Amalan Rasulullah ﷺ Ketika Melihat Mendung, Hujan, dan Petir
ArtikelHujan merupakan salah satu nikmat Allah yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup. Air hujan menyuburkan tanah, menghidupkan tanaman, dan menjadi sumber kehidupan bagi manusia serta hewan.
Namun, ketika langit mulai gelap, awan tebal berkumpul, lalu hujan turun disertai angin kencang dan petir, sebagian orang mungkin merasa khawatir.
Apa yang sebaiknya dilakukan seorang Muslim dalam keadaan seperti itu? Adakah doa dan amalan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ?
Berikut beberapa amalan yang dapat kita pelajari dari Al-Qur’an dan hadis.
1. Ketika Melihat Mendung, Ingatlah Kekuasaan Allah
Awan gelap tidak selalu menjadi pertanda bencana. Hujan merupakan bagian dari ketetapan Allah yang membawa banyak manfaat bagi kehidupan.
Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ pernah menunjukkan kekhawatiran ketika melihat awan atau angin. Dalam riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika melihat awan, tampak perubahan pada wajah beliau. Beliau khawatir jika awan tersebut membawa sesuatu yang membahayakan, sebagaimana yang pernah menimpa kaum ‘Ad.
Kisah ini diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
Dari peristiwa tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa seorang Muslim hendaknya tidak hanya memandang perubahan cuaca sebagai fenomena alam, tetapi juga mengingat kebesaran Allah, berdoa, dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan bahaya.
Bukan berarti setiap mendung adalah pertanda azab. Kita tidak boleh memastikan bahwa suatu cuaca merupakan hukuman Allah tanpa dasar yang jelas.
2. Membaca Doa Ketika Hujan Mulai Turun
Ketika hujan mulai turun, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa agar hujan yang datang membawa manfaat.
Doanya:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Latin:
Allahumma shayyiban naafi’an.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”
Doa ini diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam Sahih Bukhari no. 1032.
Doa tersebut mengajarkan bahwa kita tidak sekadar meminta hujan turun, tetapi juga memohon agar hujan memberikan kebaikan bagi kehidupan.
Sebab, hujan yang bermanfaat mengairi sawah, mengisi sumber air, menyuburkan tanaman, dan mendukung keberlangsungan hidup manusia.
3. Ketika Mendengar Petir, Bertasbihlah Mengingat Allah
Suara petir yang menggelegar terkadang membuat kita terkejut atau takut. Dalam keadaan tersebut, kita dapat mengingat kebesaran Allah melalui tasbih yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 13:
سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ
Latin:
Subhaanalladzii yusabbihur-ra‘du bihamdihii wal-malaa’ikatu min khiifatih.
Artinya:
“Mahasuci Allah, guruh bertasbih dengan memuji-Nya, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya.”
Ada riwayat dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 723 bahwa Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhuma membaca kalimat tersebut ketika mendengar suara guruh. Riwayat amalan sahabat ini dinilai sahih oleh sejumlah ulama.
Perlu diperhatikan, riwayat tersebut menceritakan amalan Abdullah bin Zubair, bukan hadis yang secara tegas menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri membaca kalimat itu setiap kali mendengar petir.
Meski demikian, membaca tasbih yang bersumber dari Al-Qur’an merupakan bentuk zikir yang baik.
4. Ketika Hujan Terlalu Deras, Mohonlah Agar Tidak Membahayakan
Hujan yang turun dengan deras dapat menimbulkan masalah apabila berlangsung lama, terutama di wilayah rawan banjir dan longsor.
Rasulullah ﷺ pernah memohon kepada Allah ketika hujan yang turun terus-menerus dikhawatirkan menimbulkan kesulitan.
Doanya:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Latin:
Allahumma hawalainaa wa laa ‘alainaa. Allahumma ‘alal-aakaami wadh-dhiraabi, wa buthuunil-awdiyati wa manaabitisy-syajar.
