di tengah suasana yang mencekam karena kampung berada tepat di pinggir Sungai Alur Simpang.

Bantuan yang disalurkan di Lubuk Sidup meliputi:

  • terpal

  • alas tidur

  • genset beserta BBM

  • sembako (beras, minyak goreng, sarden)

  • tandon air dan pipa instalasi

  • jajanan/snack

  • lampu LED dan peralatan kelistrikan

Selain distribusi logistik, relawan juga melakukan aksi langsung berupa:

  • menyalakan genset, lampu, dan aliran listrik

  • pembersihan lumpur tebal di dalam masjid bersama relawan lain

Aksi ini membantu menghidupkan kembali masjid sebagai pusat ibadah dan titik kumpul warga.


Balingkarang, Kecamatan Sekerak

Menjangkau Pengungsian di Wilayah Terisolasi

Penyaluran bantuan juga menjangkau Desa Balingkarang, wilayah yang sangat terisolasi. Seluruh rumah warga dilaporkan rusak akibat banjir bandang, dengan ±120 KK terdampak. Satu unit masjid masih bertahan, sementara gedung SD difungsikan sebagai lokasi pengungsian utama.

Untuk mencapai lokasi, tim dan relawan harus:

  • menyeberangi sungai menggunakan perahu selama ±20–40 menit

  • dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor menuju titik pengungsian

Bantuan yang disalurkan di Balingkarang meliputi:

  • beras

  • kelambu

  • lampu

  • lampu tenaga surya

  • obat-obatan

  • jajanan/snack

Bantuan ini membantu memenuhi kebutuhan dasar warga pengungsi di wilayah yang sangat sulit dijangkau.


Pidie Jaya

Menjangkau Warga di Beberapa Titik Terdampak

Selain Aceh Tamiang, penyaluran donasi juga menjangkau Kabupaten Pidie Jaya. Bantuan disalurkan di tiga titik berbeda melalui relawan lapangan.

Total dana yang disalurkan untuk wilayah Pidie Jaya sebesar Rp4.000.000, yang dimanfaatkan untuk penyediaan paket kebutuhan dasar dengan estimasi nilai sekitar Rp250.000 per paket, berisi:

  • beras

  • minyak goreng

  • air minum

Melalui skema ini, bantuan menjangkau sekitar 20 penerima manfaat, membantu warga memenuhi kebutuhan harian di masa darurat dan pemulihan awal.


Alhamdulillah

Dari amanah kebaikan para donatur:

  • warga terlindungi dari risiko kesehatan pascabencana

  • pengungsi memiliki hunian sementara dan penerangan

  • fasilitas ibadah kembali difungsikan

  • wilayah terisolasi tetap mendapatkan bantuan

  • keluarga terdampak memiliki ruang untuk bertahan dan bangkit

Kebaikan ini hadir di banyak titik, dengan banyak cerita, dan banyak harapan.


Aceh mengajarkan bahwa bencana tidak pernah sederhana.
Ia hadir di banyak tempat, dengan kebutuhan yang berbeda-beda.

Terima kasih telah mempercayakan kebaikan Anda.
Bersama, kita hadir bukan hanya di satu titik,
tetapi di sebanyak mungkin tempat yang membutuhkan.

Dari Donasi Anda, Cahaya Kembali Menyala di Aceh Tamiang

Laporan Penyaluran Bantuan Banjir Bandang
Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, 17 -12 – 2025

Latar Belakang Bencana

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir tahun 2025 memberikan dampak yang sangat luas, salah satunya di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak. Curah hujan tinggi di wilayah hulu menyebabkan luapan sungai dan aliran air bercampur lumpur menghantam permukiman warga yang berada di bantaran Sungai Alur Simpang.

Arus deras datang secara tiba-tiba, merusak rumah-rumah warga, menghanyutkan perabotan, serta meninggalkan endapan lumpur yang sangat tebal. Infrastruktur dasar terganggu, termasuk akses jalan dan jaringan listrik, membuat warga berada dalam kondisi darurat berkepanjangan.


Kondisi Warga Pascabencana

Saat tim dan relawan memasuki Lubuk Sidup, sekitar 21 hari setelah banjir bandang besar terjadi, kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan.

  • Hujan masih turun

  • Kampung masih gelap dan belum dialiri listrik

  • Akses dan aktivitas warga sangat terbatas, terutama pada malam hari

  • Lingkungan permukiman masih dipenuhi lumpur dan puing

Sebagian warga bertahan di sekitar masjid, sementara lainnya mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi demi menghindari potensi luapan banjir susulan. Masjid yang menjadi pusat aktivitas warga terdampak parah, dengan lumpur setebal hampir 1 meter menutupi lantai dan ruang utama, sehingga tidak dapat digunakan.

