Yang Harus Diukur Bukan Gaji, Tetapi Value

Setiap perusahaan pasti mengeluarkan biaya.

Salah satunya adalah biaya gaji.

Ada yang menerima gaji Rp5 juta.

Ada yang Rp10 juta.

Ada pula yang puluhan juta rupiah setiap bulan.

Pertanyaannya…

Apa yang sebenarnya sedang dibayar oleh perusahaan?

Apakah perusahaan membayar waktu?

Ataukah perusahaan sedang membeli hasil kerja?

Atau… sebenarnya perusahaan sedang membeli sesuatu yang lebih besar?

Yaitu value.


Kesalahan yang Sering Terjadi

Dalam banyak organisasi, penilaian kinerja sering dimulai dari pertanyaan seperti ini.

“Gajimu berapa?”

Lalu disusul dengan pertanyaan.

“Kalau gajimu Rp10 juta, berapa uang yang sudah kamu hasilkan untuk perusahaan?”

Sekilas pertanyaan ini terdengar masuk akal.

Namun…

Apakah pertanyaan itu bisa diberikan kepada semua orang?

Misalnya kepada HRD.

“Berapa uang yang kamu hasilkan bulan ini?”

Kepada bagian IT.

“Berapa keuntungan yang kamu bawa masuk?”

Kepada bagian Legal.

“Berapa omzet yang kamu hasilkan?”

Kepada satpam.

“Berapa pendapatan yang sudah kamu ciptakan?”

Tentu terasa janggal.

Bukan karena mereka tidak bekerja.

Tetapi karena memang bukan itu fungsi mereka.


Gaji Tidak Dibayar Karena Jabatan

Banyak orang mengira perusahaan menggaji seseorang karena jabatannya.

Padahal bukan.

Perusahaan menggaji seseorang karena berharap ada nilai yang diciptakan.

Seorang sales dibayar karena mampu meningkatkan penjualan.

Seorang HRD dibayar karena mampu menghadirkan SDM yang lebih baik.

Seorang IT dibayar karena mampu membuat pekerjaan lebih cepat, lebih aman, dan lebih efisien.

Seorang akuntan dibayar karena mampu menjaga keakuratan laporan dan mengurangi risiko kesalahan.

Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.

Maka value yang dihasilkan pun berbeda.


Gaji Adalah Investasi

Bayangkan perusahaan mengeluarkan Rp10 juta setiap bulan kepada seorang karyawan.

Sebenarnya perusahaan sedang melakukan investasi.

Sebagaimana investasi lainnya, tentu perusahaan berharap memperoleh return.

Namun return itu tidak selalu berupa keuntungan finansial.

Baca Juga  Peran Zakat di Tengah Krisis: Menggerakkan Ekonomi Umat

Ia bisa berupa:

  • meningkatnya produktivitas,
  • pelayanan yang lebih baik,
  • pelanggan yang lebih loyal,
  • sistem yang lebih stabil,
  • risiko yang lebih kecil,
  • proses kerja yang lebih cepat,
  • reputasi yang semakin baik,
  • hingga budaya kerja yang semakin sehat.

Semua itu adalah return.

Meskipun tidak selalu terlihat dalam laporan penjualan.


Pertanyaan yang Lebih Tepat

Daripada bertanya:

“Berapa uang yang sudah kamu hasilkan?”

Akan jauh lebih tepat jika perusahaan bertanya:

“Dengan gaji yang kami investasikan kepadamu setiap bulan, value apa yang sudah kamu berikan kepada organisasi?”

Perhatikan perbedaannya.

Pertanyaan pertama hanya cocok untuk sebagian kecil profesi.

Pertanyaan kedua berlaku untuk semua orang.

Sales.

Marketing.

HRD.

IT.

Operasional.

Keuangan.

Customer Service.

Legal.

Bahkan direktur sekalipun.

Semuanya seharusnya mampu menjelaskan value yang mereka hasilkan.


Value Tidak Selalu Berupa Uang

Misalnya seorang Customer Service.

Ia mungkin tidak menghasilkan penjualan.

Tetapi ia mampu menurunkan jumlah komplain pelanggan hingga 60%.

Bukankah itu value?

Seorang IT berhasil membuat sistem yang sebelumnya sering mengalami gangguan menjadi stabil.

Bukankah itu value?

Bagian operasional berhasil mempercepat proses pelayanan dari 30 menit menjadi 10 menit.

Bukankah itu value?

HRD berhasil menurunkan tingkat keluar-masuk karyawan sehingga perusahaan menghemat biaya rekrutmen.

Bukankah itu value?

Kalau semua itu hanya diukur dengan pertanyaan:

“Berapa uang yang kamu hasilkan?”

Maka perusahaan sedang menggunakan alat ukur yang keliru.


Yang Seharusnya Dievaluasi

Setiap divisi memang memiliki indikator keberhasilan yang berbeda.

Namun satu prinsipnya sama.

Setiap divisi harus mampu menjelaskan:

  • nilai apa yang mereka ciptakan,
  • masalah apa yang mereka selesaikan,
  • risiko apa yang mereka kurangi,
  • peluang apa yang mereka buka,
  • dan dampak apa yang mereka berikan bagi organisasi.

Itulah yang seharusnya menjadi dasar evaluasi.

Baca Juga  Tips Menggunakan Kartu Kredit untuk Mengoptimalkan Gaji

Bukan sekadar besar kecilnya gaji.


Gaji Besar Belum Tentu Mahal

Sering kali perusahaan berusaha menghemat biaya dengan melihat besarnya gaji.

Padahal, gaji yang tinggi belum tentu mahal.

Seorang karyawan bergaji Rp15 juta yang mampu menghemat biaya operasional Rp100 juta per tahun justru merupakan investasi yang menguntungkan.

Sebaliknya, seorang karyawan bergaji Rp5 juta yang tidak memberikan nilai apa pun bisa menjadi biaya yang jauh lebih mahal.

Karena yang menentukan mahal atau murah bukan nominal gajinya.

Melainkan perbandingan antara biaya yang dikeluarkan dengan value yang dihasilkan.


Ubah Cara Pandang

Daripada bertanya:

“Berapa gajimu?”

Mulailah bertanya:

“Value apa yang kamu hasilkan?”

Daripada bertanya:

“Apakah divisi ini menghasilkan uang?”

Lebih baik bertanya:

“Apakah divisi ini menciptakan nilai yang membuat perusahaan menjadi lebih baik?”

Karena perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menghasilkan pendapatan.

Perusahaan juga membutuhkan orang yang mampu menjaga kualitas, meningkatkan efisiensi, membangun kepercayaan, mengurangi risiko, dan menciptakan sistem yang membuat organisasi terus bertumbuh.


Setiap bulan, perusahaan mengeluarkan biaya untuk menggaji seluruh karyawannya.

Pertanyaannya bukanlah apakah setiap karyawan mampu menghasilkan uang secara langsung.

Melainkan apakah setiap karyawan mampu mengubah investasi yang diberikan perusahaan menjadi value bagi organisasi.

Karena pada akhirnya, perusahaan yang hebat bukanlah perusahaan yang hanya memiliki karyawan dengan omzet terbesar.

Perusahaan yang hebat adalah perusahaan yang mampu memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan untuk menggaji karyawannya kembali dalam bentuk nilai yang membuat organisasi semakin kuat, semakin efisien, dan terus bertumbuh.

Dalam dunia bisnis, perusahaan tidak menggaji orang untuk bekerja. Perusahaan menggaji orang untuk menciptakan value. Bekerja hanyalah aktivitasnya, sedangkan value adalah alasan mengapa perusahaan bersedia terus membayar.