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan yang membahayakan kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di dataran tinggi, bukit-bukit, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”
Doa ini diriwayatkan dalam Sahih Bukhari no. 1014.
Dari sini kita belajar bahwa memohon hujan yang bermanfaat tidak berarti mengabaikan kemungkinan bahaya. Kita juga boleh memohon agar hujan tidak menimbulkan kerusakan dan kesulitan bagi manusia.
5. Ketika Hujan Disertai Angin Kencang, Mohon Perlindungan Allah
Selain hujan deras, angin kencang juga dapat menimbulkan bahaya. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa untuk memohon kebaikan angin dan berlindung dari keburukannya.
Doanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ
Latin:
Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira maa fiihaa wa khaira maa ursilat bih, wa a’udzu bika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa ursilat bih.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan tujuan angin ini diutus. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan tujuan angin ini diutus.”
Doa ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim no. 899.
Ketika hujan disertai petir dan angin kencang, kita dapat memperbanyak doa dan zikir. Pada saat yang sama, ikhtiar keselamatan tetap harus dilakukan, seperti berlindung di dalam bangunan yang kokoh dan menjauhi tempat terbuka, pohon tinggi, serta tiang yang berisiko tersambar petir.
6. Setelah Hujan Reda, Bersyukurlah kepada Allah
Ketika hujan telah reda dan memberikan manfaat, Rasulullah ﷺ mengajarkan kalimat berikut:
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
Latin:
Muthirnaa bifadhlillaahi wa rahmatih.
Artinya:
“Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”
Doa ini diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
Kalimat tersebut mengingatkan kita untuk mengakui nikmat Allah dan tidak melupakan-Nya ketika keadaan kembali baik.
Hujan yang telah reda juga dapat menjadi kesempatan untuk merenungkan betapa banyak nikmat yang sering kita rasakan tanpa disadari: air bersih, makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan keselamatan keluarga.
7. Selain Berdoa, Jangan Lupakan Ikhtiar dan Kepedulian
Berdoa merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Namun, doa tidak menggantikan ikhtiar untuk menjaga keselamatan.
Ketika hujan disertai petir atau angin kencang, kita perlu mengikuti peringatan cuaca, menghindari lokasi berbahaya, dan segera mencari tempat berlindung yang aman.
Apabila hujan menyebabkan banjir atau bencana lainnya, kepedulian kita juga diperlukan. Kita dapat membantu tetangga yang kesulitan, berbagi makanan, memberikan pakaian layak pakai, atau membantu keluarga yang terdampak sesuai kemampuan.
Sedekah dan bantuan kemanusiaan merupakan bentuk kepedulian yang baik. Namun, kita tidak sepatutnya menjanjikan bahwa sedekah pasti membuat seseorang terhindar dari bencana. Orang yang mengalami musibah tidak boleh dianggap kurang beramal atau kurang bersedekah.
Yang dapat kita lakukan adalah berdoa, berikhtiar, bersyukur atas keselamatan yang diberikan, serta membantu mereka yang membutuhkan.
Ketika melihat mendung, mendengar petir, atau menghadapi hujan deras, seorang Muslim dapat menjadikannya kesempatan untuk mengingat Allah.
Kita berdoa agar hujan membawa manfaat, bertasbih ketika mendengar guruh, memohon perlindungan ketika cuaca membahayakan, dan bersyukur setelah hujan reda.
Kita juga belajar bahwa kebaikan tidak berhenti pada doa untuk diri sendiri. Ketika ada orang lain yang mengalami kesulitan akibat hujan dan bencana, kepedulian kita dapat menjadi jalan untuk meringankan beban mereka.
Semoga Allah menjadikan hujan yang turun sebagai rahmat, melindungi kita dan keluarga dari segala bahaya, serta menggerakkan hati kita untuk senantiasa bersyukur dan menolong sesama.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