Di Lubuk Sidup, sekitar ±700 jiwa atau ±150 kepala keluarga (KK) terdampak langsung. Banyak rumah hancur dan rusak berat, tidak lagi layak ditempati.


Mengapa Lubuk Sidup Menjadi Titik Penyaluran Bantuan

Meski telah berlalu hampir tiga pekan sejak bencana besar, kondisi Lubuk Sidup menunjukkan bahwa fase pemulihan belum benar-benar dimulai. Ketiadaan listrik, keterbatasan air bersih, serta rusaknya fasilitas umum membuat warga masih bertahan dalam kondisi darurat.

Atas dasar besarnya dampak, keterisolasian wilayah, dan kebutuhan dasar warga yang belum terpenuhi, Lubuk Sidup dipilih sebagai salah satu titik prioritas penyaluran bantuan.


Sebagai amanah dari para donatur, LAZ MKU menyalurkan bantuan kemanusiaan yang difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan penerangan, air bersih, dan dukungan kehidupan warga pascabencana.

Jenis Bantuan yang Disalurkan

Bantuan yang disalurkan meliputi:

  1. Terpal – untuk peneduh dan kebutuhan darurat

  2. Alas tidur – membantu warga beristirahat lebih layak

  3. Genset beserta BBM – untuk menghidupkan kembali listrik

  4. Sembako, terdiri dari:

    • Beras

    • Minyak goreng

    • Sarden

  5. Tandon air beserta pipa instalasi – mendukung ketersediaan air bersih

  6. Jajanan/snack/makanan ringan – khususnya untuk anak-anak dan warga di masa darurat

  7. Lampu LED dan peralatan kelistrikan – sebagai sumber penerangan di titik-titik vital

Bantuan disalurkan melalui koordinasi dengan relawan dan tokoh setempat agar tepat sasaran dan benar-benar menjangkau warga terdampak.


Aksi Relawan di Lapangan

Selain penyaluran logistik, relawan juga melakukan aksi langsung di lapangan sebagai bagian dari pemulihan awal:

  1. Menyalakan genset dan menghidupkan listrik serta lampu
    Setelah berminggu-minggu berada dalam kegelapan, area sekitar masjid kembali terang

  2. Pembersihan lumpur tebal di dalam masjid
    Lumpur setinggi hampir 1 meter dibersihkan secara gotong royong bersama relawan lain dan warga, agar masjid kembali berfungsi sebagai:

    • Tempat ibadah

    • Titik kumpul warga

    • Pusat aktivitas kemanusiaan


Penyaluran Bantuan di Tengah Malam

Sebagian bantuan disalurkan pada malam hari, sekitar pukul 23.00, di tengah kondisi hujan yang masih turun dan keterbatasan penerangan. Kampung yang berada persis di pinggir Sungai Alur Simpang masih diselimuti suasana mencekam.

Dokumentasi penyaluran pada malam hari mungkin tidak menampilkan pencahayaan yang sempurna, namun ia merekam satu hal yang sangat nyata:
kehadiran bantuan di saat warga paling membutuhkan, bahkan ketika kondisi tidak ideal.


Dampak Kebaikan Donatur

Dari amanah kebaikan para donatur:

  • Warga kembali memiliki penerangan di tengah gelap pascabencana

  • Masjid kembali dapat digunakan sebagai pusat ibadah dan kebersamaan

  • Kebutuhan pangan dan air bersih mulai terpenuhi

  • Beban hidup warga di masa darurat berkurang

  • Warga memiliki ruang untuk bertahan dan menata ulang kehidupan

Bantuan ini mungkin belum memulihkan segalanya, tetapi menjadi titik awal bangkitnya harapan di Lubuk Sidup.


Kebutuhan Lanjutan

Hingga laporan ini disusun, Lubuk Sidup masih membutuhkan dukungan berkelanjutan, khususnya untuk:

  • pemulihan hunian warga

  • pemenuhan air bersih jangka menengah

  • perbaikan fasilitas umum

  • pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi warga

Masa pemulihan masih panjang, dan dukungan donatur tetap menjadi kekuatan utama.


Lubuk Sidup mengajarkan bahwa bencana tidak berhenti ketika air surut. Bahkan setelah berminggu-minggu, warga masih hidup dalam keterbatasan.

