Ketika Karyawan Lebih Memilih Curhat ke Luar, Ada yang Salah di Dalam

Ada satu indikator sederhana namun sangat jujur untuk menilai kesehatan sebuah lembaga:
kepada siapa karyawannya berani berbicara ketika ada masalah.

Ketika karyawan lebih memilih mencurahkan kegelisahannya ke luar—kepada teman, komunitas, bahkan media sosial—alih-alih kepada manajemen, sesungguhnya itu bukan sekadar persoalan “etika” atau “rahasia perusahaan”.
Itu adalah alarm keras bahwa komunikasi internal telah gagal menjalankan fungsinya.

Namun yang sering terjadi justru sebaliknya.
Alih-alih bertanya “mengapa mereka tidak berani bicara kepada kami?”, sebagian manajemen memilih bertahan, menutup diri, bahkan melontarkan peringatan dan ancaman:
“Jangan membicarakan masalah internal ke orang luar, itu melanggar etika, itu rahasia lembaga.”

Pertanyaannya: apakah masalahnya benar-benar pada mulut karyawan, atau pada telinga manajemen yang tidak pernah mau mendengar?


Curhat Bukan Masalah Utama, Ketakutanlah Masalah Sebenarnya

Karyawan tidak serta-merta memilih bicara ke luar tanpa sebab.
Dalam banyak kasus, itu lahir dari pengalaman berulang:

  • Pernah bicara, tapi dianggap pembangkangan

  • Pernah menyampaikan kritik, tapi dicap tidak loyal

  • Pernah jujur, tapi justru dipinggirkan

Lambat laun, karyawan belajar satu hal: diam di dalam lebih berbahaya daripada bicara di luar.

Di titik ini, curhat ke luar bukan bentuk pengkhianatan, melainkan mekanisme bertahan hidup secara psikologis.
Dan lembaga yang sehat seharusnya cukup dewasa untuk mengakui fakta ini, bukan menutupinya dengan dalih etika.


Ketika “Rahasia Perusahaan” Menjadi Tameng Anti-Introspeksi

Istilah “rahasia perusahaan” sejatinya dibuat untuk melindungi data strategis, bukan untuk membungkam suara manusia di dalamnya.
Namun dalam praktik, istilah ini sering dipelintir menjadi alat kekuasaan:

  • Kritik disebut pembocoran

  • Keluhan disebut pembangkangan

  • Kejujuran disebut ancaman

Padahal, lembaga yang kuat tidak runtuh karena dibicarakan, tetapi karena tidak pernah mau dibenahi.

Baca Juga  Keutamaan Puasa Ramadhan: Mengapa Bulan Ini Begitu Istimewa?

Menjaga nama baik lembaga tidak pernah bisa dipisahkan dari keberanian memperbaiki keburukan di dalamnya.


Ini Bukan Sekadar Manajemen, Ini Amanah

Dalam konteks lembaga syariah, persoalan ini jauh lebih serius.
Karena kita tidak hanya bicara soal kinerja, tetapi amanah, keadilan, dan akhlak kepemimpinan.

Islam tidak mengajarkan kepemimpinan yang anti kritik.
Rasulullah ﷺ justru membuka ruang dialog, menerima masukan, bahkan mengubah keputusan ketika nasihat itu benar.

Jika sebuah lembaga mengusung label syariah, tetapi:

  • takut mendengar keluhan internal

  • alergi terhadap kritik

  • dan lebih sibuk mengamankan citra daripada membangun keadilan

maka yang tersisa hanyalah syariah sebagai slogan, bukan sebagai ruh.


Pertanyaan yang Seharusnya Diajukan Manajemen

Daripada sibuk memperingatkan karyawan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk diajukan:

  • Apakah kami menyediakan ruang aman untuk bicara jujur?

  • Apakah setiap kritik selalu dibalas dengan evaluasi, bukan emosi?

  • Apakah struktur kami mendorong dialog, atau hanya kepatuhan?

  • Apakah kami ingin lembaga yang terlihat rapi, atau lembaga yang benar-benar sehat?

Karyawan yang berani bicara sesungguhnya adalah aset.
Yang berbahaya justru karyawan yang diam, patuh, tapi sudah tidak peduli.


Menutup Mulut Tidak Pernah Menyelesaikan Masalah

Masalah yang dibungkam tidak pernah hilang.
Ia hanya berpindah tempat: dari ruang rapat ke ruang curhat, dari internal ke eksternal, dari kecil menjadi besar.

Jika lembaga ingin benar-benar bertumbuh, terutama lembaga yang membawa misi syariah dan dakwah ekonomi, maka satu hal harus diakui dengan jujur:

Komunikasi yang sehat bukan ancaman, melainkan fondasi keberlanjutan.

Dan keberanian untuk berintrospeksi selalu lebih mulia daripada sibuk mempertahankan diri.