Orang Tua Sudah Tiada. Apa Lagi yang Bisa Kita Lakukan untuk Mereka?

Suatu hari nanti, setiap anak akan berada di titik yang sama.

Ingin memeluk ayah.

Ingin mendengar suara ibu.

Ingin mengucapkan terima kasih atas semua pengorbanan mereka.

Namun waktu tidak bisa diputar kembali.

Yang tersisa hanyalah doa, kenangan, dan penyesalan karena merasa masih banyak yang belum sempat dilakukan.

Lalu muncul satu pertanyaan yang diam-diam menghantui hati banyak anak.

“Apakah setelah orang tua meninggal, saya masih bisa berbuat sesuatu untuk mereka?”

Jawabannya, ya.

Dalam Islam, pintu berbakti kepada orang tua tidak tertutup ketika mereka dimakamkan. Masih ada amalan-amalan yang dapat dilakukan seorang anak sebagai bentuk cinta dan bakti kepada kedua orang tuanya.

1. Mendoakan Orang Tua

Doa adalah hadiah yang paling sederhana, tetapi paling berharga.

Setiap selesai salat, setiap selesai membaca Al-Qur’an, atau kapan pun kita teringat kepada mereka, jangan lupa mendoakan agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka, melapangkan kuburnya, dan memasukkan mereka ke dalam surga.

Mungkin doa kita hanya membutuhkan waktu satu menit.

Tetapi bisa menjadi cahaya bagi mereka di alam kubur.


2. Memohonkan Ampunan untuk Mereka

Selain berdoa, seorang anak juga dianjurkan memperbanyak istighfar untuk kedua orang tuanya.

Kita tidak tahu dosa apa yang masih menjadi penghalang mereka.

Namun kita tahu, Allah Maha Pengampun dan Maha Mendengar doa seorang hamba.


3. Bersedekah Atas Nama Orang Tua

Inilah salah satu amalan yang secara jelas pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ.

Ketika seorang sahabat bertanya apakah ibunya yang telah meninggal akan memperoleh pahala jika ia bersedekah atas nama ibunya, Rasulullah ﷺ menjawab,

“Ya.”

Artinya, sedekah yang dilakukan anak dapat menjadi hadiah pahala bagi orang tua yang telah meninggal.


4. Melunasi Utang Orang Tua

Jika orang tua masih memiliki utang yang belum terlunasi, berusahalah untuk melunasinya apabila mampu.

Baca Juga  Tips Membuat Anggaran Bulanan Agar Gaji Tidak Numpang Lewat

Bagi sebagian orang, ini mungkin terasa berat.

Namun bagi orang tua yang telah tiada, pelunasan utang adalah bentuk bakti yang sangat berarti.


5. Menunaikan Nazar yang Belum Terlaksana

Jika semasa hidup orang tua pernah bernazar kepada Allah tetapi belum sempat menunaikannya, anak dapat membantu menyelesaikannya sesuai ketentuan syariat.


6. Menghajikan atau Mengumrahkan Orang Tua

Bagi orang tua yang memiliki kewajiban haji namun belum sempat menunaikannya karena uzur atau wafat, syariat memberikan jalan bagi anak untuk menghajikan mereka.


7. Menyambung Silaturahmi dengan Sahabat Orang Tua

Sering kali setelah orang tua meninggal, hubungan dengan sahabat-sahabat mereka ikut terputus.

Padahal menyambung silaturahmi dengan orang-orang yang dicintai ayah dan ibu termasuk bentuk bakti yang sangat dianjurkan.

Mengunjungi mereka.

Menyapa mereka.

Membantu mereka ketika membutuhkan.

Semua itu menjadi cara kita memuliakan orang tua, meski mereka telah tiada.


8. Memuliakan Kerabat Orang Tua

Paman.

Bibi.

Saudara.

Keluarga besar yang dahulu begitu dekat dengan orang tua.

Jangan sampai hubungan itu terputus hanya karena ayah atau ibu telah meninggal.

Merawat silaturahmi adalah salah satu cara menjaga warisan cinta yang mereka tinggalkan.


9. Menjadi Anak yang Saleh

Ini mungkin hadiah terbesar.

Setiap kebaikan yang terus kita lakukan menjadi bukti bahwa didikan mereka tidak sia-sia.

Ketika kita menjaga salat, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, berbakti kepada pasangan, mendidik anak-anak dengan baik, semoga semua itu menjadi sebab Allah melimpahkan pahala kepada kedua orang tua kita.


Namun Ada Satu Amal yang Tidak Berhenti Setelah Kita Pulang

Semua amalan di atas sangat mulia.

Namun sebagian besar selesai ketika kita selesai mengerjakannya.

Doa selesai ketika kita mengangkat tangan.

Baca Juga  Semangka Buah Kesukaan Rasulullah

Istighfar selesai ketika lisan berhenti berzikir.

Sedekah biasa selesai ketika harta berpindah tangan.

Lalu…

Adakah amalan yang pahalanya terus berjalan, bahkan ketika kita sedang tidur?

Ada.

Yaitu sedekah jariyah.

Amal yang manfaatnya terus dirasakan orang lain.

Selama manfaat itu masih ada, selama itu pula pahala terus mengalir dengan izin Allah.

Bayangkan jika atas nama orang tua kita dibangun sebuah sumur yang setiap hari digunakan masyarakat.

Atau Al-Qur’an wakaf yang terus dibaca.

Atau ambulans yang terus mengantarkan orang sakit dan jenazah.

Atau beasiswa yang membantu seorang anak menggapai pendidikan.

Atau masjid yang setiap hari dipenuhi orang-orang yang bersujud kepada Allah.

Mungkin kita hanya mengeluarkan harta sekali.

Tetapi pahalanya terus mengalir bertahun-tahun.

Bahkan bisa jadi, ketika kita sendiri telah meninggal dunia.

Inilah mengapa banyak ulama menyebut sedekah jariyah sebagai salah satu hadiah terbaik yang dapat dipersembahkan seorang anak kepada orang tuanya.

Bukan karena nilainya paling besar.

Tetapi karena manfaatnya terus hidup.


Jika Hari Ini Anda Merindukan Orang Tua…

Mungkin Anda tidak bisa lagi mencium tangan mereka.

Tidak bisa lagi mengantar mereka ke rumah sakit.

Tidak bisa lagi membelikan pakaian baru saat Idulfitri.

Tetapi Anda masih bisa mengirimkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Doa yang tulus.

Istighfar yang tak pernah putus.

Dan sedekah jariyah yang terus mengalirkan pahala.

Karena cinta seorang anak tidak berhenti ketika tanah menutup pusara orang tuanya.

Selama Allah masih memberi kita kesempatan beramal, masih ada cara untuk terus berkata,

“Ayah… Ibu… semoga pahala ini Allah hadiahkan untuk kalian.”