Terima kasih telah menghadirkan cahaya di tempat yang lama gelap.
Terima kasih telah membersamai warga, bahkan ketika bencana tidak lagi viral.

Dari donasi Anda, Lubuk Sidup kembali menyala.

Ketika Donasi Anda Datang, Harapan Warga Palembayan Sumatera Barat Kembali

Laporan Respon Banjir & Longsor

Palembayan, Kabupaten Agam – Sumatera Barat

“Ketika Kamera Pergi, Warga Masih Bertahan”


Ketika Palembayan Tak Lagi Jadi Berita

Hujan sudah reda.
Kamera media telah berpindah.
Linimasa tak lagi ramai membicarakan Palembayan.

Namun di balik sunyinya pemberitaan, warga Palembayan masih berjibaku dengan dampak bencana yang belum selesai.

Banjir dan longsor yang melanda Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada akhir November 2025, bukan hanya merobohkan rumah dan jembatan, tetapi juga memutus akses hidup ribuan warga — air bersih, listrik, pangan, dan rasa aman.

Inilah laporan kami, agar Palembayan tidak benar-benar dilupakan.


Gambaran Umum Bencana

Bencana banjir dan longsor melanda wilayah Palembayan dan sekitarnya, termasuk Jorong Sebarang Aia dan Nagari Koto Alam, dengan dampak yang sangat luas:

  • ± 1.100 warga terdampak

  • Rumah warga rusak dan rata dengan tanah

  • Jalan utama tertutup lumpur dan material longsor

  • Beberapa jembatan putus, menyisakan jembatan darurat

  • Listrik padam di banyak titik, alhamdulilah kini sudah teratasi

  • Sistem air bersih (PAMSIMAS) rusak total

  • Sejumlah wilayah sempat terisolasi, hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki dan memanggul logistik

Perjalanan dari posko menuju lokasi terdampak membutuhkan waktu 5–6 jam, melalui medan rawan longsor susulan.


Kondisi Lapangan: Bertahan dengan Apa yang Ada

Di Jorong Sebarang Aia, warga bertahan dengan kondisi yang sangat terbatas:

  • Air bersih menjadi barang langka

  • Aktivitas ibadah dan sosial terhenti karena listrik padam

  • Logistik harus dibawa manual melewati jembatan darurat

  • Dapur umum menjadi satu-satunya penopang kebutuhan makan harian

Bagi warga, bencana ini bukan sekadar peristiwa, tetapi awal dari masa sulit yang panjang.


Aksi Kemanusiaan di Tengah Keterbatasan

Di tengah kondisi tersebut, tim relawan dan mitra kemanusiaan melakukan respon darurat dan pemulihan awal, di antaranya:

🔹 Distribusi Logistik & Dapur Umum

  • Penyaluran sembako dan sayur-mayur

  • Penguatan dapur umum untuk warga terdampak

🔹 Pemulihan Akses Dasar

  • Pengiriman genset dan pompa air

  • Listrik di mushola kembali menyala

  • Mushola kembali berfungsi sebagai:

    • pusat ibadah

    • titik kumpul warga

    • pos kegiatan kemanusiaan

🔹 Layanan Kesehatan

  • Pemeriksaan kesehatan gratis

  • Penanganan keluhan kesehatan warga pascabencana

Aksi-aksi ini belum menghapus penderitaan, tetapi setidaknya mengembalikan harapan bahwa mereka tidak sendirian.


Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski bantuan awal telah tersalurkan, tantangan Palembayan belum berakhir:

  • ❗ Akses logistik masih sulit dan rawan

  • ❗ Air bersih belum pulih

  • ❗ Bendungan irigasi rusak, sawah terancam gagal panen

  • ❗ Pemulihan ekonomi warga belum dimulai

Inilah fase yang sering luput dari perhatian:
fase pemulihan, saat bencana sudah tidak viral, tetapi kebutuhan justru semakin nyata.


Mengapa Dukungan Masih Sangat Dibutuhkan?

Karena bencana tidak selesai saat air surut.
Karena luka tidak sembuh hanya dengan satu kali bantuan.
Karena Palembayan masih butuh waktu, tenaga, dan kebersamaan.

Ke depan, kebutuhan mendesak masih meliputi:

  • Penguatan dapur umum

  • Distribusi air bersih berkelanjutan

  • Pemulihan sarana ibadah dan fasilitas warga

  • Dukungan logistik lanjutan

  • Pendampingan warga menuju fase recovery

Semua ini tidak bisa berjalan tanpa dukungan para donatur dan masyarakat luas.


