Siapa yang Sebenarnya Harus Dievaluasi?

Setiap akhir bulan, akhir triwulan, atau akhir tahun, hampir semua organisasi melakukan evaluasi.

Laporan dibuka.
Target dibandingkan dengan realisasi.
Satu per satu karyawan dipanggil.

Pertanyaannya hampir selalu sama.

“Mengapa target tidak tercapai?”

“Mengapa produktivitas menurun?”

“Mengapa program tidak berjalan?”

Semua pertanyaan itu diarahkan kepada bawahan.

Namun, ada satu pertanyaan yang sering kali tidak pernah diajukan.

“Apa yang sudah saya lakukan sebagai pemimpin agar tim saya berhasil?”

Di sinilah letak perbedaan antara seorang atasan dan seorang pemimpin.

Bawahan Memiliki Tanggung Jawab. Pemimpin Juga.

Bawahan memang bertanggung jawab melaksanakan pekerjaannya.

Tetapi seorang pemimpin bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang membuat bawahannya mampu bekerja dengan baik.

Ketika target tidak tercapai, pertanyaannya bukan hanya:

  • Apakah bawahan sudah bekerja maksimal?

Tetapi juga:

  • Apakah target yang saya tetapkan realistis?
  • Apakah saya sudah memberikan arahan yang jelas?
  • Apakah saya menyediakan sumber daya yang dibutuhkan?
  • Apakah saya melakukan coaching atau hanya menagih hasil?
  • Apakah saya menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah muncul, maka evaluasi kehilangan separuh maknanya.

Hasil Tim Adalah Cerminan Kepemimpinan

Bayangkan sebuah tim sepak bola yang terus mengalami kekalahan.

Apakah pelatih hanya akan mengatakan,

“Pemain saya jelek.”

Tentu tidak.

Pelatih yang baik juga mengevaluasi dirinya sendiri.

Apakah strategi yang dipilih tepat?
Apakah latihan yang diberikan sudah cukup?
Apakah pemain ditempatkan sesuai kemampuannya?
Apakah komunikasi berjalan dengan baik?

Karena ia memahami satu hal.

Hasil tim tidak hanya ditentukan oleh pemain, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinannya.

Evaluasi yang Sehat Selalu Dimulai dari Pemimpin

Banyak pemimpin menganggap evaluasi adalah hak untuk menilai bawahan.

Baca Juga  Kebiasaan Buruk Kelola Gaji yang Perlu dihindari

Padahal, evaluasi juga merupakan kewajiban untuk menilai diri sendiri.

Pemimpin yang baik tidak hanya bertanya,

“Mengapa tim saya gagal?”

Tetapi juga berani bertanya,

“Apakah saya sudah menjadi pemimpin yang membantu mereka berhasil?”

Pertanyaan ini memang tidak nyaman.

Namun justru dari pertanyaan inilah lahir perbaikan yang sesungguhnya.

Evaluasi Bukan Mencari Kambing Hitam

Organisasi yang sehat tidak sibuk mencari siapa yang salah.

Organisasi yang sehat mencari apa yang harus diperbaiki.

Kadang jawabannya ada pada individu.

Kadang ada pada sistem.

Kadang ada pada proses.

Dan tidak jarang, jawabannya ada pada cara seorang pemimpin memimpin.

Karena itu, sebelum mengevaluasi bawahan, evaluasilah diri sendiri terlebih dahulu.

Bukan karena pemimpin selalu salah.

Tetapi karena pemimpin selalu memiliki pengaruh paling besar terhadap berhasil atau tidaknya sebuah tim.


“Bawahan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Pemimpin bertanggung jawab atas keberhasilan timnya. Karena itu, sebelum bertanya ‘Mengapa mereka gagal?’, seorang pemimpin seharusnya lebih dahulu bertanya, ‘Apa yang belum saya lakukan agar mereka berhasil?'”