Agar Palembayan Tidak Sendiri

Laporan ini kami sampaikan bukan sekadar sebagai pertanggungjawaban,
tetapi sebagai pengingat:

Bahwa di Palembayan, Agam, ada warga yang masih menunggu pulih.
Bahwa kepedulian tidak harus viral untuk tetap bermakna.

Selama masa pemulihan masih panjang,
kami berkomitmen untuk terus hadir —
dan berharap Anda tetap membersamai.

Karena ketika perhatian berkurang,
kepedulian justru diuji.

Saat Bencana Terjadi, Donasi Terbaik Bukan Selalu Pakaian—Dan Mengapa Donasi Uang Sering Lebih Tepat

Setiap kali bencana datang, ada sesuatu yang selalu membuat kita bangga sebagai bangsa: kita cepat peduli. Kita tidak menunggu lama untuk membantu. Ada yang membuka galang dana kecil-kecilan di grup WhatsApp, ada yang mengantar logistik dengan mobil pribadi, ada pula yang membereskan lemari untuk mencari pakaian layak pakai.

Semua itu dilakukan dengan niat tulus.
Semua itu merupakan bukti bahwa kebaikan masih hidup di tengah kita.

Namun, di balik semangat itu, ada beberapa hal penting yang sering luput dipikirkan. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi agar kebaikan yang kita niatkan benar-benar sampai sebagai manfaat yang terbaik bagi penyintas.

Mari kita bahas pelan-pelan—tanpa menghakimi, tanpa memojokkan.


1. Mengapa Pakaian Bukan Prioritas Utama Saat Bencana?

Banyak orang menyumbangkan pakaian ketika bencana, dan itu bukan hal buruk. Tetapi sering kali, pakaian yang disumbangkan adalah:

  • pakaian yang menumpuk lama di gudang,

  • baju bekas seragam kantor,

  • pakaian yang tidak ingin dipakai lagi,

meskipun masih “layak”.

Inilah fakta lapangan yang perlu kita pahami bersama:

Pakaian bukan kebutuhan darurat.

Saat bencana baru saja terjadi, penyintas lebih membutuhkan:

  • air bersih,

  • makanan siap saji,

  • selimut,

  • alas tidur,

  • obat-obatan,

  • layanan kesehatan,

  • tempat tinggal sementara.

Pakaian memang dibutuhkan…
tapi tidak di jam-jam pertama, atau bahkan hari-hari pertama.


2. Donasi Pakaian Membutuhkan Logistik yang Besar

Jarang kita sadari bahwa satu kardus pakaian bekas membutuhkan:

  • tenaga relawan untuk mengangkat,

  • ruang kendaraan yang besar,

  • biaya BBM tambahan,

  • waktu sortir di lokasi bencana,

  • ruang penyimpanan sementara,

  • tambahan relawan untuk memilah ukuran dan kondisi,

Padahal ruang di armada terbatas.
Tenaga relawan terbatas.
Sementara kebutuhan lain jauh lebih mendesak.

Itulah sebabnya, di banyak bencana besar, tumpukan pakaian justru menjadi masalah baru, bukan bantuan.


3. “Kalau tidak punya uang, donasi pakaian boleh dong?”

Tentu saja boleh.
Sedekah apa pun bernilai di sisi Allah.

Namun ada satu prinsip indah dalam Al-Qur’an:

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai…”
(Ali Imran: 92)

Jika pakaian yang disedekahkan adalah pakaian terbaik, pakaian yang masih kita cintai, insyaAllah itu jauh lebih bernilai.

Yang ingin kita hindari adalah menjadikan bencana sebagai “momen buang barang.”


4. Lalu, Mengapa Donasi Uang Lebih Tepat Saat Bencana?

Banyak orang ragu berdonasi uang.
Takut tidak sampai.
Takut dipakai operasional.
Takut lembaga mengambil keuntungan.

Semua kekhawatiran itu wajar.
Dan perlu dijawab secara jujur dan menenangkan.

Mari kita lihat realitanya.


4.1. Donasi uang membuat bantuan lebih cepat dan tepat sasaran

Setiap bencana memiliki kebutuhan yang berubah-ubah.

Pagi butuh makanan.
Siang butuh air bersih.
Petang butuh selimut.
Besoknya butuh BBM untuk evakuasi.

Dengan uang, relawan dapat langsung membeli apa yang saat itu paling dibutuhkan.

Bantuan menjadi:

  • lebih cepat,

  • lebih tepat,

  • lebih fleksibel.


4.2. Donasi uang memang dipakai untuk operasional—butir ini sering disalahpahami

Relawan bukan malaikat yang turun dari langit.

Untuk bekerja, relawan butuh:

  • makan,

  • BBM,

  • sewa armada,

  • perlengkapan medis,

  • alat evakuasi,

  • peralatan keselamatan,

Apakah ini berarti “uangnya tidak sampai ke penyintas”?
Tidak. Justru operasional itulah yang membuat bantuan bisa sampai ke penyintas.

Jika tidak ada kendaraan,
tidak ada BBM,
tidak ada relawan,

maka bantuan apa pun, termasuk donasi pakaian, tidak akan bergerak.


4.3. LAZ tidak mengambil “keuntungan”—LAZ hanya mengambil hak amil sesuai syariat

Lembaga Amil Zakat tunduk pada:

  • UU Pengelolaan Zakat,

  • peraturan Kemenag,

  • PSAK 109,

  • batas syariah hak amil (maks 12.5%).

Hak amil bukan “keuntungan”, tetapi:

  • gaji amil,

  • biaya operasional,

  • transport,

  • laporan,

  • administrasi amanah,

Tanpa ini, kebaikan tidak akan bisa berjalan.


4.4. Donasi uang lebih mudah diaudit dan dilaporkan

  • ada bukti transfer,

  • ada laporan keuangan,

  • ada data penyaluran,

  • ada dokumentasi,

  • ada pengawasan internal dan eksternal,

Donasi uang justru lebih terjaga dibanding barang yang rawan rusak, hilang, atau tidak sesuai kebutuhan.


5. Jadi, Apa Cara Terbaik Berdonasi Saat Bencana?

Sangat sederhana:

💛 Donasi uang di fase darurat

Untuk kebutuhan cepat & tepat.

💛 Donasi barang berdasarkan daftar kebutuhan resmi

Agar benar-benar terpakai.

💛 Donasi pakaian setelah masa pemulihan

Biasanya 1–4 minggu setelah bencana.

💛 Sedekahkan yang terbaik, bukan yang ingin dibuang

Itulah makna sedekah yang berkualitas.


Kebaikan Tak Diukur Dari Bentuknya, Tapi Dari Manfaatnya

Tidak masalah jika dulu kita sering kirim pakaian saat bencana.
Tidak masalah jika kita dulu belum paham tentang logistik bencana.
Kebaikan selalu berproses—termasuk cara kita menolong.

Yang paling penting adalah:
niat kita tetap tulus, dan kita terus belajar agar kebaikan kita tepat manfaat.

Untuk Anda yang ingin memastikan:

  • amanah tersampaikan,

  • relawan bisa bergerak cepat,

  • penyintas menerima bantuan yang benar-benar dibutuhkan,

donasi uang adalah pilihan yang paling efektif.

Dan kami siap menjadi perpanjangan tangan kebaikan Anda—mengantarkan setiap rupiah menjadi manfaat yang nyata di saat paling dibutuhkan.

Semoga setiap sedekah menjadi cahaya yang tidak pernah padam, bahkan setelah bencana berlalu.

Ketika Semua Orang Bisa Mengantar Bantuan Sendiri, Masih Perlukah Ada Lembaga Amil Zakat?

Setiap kali bencana terjadi, kita melihat sesuatu yang selalu membuat hati hangat: begitu banyak orang ingin membantu. Ada yang spontan membuat donasi di grup WhatsApp, ada yang berangkat langsung ke lokasi dengan komunitasnya, ada yang menyalurkan sendiri lewat yayasan kecil yang mereka percaya.

Fenomena ini indah.
Ini tanda bahwa kebaikan masih hidup di tengah kita.

Di era media sosial, ketika informasi bencana menyebar begitu cepat, wajar bila banyak orang merasa, “Aku bisa bantu sendiri kok, tak perlu lewat lembaga.”

Lalu muncul pertanyaan pelan-pelan:

Kalau begitu, sebenarnya apa gunanya LAZ?

Pertanyaan ini bukan untuk melemahkan kepedulian siapa pun. Justru pertanyaan seperti inilah yang membantu kita bersama semakin bijaksana dalam menolong.

Mari kita lihat dari sudut pandang yang lebih lembut.


1. Turun langsung itu mulia, tapi tidak semua orang bisa melakukannya

Banyak donatur punya hati seluas langit, tapi tidak punya kesempatan untuk:

  • cuti kerja,

  • menyetir berjam-jam,

  • membawa logistik berat,

  • atau menghadapi situasi rawan di lokasi bencana.

Di sinilah LAZ menjadi perpanjangan tangan—kita tetap ikut berbuat baik, meski raga tidak bisa hadir.


2. Viral cepat mereda, tapi kebutuhan penyintas masih panjang

Biasanya saat bencana masih viral:

  • bantuan berdatangan,

  • relawan penuh semangat,

  • komunitas ramai turun.

Namun setelah satu atau dua minggu,

  • dapur umum mulai tutup,

  • air bersih mulai menipis,

  • anak-anak mulai butuh sekolah darurat,

  • keluarga kehilangan pekerjaan.

Di fase panjang inilah LAZ bekerja senyap, mengawal keluarga terdampak hingga mereka benar-benar kembali bangkit.


3. LAZ membantu memastikan bantuan tiba di tempat yang belum tersentuh

Saat orang banyak pergi ke titik yang sama, sering terjadi:

  • beberapa lokasi kebanjiran bantuan,

  • lokasi lain justru kosong sama sekali.

LAZ biasanya bekerja dengan data:

  • laporan lapangan,

  • relawan lokal,

  • koordinasi desa,

  • dan pembagian per zona.

Hasilnya, bantuan tidak hanya “datang”, tetapi tepat sampai ke mereka yang paling membutuhkan.


4. Donasi kecil pun bisa punya dampak besar ketika dikumpulkan bersama

Kadang kita merasa malu:

“Aku cuma bisa sedekah 20 ribu…”

Namun ketika dana kecil itu bergabung dengan ratusan orang lain,
ia bisa berubah menjadi:

  • sumur air bersih,

  • hunian sementara,

  • perbaikan masjid,

  • modal pemulihan ekonomi keluarga.

Kebaikan kecil yang dikumpulkan dengan rapi akan menjadi kekuatan besar.


5. LAZ memastikan amanah tersampaikan dengan catatan yang jelas

Tidak semua donatur sempat:

  • mencatat pengeluaran,

  • membuat laporan,

  • mendokumentasikan penyaluran,

  • atau memastikan semuanya sesuai syariah.

Melalui LAZ,
setiap rupiah diuji, dicatat, dan dipertanggungjawabkan.

Bukan sekadar bantuan sampai, tapi amanah tersampaikan secara aman dan bersih.


Pada akhirnya… Kita semua hanya ingin memastikan bantuan kita benar-benar bermanfaat

Menyalurkan sendiri itu mulia.
Menyalurkan melalui LAZ juga mulia.

Keduanya bukan lawan, tetapi dua jalan kebaikan yang bisa saling melengkapi.

Ada masa ketika donatur ingin turun langsung—itu luar biasa.
Ada masa ketika donatur ingin menitipkan pada lembaga—itu pun sama berharganya.

Yang paling penting bukan “lewat siapa”,
tetapi siapa yang menerima manfaat, dan seberapa besar dampaknya.


Jika Anda ingin menitipkan kebaikan yang terukur, aman, dan berkelanjutan…

…LAZ siap menjadi perpanjangan tangan Anda.

Anda tetap menjadi sumber kebaikan itu—
kami hanya membantu menyampaikannya dengan cara terbaik yang bisa kami lakukan.

Semoga setiap sedekah menjadi penolong pada hari ketika tidak ada lagi yang menolong.

Kebaikan Anda yang Menghidupkan Usaha Kecil Bu Triani

Di sebuah rumah sederhana di Jl. Kaliwiru, Semarang, tinggal seorang ibu bernama Bu Triani Hadi Kartika Sari (41 tahun). Hidupnya tidak pernah mudah. Dengan kondisi low vision, penglihatannya buram dan sering membuat aktivitas harian terasa berat. Namun semangatnya justru terang—terutama untuk membantu perekonomian keluarga.

Suaminya adalah guru honorer tunanetra di SLB Semarang, dengan penghasilan sekitar Rp600.000 per bulan. Meski serba kekurangan, keduanya tetap ingin mandiri dan tidak ingin menjadi beban.


Usaha Minuman Kecil yang Menjadi Harapan

Mengandalkan sedikit kemampuan penglihatannya, Bu Triani merintis usaha minuman kemasan rumahan. Ia membuat jus, dan minuman segar lainnya. Setiap gelas ia siapkan perlahan, berhati-hati agar tak tumpah—karena ia tidak bisa melihat jelas garis isian pada gelas.

Usaha itu memberikan keuntungan sekitar Rp300.000 per bulan, cukup membantu tapi belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

Kesulitannya bukan hanya karena low vision, tetapi juga karena peralatan usahanya sangat terbatas. Ia tidak punya mesin es, tidak punya box penyimpanan dingin, dan tidak punya tempat display minuman yang layak.

Namun ia tetap berusaha.


Zakat Maal yang Menguatkan Langkah Bu Triani

Melihat perjuangan Bu Triani, ULAZ MKU ANDA menyalurkan bantuan zakat maal pemberdayaan berupa:

✅ Box Cooler

Agar minuman tetap dingin, higienis, dan bisa dipasarkan dalam jumlah lebih banyak.

✅ Mesin Pembuat Es Portable

Dulu Bu Triani harus membeli es batu setiap hari. Sekarang ia bisa memproduksi es sendiri lebih hemat dan lebih cepat.

✅ Drink Jar

Sebagai wadah display minuman, membuat tampilannya lebih profesional dan menarik pembeli.

Bantuan ini bukan sekadar barang, tetapi modal kepercayaan dan dorongan agar beliau bisa bangkit lebih kuat.


Dampak Bantuan bagi Bu Triani dan Keluarganya

1. Produksi Minuman Lebih Cepat & Efisien

Dengan mesin es, Bu Triani tidak lagi menunggu atau membeli es di luar.
Dengan drink jar, ia tidak perlu menakar satu-satu dari wadah seadanya.
Dengan box cooler, ia bisa menyimpan sekaligus menjual dalam kondisi lebih segar.

Waktunya lebih hemat, tenaganya lebih ringan, dan proses produksi jauh lebih rapi.

2. Keuntungan Bulanan Meningkat

Karena bisa memproduksi lebih banyak dan tampil lebih menarik, pesanan mulai bertambah.
Tetangga dan warga sekitar lebih tertarik membeli minuman yang tampilannya rapi dan higienis.

Keuntungan usahanya mulai naik dari yang sebelumnya ± Rp300.000 per bulan, menjadi lebih stabil dan bertahap meningkat seiring kapasitas produksi yang kini memadai.

3. Kemandirian Ekonomi Keluarga Kian Kuat

Tambahan penghasilan dari usaha minuman ini menjadi penopang penting bagi keluarga Bu Triani—yang sebelumnya hanya bergantung pada gaji suami yang tidak seberapa.

Bantuan ini memberikan:

  • Nafas baru bagi ekonomi keluarga

  • Rasa percaya diri bahwa mereka mampu mandiri

  • Kesempatan bagi Bu Triani untuk tetap produktif meski dengan low vision

  • Ketenangan bagi suami untuk mengajar anak berkebutuhan khusus tanpa mengkhawatirkan kebutuhan rumah tangga

Zakat maal yang disalurkan tidak hanya meringankan hidup mereka, tetapi benar-benar mengubahnya.

Setiap kebaikan yang tersampaikan kepada Bu Triani adalah bukti bahwa zakat dan donasi dari para dermawan mampu mengubah kehidupan seseorang—pelan namun pasti. Dari seorang ibu yang berjuang dengan penglihatan terbatas, kini ia bangkit lebih mandiri, kuat, dan percaya diri menjalankan usahanya.

Masih banyak Bu Triani lain di luar sana.
Masih banyak keluarga dengan keterbatasan yang sedang berusaha berdiri.
Dan setiap bantuan, sekecil apa pun, bisa menjadi titik awal perubahan besar bagi mereka.

Jika Anda tergerak untuk ikut menghadirkan perubahan, Anda dapat turut serta dalam program zakat maal dan pemberdayaan mustahik lainnya melalui ULAZ MKU ANDA.

Setiap rupiah yang Anda titipkan,
setiap doa yang Anda sertakan,
akan menjadi cahaya baru bagi keluarga-keluarga yang tengah berjuang.

Mari lanjutkan rantai kebaikan ini.
Kebaikan Anda, harapan mereka.
🌸

Klik Untuk Membantu

Kebaikan Anda Mengungatkan Saat Terjadi Banjir dan Longsor di Jawa Tengah

Respon Bencana Banjir Bandang Bumiayu & Longsor Situkung Banjarnegara
ULAZ MKU ANDA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillah, amanah donasi dari para donatur telah kami salurkan untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak banjir bandang di Bumiayu, Brebes dan longsor besar di Situkung, Banjarnegara. Musibah ini meninggalkan luka mendalam dan mengguncang kehidupan warga, namun di tengah situasi sulit tersebut, bantuan Anda menjadi penguat bagi mereka.


1. Respon Bencana Banjir Bandang – Bumiayu, Brebes

📍 Kondisi Lokasi

Banjir bandang yang terjadi di Bumiayu tidak hanya menggenangi rumah warga, tetapi juga memutus akses air bersih. Selama lebih dari dua minggu, warga kesulitan mendapatkan air karena jaringan PDAM rusak—padahal wilayah ini sangat bergantung pada aliran dari Gunung Slamet.

Banjir ini bukan kejadian tunggal. Potensi banjir susulan masih besar karena alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian di lereng Gunung Slamet. Warga hidup dalam kecemasan jika hujan deras kembali datang.

📦 Penyaluran Bantuan

Pada tahap pertama respon bencana, ULAZ MKU ANDA menyalurkan:

  • 40 paket Hygiene Kit
    untuk 40 penerima manfaat

Arah Program Selanjutnya: Wakaf Sumur Bor

Melihat parahnya kondisi air bersih, kami menetapkan program lanjutan berupa:

Pembangunan Wakaf Sumur Bor

Lokasi: Pondok As Shaff

Lokasi ini dipilih karena:

  • Warga sudah terbiasa mengambil air dari pondok ini saat kekurangan air

  • Ketika banjir, pondok menjadi salah satu titik penyelamat warga

  • Memperbesar manfaat pondok sebagai pusat dakwah dan layanan sosial

  • Sumur bor akan menjadi solusi jangka panjang menghadapi potensi banjir susulan

Dengan sumur bor, masyarakat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada PDAM yang rawan rusak saat bencana.


2. Respon Bencana Longsor – Situkung, Banjarnegara

Kondisi Lokasi

Longsor besar memaksa 1.019 jiwa mengungsi ke 75 titik pengungsian.
Titik terbesar berada di:

  • GOR

  • Gedung Haji

  • SD setempat

  • Rumah-rumah warga yang menampung pengungsi

Situasi di tempat pengungsian penuh keterbatasan: padat, minim fasilitas, dan kebutuhan dasar sangat mendesak.

📦 Penyaluran Bantuan

ULAZ MKU ANDA menyalurkan:

  • 50 paket Hygiene Kit
    untuk 50 penerima manfaat

  • 8 kardus pakaian layak pakai
    hasil sortir dari lebih dari 15–16 kardus donasi pakaian
    (hanya dipilih yang benar-benar layak & pantas diberikan kepada pengungsi)

Program Masih Berlanjut

Saat laporan ini ditulis, bantuan masih terus berjalan, meliputi:

  • Trauma healing untuk anak-anak

  • Support logistik dapur umum

  • Pembagian pakaian dalam baru

  • Pendampingan untuk titik-titik pengungsian prioritas


Terima Kasih, Para Donatur

Setiap hygiene kit yang Anda berikan, setiap pakaian layak pakai yang disampaikan, setiap langkah trauma healing yang terlaksana—semuanya hadir karena kepedulian Anda.

Semoga Allah membalas kebaikan Anda dengan pahala yang berlipat ganda, melapangkan rezeki Anda, dan menjadikan setiap kebaikan ini sebagai amal jariyah yang tak putus. Aamiin.


Mengapa Kita Harus Terus Siaga Bencana?

Indonesia adalah negeri yang tak pernah jauh dari risiko bencana:
banjir, longsor, angin kencang, gempa, hingga kekeringan.

Bencana tidak menunggu kita siap.
Karena itu, kita harus mempersiapkan diri sebelum bencana berikutnya datang.

Melalui Program Siaga Bencana ULAZ MKU ANDA, kami berupaya:

  • mempercepat respon darurat,

  • menyediakan logistik bencana,

  • memastikan akses air bersih,

  • membangun sumur wakaf di titik rawan,

  • mendukung dapur umum & relawan lapangan,

  • menjaga keberlangsungan hidup penyintas bencana.

Kesiapsiagaan Anda hari ini bisa menjadi pertolongan bagi seseorang di saat musibah menimpa mereka.


Mari bersama kuatkan Program Siaga Bencana

Klik Untuk Donasi Siaga Bencana

Agar ketika bencana datang lagi, kita sudah siap membantu lebih cepat.
#KebaikanYangTerusTumbuh
ULAZ MKU ANDA